Loading...

Penjarangan Anakan, Penyulaman dan Pengendalian Gulma pada Tanaman Sagu

Penjarangan Anakan, Penyulaman  dan Pengendalian Gulma pada Tanaman Sagu
Penjarangan: Tanaman sagu yang tumbuh akan membentuk anakan baik dari pangkal batang maupun stolonnya. Jumlah anakan tergantung pada jenis, kesuburan tanah dan intensitas cahaya matahari. Bibit sagu yang ternaungi dan tidak mendapat cahaya matahari , pertumbuhannya sangat lambat dan akan kalah bersaing dengan gulma di sekitarnya. Tanpa penjarangan anakan pertumbuhan tanaman sagu akan lambat, kadar patinya rendah, pemeliharaan tanaman khususnya pemupukan tidak efisien dan mempersulit pada saat pemanenan. Agar tanaman sagu dapat berkembang dengan baik maka dalam satu rumpun maksimal terdapat 10 tanaman dengan berbagai tingkat umur. Dalam 1- 2 tahun hanya diperbolehkan satu anakan sagu yang boleh tumbuh. Dengan. demikian dalam 1-2 tahun akan dipanen 1 pohon sagu. Penjarangan perlu dilakukan terhadap tanaman sagu yang telah mempunyai anakan. Penjarangan dilakukan untuk menjaga kesehatan dan vigor pertumbuhan bagi tanaman. Disamping itu juga untuk meminimalisasi kompetisi antara pohon induk dengan anakan dalam mendapatkan unsur hara, air, sinar matahari dan ruang tumbuh. Persaingan tersebut dapat menyebabkan kandungan pati dalam batang sagu berkurang dan menghambat pertumbuhan batang utama yang mengakibatkan produksi akan menurun (berkurang). Mekanisme penjarangan: 1) Pada tanaman sagu yang berumur kurang dari 2 tahun, semua anakan yang ada dipotong; 2) Tanaman yang berumur 2 tahun, anakan yang ada disisakan 1 anakan, selebihnya dibuang, sedangkan yang berumur lebih dari 2 tahun setiap 2 tahun berikutnya disisakan 1 anakan sehingga diperkirakan jumlah anakan yang ada sampai pohon induk bisa panen sebanyak 5 sampai 6 anakan. Dengan demikian dalam setiap rumpun sagu dapat dipanen sekali dalam dua tahun. 3) Anakan yang dibuang adalah benar-benar anakan sagu, bukan daun/pelepah sagu. 4) Anakan sagu dipotong secara miring dari atas ke bawah dengan sudut kemiringan 45 0 dengan tujuan supaya pohon induk tidak terluka sewaktu pemotongan anakan tersebut. 5) Pemotongan menggunakan alat penebangan yang tajam. Penyulaman: Sebelum dilakukan penyulaman perlu dilakukan sensus yang dilakukan tiga bulan setelah tanam, untuk menghitung jumlah bibit yang mati dan hidup serta mengenali faktor yang menyebabkan kematian bibit. Penyulaman bertujuan untuk mengganti tanaman yang mati dengan tanaman baru. Umur bibit yang digunakan untuk penanaman sama dengan umur tanaman yang akan disulam. Penyulaman pertama dijalankan setelah bibit berumur 2-3 bulan dan penyulaman tahap ke dua dilakukan 3 bulan setelah penyulaman pertama. Pengendalian Gulma (Penebasan Lorong) Penebasan lorong berfungsi sebagai sanitasi tanaman dengan cara menebas semua semak (gulma) hingga rata dan kayu-kayu yang tumbuh liar di jalur tanaman atau di dalam lorong pertanaman sagu yang menghalangi kegiatan pemeliharaan selanjutnya. Penebasan dapat mengurangi persaingan antara tanaman sagu dan gulma di sekitar rumpun sagu dalam pengambilan air, unsur hara, sinar matahari, dan ruang tumbuh sehingga memberikan kesempatan bagi tanaman sagu untuk tumbuh dan berkembang. Penebasan dibagi menjadi 3 jenis yaitu penebasan lorong, penebasan bersih dan penebasan piringan. Penebasan lorong dan penebasan bersih dilakukan sesuai kebutuhan, namun yang sering dilakukan adalah penebasan lorong karena lebih efisien dan efektif bila dibandingkan dengan penebasan bersih. Penebasan bersih pada umumnya dilakukan pada jalan sekeliling petak, sedangkan penebasan piringan dilakukan pada petak-petak penelitian. Penebasan Lorong dilakukan dengan menebas dan memotong gulma atau tanaman yang dilakukan dengan cara menebas dan memotong gulma atau tanaman pengganggu di sepanjang lorong atau jalur tanaman sagu dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Lebar tebasan lorong 2 meter; 2) Gulma ditebas sampai ketinggian 10-15 cm dari permukaan tanah; 3) Tebasan lorong tidak putus-putus sepanjang lorong atau jalur tanaman; 4) Tebasan harus simetris dengan tanaman sagu ( tanaman sagu tepat di tengah lebar lorong yang ditebas). Tebas lorong mulai dilakukan pada saat tanaman berumur lima bulan dengan rotasi tebas tiga bulan sekali. Tebas lorong menggunakan parang dengan lebar tebasan 2 meter. Tebas piringan dilakukan pada tanaman berumur 5 tahun atau lebih. Pada tebas piringan lebih ditekankan pada piringan di sekitar rumpun tanaman sagu. Penulis: Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian. Sumber: Bercocok tanam sagu. Penulis: Prof. Dr. Ir. H. M. Bintoro, MM. Agr. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor bekerjasama dengan Universitas Tokyo. 2008