Loading...

Peningkatan Kinerja Penyuluh Melalui Monev GPPT se-Jawa Timur

Peningkatan Kinerja Penyuluh Melalui Monev  GPPT se-Jawa Timur
Pelaksana Gerakan Pemberdayaan Petani Terpadu (GPPT) se-Jawa Timur bertemu di Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Malang pada tanggal 9 Nopember 2016. Pertemuan yang dihadiri oleh ratusan pelaksana GPPT ini bertujuan untuk koordinasi dan sinkronisasi kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) pelaksanaan GPPT di wilayah Jatim. Turut hadir dalam pertemuan ini perwakilan dari Pusat Penyuluhan Pertanian, BPPSDMP, Dr. Rani Mutiara Chaidirsyah dan dibuka oleh Ketua STPP Malang, Dr Siti Munifah MSi selaku penanggung jawab Monev di Jatim."Pertemuan ini menyangkut evaluasi kinerja para penyuluh pertanian se-Jawa Timur," jelas Dr Ir Siti Munifah MSi, Ketua STTP Malang. Penyuluh Pertanian harus mengedepankan fungsi. Fokus tugasnya ada pada operasional yang berhubungan langsung dengan pendampingan, memotivasi, memfasilitasi petani dan kelompok tani, dalam hal budidaya, akses ke pemasaran dan permodalan serta menjembatani terbentuknya jejaring dengan stakeholder yang berhubungan pada kegiatan on farm maupun off farm," paparnya.Lebih lanjut Munifah menjelaskan, kegiatan pertemuan itu menjadi evaluasi penyuluh melalui ajang berbagi kendala di lapangan, serta memberikan saran dan masukan dalam rangka pembenahan kinerja penyuluh pertanian sesuai dengan amanat Permenpan Nomor 2 Tahun 2008 dan Permentan Nomor 91 Tahun 2013. Diungkapkan pula oleh Ketua STTP Malang adanya kekhawatiran mengenai status mereka sebagai tenaga penyuluh yang kelembagaannya sedang mengalami penataan sebagai dampak diberlakukannya Undang-Undang No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.Disela-sela acara Koordinator pelaksana kegiatan, Ir Umi Wahjuti MP menyampaikan bahwa untuk mengukur outuput, perlu dilakukan monitoring dan evaluasi. Monev ini ditugaskan kepada dosen dan widyaiswara. Meningkatnya kinerja penyuluh pertanian menjadi salah satu output dari pelaksanaan GPPT. Gerakan pemberdayaan ini dicanangkan Kementerian Pertanian untuk mendukung program Upaya Khusus (Upsus). Ditambahkan oleh Ir Umi Wahjuti MP, koordinasi dan sinkronisasi ini dilakukan karena hasil monev menunjukkan realisasi pelaksanaan GPPT masih rendah. Rendahnya realisasi ini disebabkan oleh kurangnya komunikasi, pemahaman dan koordinasi. Pertemuan ini, lanjutnya, menjadi wahana komunikasi, koordinasi, sinkronisasi data dan informasi, serta memberi masukan dan umpan balik terhadap program ke depan. (Nurlaily).