Loading...

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS JAGUNG

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS JAGUNG
1.VARIETAS UNGGUL Diantara komponen tekhnologi produksi jagung, varietas unggul (varietas hibrida dan varietas komposit unggul) termasuk penggunaan bioteknologi, diantaranta varietas toleran kemasaman tanah dan kekeringan mempunyai peranan penting dan sangat signifikan dalam peningkatan hasil per satuan luas danh pendapatan petani sebagai salah satu komponen pengendalian hama/penyakit tanaman dan cekaman abiotis (kesimbangan hara, air dan kondisi bahan organik tanah. Persyaratan benih unggul bermutu antara lain (1) daya tumbuh > 80 %, (2) jelas asal usulnya, (3) murni tidak tercampur varietas lain, (4) mempunyai identitas, (5) tidak terkontomanisai penyakit tular benih, (6) ada perlakuan benih dengan matalaksil (2 g/kg benih). 2.PEMUPUKAN BERIMBANG Selain varietas unggul, komponen tekhnologi budidaya yang sangat menentukan produktivitas jagung adalah pemupukan. Kenyataan menunjukkan bahwa tingkat kesuburan lahan sangat beragam, sehingga jenis dan takaran pupuk juga bervariasi, bergantung pada jenis dan tingkat kesuburan tanah. -Pemupukan secara hemat dilakukan dengan : ¢Bagan Warna Daun (BWD) untuk menetapkan kebutuhan N BWD yang digunakan sama dengan yang diterapkan pada tanaman padi. ¢Peta status hara untuk menetapkan kebutuhan P dan K. -Untuk menambah hara K dapat diperiksa an sisa jerami padi setara 2 ton/ha. A.Pemupukan/Kebutuhan N tanaman dapat diketahui dengan cara mengukur tingkat kehijauan warna daun jagung menggunakan Bagan Warna Daun (BWD). 1.Awal pertanaman berumur ± 7-10 hari setelah tanam (HST), tanaman jagung diberi pupuk dasar N dengan takaran 75 kg urea/ha untuk jagung komposit dan 2.100 kg urea/ha untuk jagung hibrida bersamaan dengan pupuk SP-36 dan KCI. 3.Pada umur 25-30 hari dipupuk lagi sebanyak ± 125 kg urea/ha (komposit) dan 150 kg urea/ha (hibrida) sebagai pupul usulan I 4.Pemantauan/pengamatan tingkat kehijauan daun jagung dengan BWD dimulai pada saat tanaman berumur 40-50 HST (tergantung varietas jagung yang ditanam) sebagai pupuk susulan II. B.Pemupukan P dan K berdasarkan Status Hara Tanah Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) PUTS merupakan suatu perangkat untuk mengukur status hara P, K, dan pH tanah yang dapat dikerjakan secara langsung di lapangan dengan relatif cepat mudah dan cukup akurat. PUTS terdir dari pelarut )pereaksi) P, K, dan pH tanah serta peralatan pendukungnya. Prinsip kerja PUTS ini adalah mengukur hara P dan K tanah yang terddapat dalam bentuk terseia, secara semi kuantatif dengan metode kolorimetri (pewarnaan). Pengukuran status P dan K tanah dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu rendah ®, sedang (S), dan tinggi (T). Dari masing-masing kelas status P dan K tanah sawah telah dibuatkan acuan pemupukan P (dalam bentuk SP-36) dan K (dalam bentuk KCI) Pedoman yang dapat digunakan untuk menentukan waktu aplikasi/pemberian pupuk P dan K antara lain : Baik pada dosis rendah, sedang maupun tinggi, seluruh pupuk P diberikan sebagai pupuk dasar yaitu 7-10 HST Pada dosis rendah - sedang, seluruh K dapat diberikan sebagian pupuk dasar (7-10 HST) Pada dosis tinggi 50 % K diberikan sebagai pupuk dasar (7-10 HST) dan sisanya diberikan pada saat umur tanaman 25-30 HST sebagai pupuk susulan I 3.PENGENDALIAN OPT (Organisme Penganggu Tanaman) A.Pengendalian Gulma secara tepat Gulma merupakan himpunan jenis tanaman yang hidupnya atau tumbuhnya tidak dikehendaki manusia karena dianggap dan bisa merugikan hasil tanaman. Kerugian yang ditimbulkan oleh Gulma : ¢Persaingan perakaran dan pengambilan unsur hara tanah ¢Persaingan tajuk sinar matahari ¢Merupakan tanaman inang bagi OPT ¢Mengurangi efesiensi proses panen dan pengolahan hasil ¢Mengurangi efesiensi sistem irigasi karena dapat menyumbat saluran ¢Kenaikan biaya produksi karena menambah tenaga kerja dan waktu dalam pengolahan tanah, penyiangan dan pembersihan saluran irigasi. Pengendalian Gulma dengan cara : Pengolahan tanah sempurna Mengatur air di petakan lahan Menggunakan benih jagung yang bersetifikat Hanya menggunakan kompos sisa tanaman dan kompos pupuk kandang Menggunakan herbisida apabila infestasi gulma sudah tinggi Pengendalian gulma secara mekanis sepertii dengan alat penyiang sangat dianjurkan, oleh karena ini sinergi dengan pengolaan lainnya. B.Penegndalian Hama dan Penyakit secara Terpadu Hama dan penyakit merupakan cekaman biotis yang dapat mengurangi hasil dan bahkan dapat menyebabkan gagal panen, seperti : 1.Lalat Bibit 2.Penggerek Batang 3.Ulat Grayak 4.Penggerek Tongkol 5.Penyakit Bulai 6.Penyakit Karat 7.Penyakit Busuk Tongkol/Biji 4.PENGAIRAN / IRIGASI a.Pengairan untuk keprluan penanaman dan pemeliharaan tanaman jagung sangat diperlukan dalam jumlah yang cukup pada saat pertumbuhan vegetative aktif, berbunga, pembentukan tongkol, dan pengisian biji. b.Perhatikan ketersedian air selama musim tanam. Apabila sumber air tidak cukup menjamin selama satu musim. Maka lakukan pengairan bergilir dengan periode lebih lama sampai selang 5 hari. c.Pengairan dengan pemakain pompa air dilakukan tergantung kondisi lahan. Lakukan dengan pertimbangan sifat fisik tanah. Pada tanah berpasir dan cepat menyerap air, waktu pergiliran pengairan harus diperpendek d.Penggunaan pompanisasi dengan sumber air tanah pada lahan daerah pantai. Dianjurkan memakai pompa air dengan ukuran tidak lebih dari 3 inchi guna menghindari naiknya air garam ke lahan pertanian. e.Indikator waktu pemberian air, sebelum tengah hari daun sudah menggulung f.Pemberian air dihentikan 10 hari menjelang panen. 5.PANEN DAN PASCA PANEN Panen dan Pasca panen perlu ditangani secara tepat : Panen : -Waktu panen menentukan mutu biji jagung. Penen terlalu awal memberikan hasik panen dengan prosentase butir muda yang tinggi sehingga kualitas biji dan daya simpanannya rendah serta berpeluang terserang jamur. -Saat panen, kadar air biji pada tongkol ± 28 % -Penentuan waktu panen jagung biasanya dapat diketahui setelah umur panen ditandai dengan daun, batang sudah mulai mongering dan berwarna kecoklatan. -Daun dibawah tongkol dapat diambil untuk pakan ternak, saat tongkol berisi penuh (70-80 HST) -Daun diatas tongkol dapat dipabngkas pada saat kelobot sudah berwarna coklat -Tongkol panen 5-7 hari setelah pemengkasan daun diatas tongkol. Pengeringan : -Pengeringan adlah usaha penurunan kadar air jagung sampai nilai batas yang aman untuk disimpan. -Penjemuran yang umum dilakuakn adalah tanpa alas jemur, tongkol jagung langsung dihamparkan diatas tanah, tepi jalan aspal atau lantai jemur. Pemipilan -Pemipilan dapat dilakukan dengan cara manual dengan tangan, hal ini umunya dilakukan untuk penyediaan benih jagung. -Pemipilan jagung juga dapat dilakukan dengan alat sederhana dengan cara gosok maupun alat pemipill bertenaga mesin. Penyimpanan -Kondisi suhu ruang simpan 28?C kelembaban udara nisbi 70 % dan kadar air 14 % -Alat penyimpanan berupa silo dadri kayu yang berlapis seng didinding ddalamnya. Dengan kapsitas 1 ton.