ABSTRAK
Padi merupakan komoditas strategis utama yang menentukan ketahanan pangan Indonesia, mengingat beras adalah makanan pokok bagi mayoritas penduduk. Meskipun Indonesia pernah mencapai swasembada, tantangan seperti alih fungsi lahan, perubahan iklim, dan peningkatan populasi terus menekan ketersediaan pangan nasional. Paper ini membahas pentingnya peningkatan produksi padi melalui strategi komprehensif yang melibatkan intensifikasi, ekstensifikasi, dan modernisasi pertanian. Peningkatan produksi yang berkelanjutan tidak hanya diukur dari volume, tetapi juga dari efisiensi usahatani, ketahanan terhadap hama/penyakit, dan stabilitas rantai pasok. Upaya terkoordinasi antara pemerintah, petani, dan inovasi teknologi adalah kunci untuk mencapai ketahanan pangan yang lestari dan berdaulat.
Kata kunci: Padi, Produksi Pertanian, Ketahanan Pangan, Swasembada
PENDAHULUAN
I. Konteks dan Urgensi Ketahanan Pangan
Ketahanan pangan didefinisikan sebagai kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi seluruh rakyat, yang tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup, aman, bergizi, dan merata. Di Indonesia, padi (beras) menyumbang porsi terbesar dalam pola konsumsi pangan. Menurut Kasryno dkk., (1998), indikator ketahanan pangan nasional adalah: (1) ketersediaan bahan pangan setiap waktu; (2) kemampuan atau daya beli masyarakat terhadap bahan pangan; (3) keterjaminan distribusi dan pasokan bahan pangan; dan (4) kemampuan mengimpor pada kondisi mendesak.
Karakteristik komoditi pangan yang mudah rusak, lahan produksi petani yang terbatas, sarana dan prasarana pendukung pertanian yang kurang memadai dan lemahnya penanganan panen dan pasca panen mendorong Pemerintah untuk melakukan intervensi dengan mewujudkan ketahanan pangan di berbagai sektor unggulan produksi pertanian (Lauma dan Sampe, 2019) .Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa produksi beras nasional seringkali berfluktuasi, bahkan cenderung menurun pada beberapa tahun terakhir (misalnya, penurunan produksi beras sebesar 2,05% pada 2023 dibandingkan 2022). Sementara itu, populasi terus bertambah, yang berarti permintaan konsumsi pangan juga meningkat. Kondisi ini, ditambah dengan ancaman perubahan iklim global, menempatkan peningkatan produksi padi sebagai prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional.
II. Strategi Peningkatan Produksi Padi
Tabel dan gambar ditulis dengan nomor berurutan. Penamaan tabel diletakkan di sisi atas tabel dengan format center, sedangkan penamaan gambar diletakkan di sisi bawah gambar dengan format center.
A. Strategi Intensifikasi (Peningkatan Produktivitas)
Strategi ini berfokus pada peningkatan hasil per hektare lahan yang sudah melalui penerapan teknologi maju:
2
1. Penggunaan Benih Unggul Bermutu: Penerapan benih varietas unggul baru (VUB) atau benih hibrida yang tahan terhadap hama (seperti Wereng Coklat) dan penyakit, serta toleran terhadap cekaman lingkungan (kekeringan atau salinitas).
2. Penerapan Sapta Usahatani: Meliputi pengolahan tanah yang baik, penggunaan benih unggul, irigasi teratur, pemupukan yang spesifik Lokasi, pengendalian hama terpadu (PHT), penanganan pascapanen yang efisien, dan pemasaran.
3. Modernisasi Teknik Tanam: Penerapan sistem tanam modern.
B. Pengamanan Produksi dan Pasca Panen
Peningkatan produksi tidak berarti tanpa perlindungan dari ancaman dan kerugian hasil:
1. Adaptasi Perubahan Iklim: Penerapan sistem peringatan dini (Early Warning System) untuk mengantisipasi banjir dan kekeringan.
2. Mekanisasi Pertanian: Peningkatan penggunaan alat dan mesin pertanian (Alsintan).
3. Penguatan Kelembagaan Petani: Meningkatkan peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Kelompok Tani (Poktan) dalam adopsi teknologi.
Gambar 1. Produksi padi untuk menopang ketahanan pangan
(1)
Kesimpulan
Peningkatan produksi padi merupakan prasyarat mutlak untuk menopang ketahanan pangan nasional yang berdaulat. Strategi yang efektif harus bersifat holistik, menggabungkan upaya intensifikasi (melalui teknologi varietas unggul dan pemupukan presisi), ekstensifikasi (melalui perlindungan lahan dan optimalisasi lahan baru), serta pengamanan produksi (melalui mekanisasi dan adaptasi iklim). Kunci keberhasilan terletak pada sinergi antar-pemangku kepentingan dan kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan usahatani petani.
DAFTAR PUSTAKA
Kasryno, F., A.M. Fagi, dan E. Pasandaran. 1998. Kebijakan Produksi Padi Dan Diversifikasi Pertanian. Jurnal Perencanaan Pembangunan Pertanian. 73-106.
Lauma, R., Pangemanan, S., & Sampe, S. 2019. Pengaruh Penerapan Prinsip-prinsip Good Governance terhadap Kualitas Pelayanan Publik (Suatu Studi di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Bolaang Mongondow Utara). Jurnal Eksekutif, 3(3).