Loading...

Peninjauan Lokasi Demplot Climate Smart Agriculture (CSA) Di Desa Mulyasari, Kecamatan Binong, Kabupaten Subang

Peninjauan Lokasi Demplot Climate Smart Agriculture (CSA) Di Desa Mulyasari, Kecamatan Binong, Kabupaten Subang
Kegiatan lanjutan dari Kunjungan World Bank adalah peninjauan lokasi demplot CSA di Desa Mulyasari, Kecamatan Binong, Kabupaten Subang. Selain peninjauan demplot, seluruh jajaran Tim World Bank mewawancarai petani yang telah menerima manfaat proyek SIMURP dan menerapkan teknik CSA, petani yang secara swadaya menerapkan teknik CSA di lahannya, petani yang belum menerapkan CSA di lahannya, Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A), dan Gabungan Perkumpulan Petani Pengguna Air (GP3A). Martin van Nieuwkoop selaku Direktur Global Urusan Pangan dan Pertanian, mengajukan pertanyaan kepada petani yang telah menerapkan CSA di lahannya mengenai keuntungan yang telah dirasakan dari program ini. Petani tersebut menjawab bahwa produksi dan produktivitas tanaman padinya meningkat. Selain itu, ia juga menyatakan bahwa semakin mengenal karakteristik tanaman padi, utamanya yang berhubungan dengan penggunaan airnya. Selain Martin, beberapa pertanyaan juga diajukan oleh anggota World Bank yang lain. Dina Umali-Deininger selaku Manajer Pangan dan Pertanian Regional Asia Timur dan Pasifik, mengajukan pertanyaan mengenai perolehan alat mesin pertanian (alsintan) yang digunakan oleh para petani yang menerapkan CSA dan Andre Rodrigues de Aquino selaku Pakar Lingkungan Senior untuk Indonesia-Timor Leste, bertanya perihal teknologi CSA yang dinilai paling penting bagi petani. Terakhir, Vikas Choudhary selaku Pakar Ekonomi Senior bertanya mengenai ada atau tidaknya penerapan CSA oleh petani yang berada di lokasi selain demplot dan alasan di balik adanya petani yang belum menerapkan CSA yang disebut menguntungkan. Sesi wawancara ini ditutup dengan peragaan drone pengendali OPT yang difasilitasi oleh Satuan Pelayanan BPTPH Wilayah 2 Kabupaten Subang. Drone ini menyemprotkan pestisida nabati berbahan dasar daun mindi yang dapat menghambat beberapa jenis hama padi untuk bertelur dan berkembang. Di akhir acara, Tim Teknis PPIU SIMURP Provinsi Jawa Barat berkesempatan melakukan wawancara dengan Martien van Nieuwkoop. Martien mengungkapkan harapannya terhadap masa depan penerapan SIMURP di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Barat agar dapat semakin masif dan petani dapat membangun agribisnis melalui pupuk organik dan pestisida nabati yang diproduksi sendiri dan tersertifikasi sehingga tidak hanya mengandalkan pendapatan dari menanam padi. Selain itu, kontribusi dari lahan yang menerapkan pengairan berselang juga bisa turut berkontribusi pada perdagangan karbon. World Bank siap untuk terus memberikan dukungan utamanya dari segi pembiayaan selama hubungan kerjasama dengan Pemerintah Indonesia tetap terjalin. Author: Nurhayati Puspitarini & Kevin Derrian F. (Penyuluh Pertanian Provinsi Jawa Barat)