PENDAHULUAN Kedelai merupakan salah satu tanaman kacang-kacangan yang mempunyai manfaat mutiguna, sebagai bahan pangan, pakan maupun bahan baku industri pengolahan susu, kecap, tempe dan tahu. Kedelai merupakan sumber protein nabati yang murah dan mudah diperoleh, sehingga membuat kedelai semakin diminati. Kedelai utuh mengandung 35 sampai 38% protein tertinggi dari kacang-kacangan lainnya. Sebagian besar kebutuhan protein nabati dapat dipenuhi dari kacang kedelai, salah satu produk olahan kedelai adalah tempe. Permintaan kedelai semakin lama semakin meningkat seiiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Namun produksi kedelai masih belum mencukupi kebutuhan dalam negeri, dikarenakan produktivitas kedelai ditingkat petani masih rendah. Salah satu faktor rendahnya produktivitas adalah serangan organisme pengganggu tanaman. Penyakit bercak daun merupakan salah satu penyakit penting utama pada tanaman kedelai. Penyakit karat dapat menurunkan hasil karena daun-daun yang terserang akan mengalami defoliasi lebih awal sehingga akan mengakibatkan berkurangnya berat biji dan jumlah polong yang bervariasi antara 10-90%, tergantung pada fase perkembangan tanaman, lingkungan dan varietas kedelai. PENYEBAB PENYAKIT KARAT DAUN Penyakit karat daun disebabkan oleh cendawan Phakopsora pachyrhizi. Jenis penyakit ini menyerang tanaman kedelai yang umumnya belum tua, dan bisa menyebakan hampanya polong. Pada serangan yang berat, daun-daunnya rontok. Apabila tanaman yang terserang ini disentuh, sporanya akan beterbangan, kemudian akhirnya hinggap menyerang tanaman yang masih sehat. Di samping karena sentuhan, spora tersebut bisa terbawa oleh angina. Cendawan P. pachyrhizi merupakan parasit obligat. Jika di lapangan tidak terdapat tanaman kedelai, spora hidup pada tanaman inang lain. Spora hanya bertahan 2 jam pada tanaman bukan inang.spora tidak dapat bertahan pada kondisi kering, jaringan mati atau tanah. Jika tidak ada tanaman kedelai, gulma yang termasuk ke dalam family Leguminosae dapat menjadi tanaman inang alternatif. GEJALA SERANGAN PENYAKIT KARAT DAUN Serangan penyakit karat daun pada kedelai menyebabkan pada daun terdapat bercak kecil berwarna coklat kemerahan mirip karat yang berisi kumpulan uredia. Bercak mulai terlihat pada daun bagian bawah. Bercak tersebut kemudian berubah menjadi coklat atau coklat tua dan membentuk bisul-busil (pustule). Pustul yang telah matang akan pecah dan mengeluarkan tepung yang warnanya seperti karat besi. Tepung tersebut merupakan kantung-kantung spora yang disebut uredium dan berisi uredospora. Penyakit berkembang cepat pada saat tanaman mulai berbunga. Serangan yang parah menyebabkan daun gugur, dan biji mengalami pemasakan lebih awal. Bentuk bercak umumnya bersudut banyak dan berukuran sampai 1 mm. Bercak juga terlihat pada batang dan tangkai daun. PERKEMBANGAN PENYAKIT KARAT DAUN Serangan penyakit bermula dari bawah, kemudian berkembang ke daun bagian atas dengan bantuan percikan air atau terbawa angin. Kelembaban udara yang sangat tinggi (>90%) selama lebih dari 12 jam, dan suhu malam hari 20-25 °C sangat sesuai bagi perkembangan penyakit. Tanaman inang selain kedelai antara lain adalah kacang gude, koro pedang, orokorok (Crotalaria), koro, buncis, kacang panjang, dan tanaman kacang-kacangan lainnya. PENGENDALIAN PENYAKIT KARAT DAUN Menanaman varietas toleran Menanam varietas kedelai yang tahan penyakit karat merupakan cara pengendalian yang murah, mudah dilaksanakan, dan tidak mencemari lingkungan. Beberapa varietas yang toleran adalah Burangrang, agak tahan Tanggamus, Kaba, Sinabung dan Anjasmoro.. Varietas yang toleran dapat terinfeksi patogen karat, tetapi masih dapat meng hasilkan biji. Varietas dengan kategori agak tahan memiliki ketahanan terhadap penyakit karat yang berada antara tahan dan agak rentan. Apabila menanam varietas yang agak tahan, perlu dipadukan dengan cara pengendalian lain, misalnya dengan fungisida nabati. Pengendalian pada varietas toleran dilakukan jika intensitas serangan telah mencapai 5%, tetapi pada varietas rentan, keberadaan satu bercak saja dalam areal pertanaman kedelai sudah harus dilakukan upaya pengendalian Tanam serempak. Rotasi tanaman dengan tanaman bukan inang. Aplikasi fungisida nabati Pengendalian dengan fungsiida nabati mempunyai keungggulan karena lebih murah dari fungsida kimia dan tidak mencemari lingkungan. Pengendalian dengan fungisida nabati dimaksudkan untuk mengurangi jumlah inokulum awal, karena inoculum awal memicu ledakan suatu penyakit. Penggunaan minyak cengkeh dapat menghambat intensitas serangan penyakit karat. Dari hasil penelitian Balitkabi, intensitas serangan penyakit karat pada tanaman umur 65 HST di rumah kaca dan 78 HST di lapangan dengan aplikasi minyak cengkeh hanya 5% - 21,60%, sedangkan yang tidak diaplikasikan minyak cengkeh intensitas serangan berturut-turut mencapai 73% dan 34%. Aplikasi minyak cengkeh ini akan efektif bila dilakukan setiap interval 5 hari sekali. Daun tanaman kedelai yang diberi perlakuan minyak cengkeh secara visual tampak sehat dan tidak terdapat atau sedikit gejala penyakit karat, sedangkan daun tanpa perlakuan minyak cengkih terdapat gejala penyakit karat. Selain minyak cengkeh dapat juga digunakan daun sirih (100 gr daun sirih dicuci dan dibelender dicampur dengan air 1 liter dan 100 gr kanji) yang kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu kamar, kemudian disaring dan siap digunakan. Larutan sirih diaplikasikan pada umur 4 minggu setelah tanam (MST) – 12 MST. Aplikasi Agens Hayati Pengendalian dengan agens hayati dimaksudkan dengan mengaplikasikan mikroorganisme antagonis dari penyebab penyakit. Keunggulan cara pengendalian tersebut adalah tidak mencemari lingkungan dan dengan satu kali aplikasi, efek residunya dapat bertahan lama, sampai beberapa musim tanam. Mikroorganisme antagonis yang sering digunakan untuk mengendalikan penyakit karat adalah bakteri Bacillus dan cendawan Verticillium. Pengendalian mikroorganisme antagonis pada kondisi pertanaman kedelai yang terik panas, kemungkinan keberhasilannya rendah, namun dapat di antisipasi melalui cara aplikasinya, misalnya diaplikasi pada waktu sore hari . Waktu sore sampai pagi hari berikutnya memberi peluang kepada mikroorganisme antagonis untuk masuk ke dalam jaringan tanaman. Selanjutnya, setelah aplikasi agens hayati, tanah diairi agar lingkungan menjadi lembap. Penggunaan bakteri sebagai agens antagonis juga berpeluang untuk pengendalian penyakit karat karena bakteri masuk ke dalam jaringan tumbuhan dan mengikuti transportasi cairan di dalam sel tanaman sehingga tidak terkena panas matahari secara langsung Aplikasi fungisida berbahan aktif triadimefon dan mankozeb Aplikasi fungisida dilakukan apabila cara-cara lain yang digunakan tidak dapat mengendalikan penyakit karat ini. DAFTAR PUSTAKA. Inayati, A dan E. Yusnawan, 2017. Identifikasi Penyakit Utama Kedelai dan Pengendaliannya. Bunga Rampai Teknik Produksi Benih Kedelai. ISBN: 978-602-344-178-5. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Maulz, 2015. Penyakit Karat oleh Cendawan Phakopsora pachyrhizi pada Daun Kedelai. https://maulzxxx. wordpress.com/2015/01/25/penyakit-karat-oleh-cendawan-phakopsora-pachyrhizi-pada-daun-kedelai/ Pusat Penelitian Tanaman Pangan, 2006. Hama, Penyakit dan Masalah Hara Tanaman Kedelai. Identifikasi dan Pengendaliannya. Badan Penelitioan dan Pengembangan Pertanian. Sumartini, 2010. Penyakit Karat Pada Tanaman Kedelai dan Pengendaliannya Yang Ramah Lingkungan. Jurnal Litbang Pertanian, 29 (3) 2010. Penyusun : Ir. Sari Nurita (Penyuluh BPTP Kalimantan Barat)