Salah satu masalah dalam peningkatan produksi padi adalah terjadinya serangan penyakit blas yang disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea. Pada mulanya penyakit blas merupakan penyakit penting tanaman padi pada lahan kering, tetapi akhir-akhir ini penyakit blas banyak ditemukan pada tanaman padi sawah di sebagian wilayah Kecamatan Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Hal ini disebabkan oleh munculnya jamur Pyricularia grisea ras baru yang mampu beradaptasi dan berkembang pada ekologi padi sawah irigasi maupun tadah hujan. Meningkatnya penggunaan pupuk N, serta penanaman varietas yang tidak memiliki ketahanan terhadap penyakit ini juga ikut berperan. Perkembangan penyakit blas dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya iklim makro dan mikro (musim, suhu dan kelembapan), cara budi daya, lokasi, waktu tanam, dan varietas padi. Penurunan hasil karena penyakit ini bervariasi dari ringan hingga berat tergantung pada intensitas penyakit. Pengendalian penyakit blas yang dianjurkan adalah pengendalian secara terpadu yaitu dengan memadukan berbagai cara pengendalian yang dapat menekan perkembangan penyakit, diantaranya teknik budi daya, penanaman varietas tahan, dan penggunaan fungisida bila diperlukan. Penanaman varietas tahan merupakan komponen utama dan merupakan cara yang paling efektif, ekonomis, dan mudah dilakukan, namun dibatasi oleh waktu dan tempat, artinya tahan di satu waktu dan tempat, bisa rentan di waktu dan tempat lain. Hal ini disebabkan pathogen penyakit blast, memiliki keragaman genetik dan kemampuan beradaptasi yang tinggi sehingga dengan cepat mematahkan ketahanan varietas yang baru diperkenalkan. Oleh karena itu, penanaman varietas tahan harus didukung oleh komponen teknik pengendalian lain. Penanaman varietas tahan harus disesuaikan dengan keberadaan ras di suatu tempat, untuk itu monitoring keberadaan ras di suatu agroekositem sangat diperlukan. Jamur patogen P. grisea mampu menyerang tanaman padi pada berbagai stadia pertumbuhan dari benih sampai fase pertumbuhan malai (generatif). Pada tanaman stadium vegetatif biasanya patogen menginfeksi bagian daun, disebut blas daun (leaf blast). Pada stadium generatif selain menginfeksi daun juga menginfeksi leher malai disebut blas leher (neck blast). Infeksi patogen juga dapat terjadi pada bagian buku tanaman padi yang menyebabkan batang patah dan kematian yang menyeluruh pada batang atas dari buku yang terinfeksi. Kerugian hasil akibat penyakit blas sangat bervariasi tergantung kepada varietas yang ditanam, lokasi, musim, dan teknik budi daya. Pada stadium vegetatif penyakit blas dapat menyebabkan tanaman mati dan pada stadium generatif dapat menyebabkan kegagalan panen hingga 100%. Cara pengendalian penyakit blas dapat dilakukan dengan berbagai cara di antaranya dengan teknik budi daya, penanaman varietas tahan, dan penggunaan fungisida. Oleh karena itu pengendalian penyakit blas yang dianjurkan adalah secara terpadu dengan memadukan beberapa cara pengendalian yang kompatibel. Adapun teknik pengendalian penyakit blas secara terpadu berdasar sifat epidemiologi patogen, meliputi: (1) pengendalian alamiah dengan merekayasa teknik budi daya yaitu menanam benih dan bibit sehat, mengatur waktu tanam yang tepat, mengatur cara tanam dan pemupukan, eradikasi lingkungan dari inang alternatif patogen dan memanfaatkan jerami sebagai kompos; (2) menanam varietas tahan sesuai dengan keberadaan ras patogen, dan (3) pengendalian hayati dan kimiawi. Penyebab Dan Gejala Penyakit Blas Jamur Pyricularia grisea (Cooke) termasuk dalam kelompok Ascomycetes. Secara morfologi jamur ini mempunyai konidia berbentuk bulat lonjong, tembus cahaya dan bersekat dua atau mempunyai tiga ruangan. Penyakit blas umumnya menyerang tanaman padi pada bagian daun dan leher malai. Penyakit blas yang menyerang daun disebut sebagai blas daun dan yang menyerang leher malai disebut blas leher atau di masyarakat Kecamatan Kroya disebut dengan teklik/patah leher. Perkembangan penyakit blas adalah sebagai berikut, bentuk khas dari bercak blas adalah elips dengan ujungnya agak runcing seperti belah ketupat. Bercak yang telah berkembang, bagian tepi berwarna coklat dan bagian tengah berwarna putih keabu-abuan. Bentuk dan warna bercak bervariasi tergantung pada keadaan sekitarnya, kerentanan varietas, dan umur bercak. Bercak bermula kecil berwarna hijau gelap, abu-abu sedikit kebiru-biruan. Bercak ini terus membesar pada varietas yang peka, khususnya bila dalam keadaan lembab. Bercak pada daun varietas peka tidak membentuk tepi yang jelas, lebih-lebih dalam keadaan lembab dan ternaungi. Bercak tersebut dikelilingi oleh warna kuning pucat. Bercak tidak akan berkembang dan tetap seperti titik kecil pada varietas yang tahan. Infeksi pada leher malai menyebabkan pangkal malai menjadi busuk berwarna coklat keabu-abuan mengakibatkan malai patah dan gabah hampa (Gambar 1). Faktor kelembanan sangat penting untuk timbulnya gejala blas, baik pada daun maupun pada leher malai. Penyebaran spora terjadi selain oleh angin juga oleh benih dan jerami sakit. Jamur P. oryzae mampu bertahan dalam sisa jerami dan gabah sakit. Dalam keadaan kering dan suhu kamar, spora masih bertahan hidup sampai satu tahun sedangkan miselia mampu bertahan sampai lebih dari tiga tahun. Sumber inokulum primer di lapangan umumnya adalah jerami. Sumber inokulum benih umumnya memperlihatkan gejala awal dalam persemaian. Untuk daerah tropis, sumber inokulum selalu ada sepanjang tahun karena adaanya spora di udara dan tanaman inang lain selain padi. Teknologi Pengendalian Pengendalian penyakit blas di Kecamatan Kroya Kab. Cilacap yang dianjurkan yaitu pengendalian secara terpadu dengan memadukan berbagai cara yang dapat menekan perkembangan penyakit seperti teknik budi daya, penanaman varietas tahan, dan pengendalian secara kimiawi. Teknik Budi Daya Penanaman Benih dan bibit sehat Waktu tanam yang tepat Cara tanam Sanitasi lingkungan Pemakaian jerami sebagai kompos Pemupukan Penanaman Varietas Tahan Varietas tahan berfungsi sebagai komponen utama dalam pengendalian penyakit blas secara terpadu. Penggunaan varietas tahan merupakan cara yang sangat efektif dan efisien untuk mengendalikan penyakit blas. Namun teknologi ini dihambat oleh adanya virulensi patogen yang sangat beragam dan kemampuan patogen membentuk ras (patotipe) baru yang lebih virulen sehingga sifat ketahanan varietas mudah terpatahkan. Oleh karena itu tidak dianjurkan penanaman satu varietas dalam areal yang luas secara terus menerus karena akan memercepat terbentuknya strain baru yang akan mamatahkan ketahanan varietas yang bersangkutan. Dalam suatu hamparan dianjurkan ditanam beberapa varietas yang memiliki tingkat ketahanan yang beragam. Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Penelitian Tanaman Padi telah menghasilkan varietas unggul baru (VUB) yang memiliki ketahanan terhadap beberapa ras patogen blas. Varietas Jatiluhur, Limboto, Danau Gaung, Batutegi, Situ Patenggang, Inpago4, Inpago5, dan Inpago 6 adalah varietas-varietas padi gogo yang tahan terhadap penyakit blas. Sedangkan padi sawah irigasi, varietas Inpari 11, varietas Inpari 12, varietas Inpari 13. Padi rawa, varietas Inpara 3. Padi gogo, Inpago. Varietas-varietas tersebut dapat dianjurkan untuk mengendalikan penyakit blas. Pengendalian Penyakit Blas Secara Hayati dan Kimiawi Penggunaan fungisida merupakan alternatif bila teknik lain tidak efektif. Hal ini mengingat fungisida harganya mahal dan penggunaan fungisida agar efektif dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Penggunaan fungisida harus dilakukan tepat sasaran, jenis, dosis, waktu dan cara aplikasi. Efikasi fungisida untuk pengobatan benih hanya bertahan 6 minggu dan selanjutnya perlu dilakukan penyemprotan lanjutan. Hasil percobaan yang telah dilaksanakan di Kecamatan Kroya Kab. Cilacap pada beberapa musim menunjukkan beberapa fungisida yang efektif terhadap P. oryzae, antara lain Benomyl 50 WP, Mancozeb 80%, Carbendazim 50%, Isoprotiolan 40%, dan difenoconazol 25%. Untuk menekan populasi blas sebelum menyerang leher, perlu dilakukan penyemprotan fungisida minimum 2 kali yaitu pada saat anakan dan awal berbunga. Penggunaan fungisida dengan perlakuan benih. Pengendalian penyakit blas lebih efektif apabila dilakukan sedini mungkin. Karena patogen P. oryzae dapat ditularkan melalui benih, maka perlu dilakukan pengobatan benih terutama dengan fungisida sistemik. Perlakuan gabah dengan fungisida dapat menekan tingkat infeksi P. grisea pada gabah mencapai 100 persen. Pengobatan benih dapat dilakukan dengan cara perendaman benih (soaking) atau pelapisan benih. Cara pelapisan. Cara ini lebih efektif dibandingkan cara perendaman dalam hal pemakaian air, sehingga lebih cocok untuk lahan kering (gogo) (Sudir 2012). Benih dibasahi dengan cara merendam beberapa jam, kemudian ditiriskan sampai air tidak menetes lagi. Fungisida dengan dosis tertentu dicampur dengan gabah basah dan dikocok sampai merata, gabah dikeringanginkan, selanjutnya siap ditanam.