Salah satu kendala dalam upaya meningkatkan dan mempertahankan kestabilan produksi jagung adalah gangguan penyakit. Tanaman yang terinfeksi penyakit tidak dapat melakukan aktifitas fisiologis secara sempurna yang mengakibatkan tidak optimalnya produksi jagung baik mutu maupun jumlah produksinya. Spora cendawan yang tumbuh pada bagian tanaman akan menghambat proses fotosintesis sehingga pertumbuhan melambat dan produksinya rendah. Penyakit karat daun pada jagung berpotensi mengganggu kestabilan produksi jagung. Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Puccinia polysora dan Puccinia sorghil. Penyakit karat ini termasuk endemis dan seringkali menjadi penyebab utama rendahnya produksi jagung. Oleh karena itu sifat ketahanan terhadap penyakit karat daun menjadi salah satu persyaratan untuk membudidayakan tanaman ini. Penyakit ini menginfeksi jagung pada fase pertumbuhan generatif hingga masa panen terutama pada daun tanaman. Jika tingkat serangannya berat maka infeksi mencapai seludang daun dan tongkol. Kehilangan hasil akibat penyakit ini antara 45% hingga 70% tergantung intensitas serangan dan dukungan faktor cuaca ekstrim. Kondisi panas dan lembab dibutuhkan untuk bertahan hidup dan pemencaran bibit pathogen. Spora musiman (urediospora) berkecambah pada kisaran suhu optimum sekitar 23 °C - 28 °C dan bibit penyakit (pathogen) tidak mampu bertahan pada suhu di bawah 20 0C. Jamur Puccinia polysora dengan mudah menyebar di daerah tropis dan subtropics karena sensitif terhadap suhu. Intensitas serangan penyakit karat di pertanaman jagung berkisar dari 26,67% sampai 90,91 % dengan kriteria sedang sampai sangat berat. Penyakit menyerang daun sebelah bawah sampai daun ke atas sehingga tersisa daun muda di bagian atas. Serangan penyakit karat sangat berkaitan dengan kelembaban penyakit menyukai kondisi lembab dan kondisi ternaungi. Jamur Puccinia polysora tidak bertahan hidup pada sisa tanaman terinfeksi yang tinggal di lahan. Infeksi selama musim penanaman tergantung atas spora yang tertiup angin. infeksi jamur ke tanaman diawali dari spora kembara (urediospora) yang merupakan inokulum pertama baik permulaan maupun selama musim tanam. Budidaya tanaman jagung secara kontinu tanpa adanya pergiliran tanaman mengakibatkan sumber inokulum awal penyakit. Urediospora disebarkan oleh angin dan percikan air hujan ke tanaman jagung segar. Pada kondisi yang menguntungkan karat Polysora dapat menyebar secara cepat dan menyebabkan terjadinya infeksi baru dalam tujuh hari. Mengingat sebaran penyakit karat pada pertanaman jagung sedemikian cepat maka penyuluhan terkait biologi, dominasi spesies, virulensi, pengaruh cekaman abiotik, inang alternative yang spesifik untuk iklim tropis, dan varietas tahan perlu disampaikan sebagai basis pengetahuan bagi petani dalam upaya pengendaliannya. Oleh sebab itu memberikan penyuluhan kepada petani jagung merupakan salah satu aksi tanggap yang dilakukan Penyuluh Pertanian melalui pembinaan teknis kepada petani. Dengan harapan petani semakin memahami teknik mengatasi penyakit karat daun pada tanaman jagung sehingga produktivitas hasil dan pendapatan mereka meningkat. Kondisi kelembaban dan keberagaman komoditas berpotensi memicu munculnya penyakit karat pada tanaman jagung. Diketahui bahwa jamur umumnya berkembang dengan pada kondisi kelembaban yang optimal yang mendukung pertumbuhan sporanya. Penyakit karat pada jagung hanya membutuhkan 6 jam atau lebih untuk berkembang dalam kondisi kelembaban relatif > 95% atau kondisi daun basah untuk perkecambahan spora dan infeksi. Spora kembara (uridiniospora) dibentuk dalam kantung jamur (pustule) menyebabkan infeksi sekunder terulang kembali dan mungkin dihasilkan berlimpah. Demikian juga halnya dengan keberadaan pepohonan atau tanaman besar di sekitar pertanaman jagung yang menjadikan tanaman ternaungi atau lahan yang banyak gulma. Gulma dapat menjadi rumah yang baik bagi jamur oleh karena itu pengendalian gulma juga penting dilakukan. Penyakit karat ini selain menyerang tanaman jagung juga dapat menyerang beberapa jenis gulma dan pakan ternak seperti Euclaena mexicana, Tripsacum lanceolatum, Tripasum pilosum, dan Erianthus alopecoroides. Rerumputan ini dapat menjadi rumah sementara bagi penyakit karat selama tanaman jagung ditanam di lapangan dan rerumputan ini juga berpotensi sebagai penyebar penyakit pada musim tanam jagung berikutnya. Apabila ditemukan gulma jenis ini atau disekitar pertanaman jagung maka segera dimusnahkan. Pengendalian gulma merupakan usaha yang ditujukan guna menekan laju perkembangbiakan gulma agar tidak mengganggu tanaman jagung. Gulma di lahan pertanian tidak harus selalu dikendalikan dari awal sampai panen. Pengendalian harus dilakukan pada waktu yang tepat sehingga biaya, waktu, dan tenaga dapat lebih hemat. Waktu yang tepat untuk mengendalikan gulma adalah saat periode kritis tanaman yaitu pada saat tanaman sangat peka terhadap faktor lingkungan. Periode ini biasanya terjadi umur 1/4 atau 1/3 sampai 1/2 umur tanaman. Pengendalian dapat dilakukan melalui mengaplikasikan herbisida dengan tetap memperhatikan rambu pengendalian gulma. Penyakit karat daun disebabkan oleh cendawan Puccinia polysora. Jamur ini berkembang dengan baik di musim hujan maupun musim kemarau apabila kelembaban pada lahan pertanaman cukup tinggi hanya saja bahwa infeksi jamur akan berkembang lebih cepat pada waktu musim penghujan. Gejala yang ditimbulkannya berupa munculnya bercak-bercak berukuran kecil yang diawal oleh munculnya flek kecil pada permukaan atas dan bawah daun. Bercak karat daun ini umumnya berbentuk bulat atau oval. Karat daun dapat menyerang tanaman jagung yang ditanam di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Flek kecil muncul di kedua sisi daun dan perlahan berkembang menjadi bercak bercak kecil dan bawah. Warna flek dapat berubah menjadi hitam saat tanaman matang. Berlawanan dengan penyakit jagung lainnya gejala biasanya tidak muncul pada bagian lain tanaman seperti tangkai, daun pelindung atau kulit ari. Namun, tangkai cenderung tumbuh lemah dan lunak serta rentan rubuh. Jaringan daun yang lebih muda akan lebih rentan terhadap infeksi jamur dibandingkan daun tua. Tanaman yang terinfeksi pada tahap awal dapat menunjukkan klorosis daun dan kematian yang menyebabkan kerugian hasil yang besar jika daun di bagian atas tanaman terpengaruh. Komponen teknologi yang dapat dilakukan dalam upaya pengendalian penyakit karat ini adalah: Menanam varietas yang tahan karat Pengendalian penyakit dengan menanam varietas tahan karat merupakan teknik yang mudah penerapannya biayanya murah dan ramah terhadap lingkungan. Menanam varietas tahan dimaksudkan untuk menekan serangan penyakit sehingga tidak menimbulkan kerugian secara ekonomi atau kehilangan hasil yang relatif kecil. Menanam varietas tahan merupakan teknik pengendalian penyakit karat yang paling efektif dan efisien dibandingkan teknik pengendalian lainnya. Beberapa varietas jagung yang dianjurkan untuk digunakan dalam pengendalian penyakit karat dan juga dapat dijadikan sebagai sumber gen ketahanan dalam perakitan varietas unggul tahan penyakit karat masa berikutnya antara lain varietas hibrida Pioner-21, Bisi 16 dan Bisi 18. Penanaman tepat waktu Pengaturan waktu tanam bertujuan untuk menghindari masa kritis tanaman jagung dari serangan penyakit. Timbulnya berbagai serangan penyakit sangat erat kaitannya dengan mutu dan fase pertumbuhan tanaman jagung di lapangan. Menanam pada waktu yang tepat secara serempak pada suatu hamparan yaitu pada saat sumber bibit (inoculum) penyakit masih sangat rendah atau belum ada di lapangan maka dapat memperkecil dan memperpendek penyebaran sumber bibit penyakit karat. Pengendalian penyakit dengan menanam jagung pada waktu yang tepat merupakan salah satu komponen PHT tidak menimbulkan efek samping terhadap pathogen dan musuh alami serta lebih ramah lingkungan. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa masih sering ditemukan pertumbuhan tanaman jagung yang bervariasi terdiri dari berbagai fase umur tanaman dalam satu hamparan. Kondisi seperti ini sangat mendukung timbulnya penyakit karat karena ketersediaan sumber makanan bagi bibit penyakit karat sepanjang tahun. Penaman jagung yang tidak serempak dapat terjadi karena pada umumnya petani menanam jagung berdasarkan ketersediaan air dan kesempatan mereka namun tidak memperhitungkan masalah penyakit yang sewaktu-waktu dapat muncul di lapangan. Penyakit karat dapat berkembang dengan baik pada kondisi suhu rendah dan kelembaban yang relatif tinggi. Oleh karena itu untuk menghindari tanaman jagung dari serangan penyakit karat sebaiknya menanam pada awal musim hujan terutama pada lahan tegalan. Penanaman jagung yang agak lambat seringkali mendapat serangan penyakit karat yang lebih berat. Intensitas serangan penyakit karat sangat tinggi pada saat jagung ditanam pada periode buIan Desember sampai Januari. Aplikasi kimiawi Penggunaan bahan kimia sintetik untuk pengendalian penyakit karat merupakan alternatif terakhir atau jika penggunan teknik pengendalian lainnya tidak memberikan hasil yang memadai. Pemahaman terkait hal ini sangat penting karena kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pengendalian penyakit di tingkat petani umumnya masih didominasi penggunaan pestisida sintetik. Hasil uji lapangan menunjukkan bahwa penyemprotan fungisida berbahan aktif Mancozeb dan Carbendazim, konsentrasi 2 g/ltr air dengan interval penyemprotan 10 hari sejak tanaman 7 hari setelah tanam efektif menekan serangan penyakit karat pada jagung. Demikian juga fungisida Dithane M 45 yang berbahan aktif Mencozeb terbukti mampu menghambat enzim pathogen penyakit karat pada tanaman jagung. Selain itu fungisida berbahan aktif Carbendazim misalnya Delsene MX-200 menghambat DNA pathogen penyakit karat. Hal yang sama jika diaplikasikan fungisida berbahan aktif Captafol dan Triadimefon yang efektif menekan serangan penyakit karat pada tanaman jagung hingga 18%. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam mengaplikasikan fungisida sintetik di lahan pertanaman jagung bahwa dalam penggunaan fungisida sintetik harus dilakukan secara berkala dengan selang waktu penyemprotan yang menentu serta memperhitungkan jenis dan tingkat serangan penyakit karat di pertanaman. Hal ini dilakukan guna menghindari pemborosan biaya dan menghindari dampak buruk terhadap konsumen dan lingkungan. Oleh sebab itu untuk mengurangi frekuensi pemberian fungisida dalam pengendalian penyakit karat pada tanaman jagung adalah menggunakan fungisida yang memiliki efektivitas tinggi dan diaplikasikan berdasarkan tingkat kerusakan tanaman yang diperkirakan dapat menimbulkan kerugian secara ekonomi. Aplikasi fungisida dilakukan bila perlu saja atau apabila tingkat serangan penyakit mencapai ambang kendali. Hal-hal yang perlu menjadi perhatian selain teknik pengendalian adalah sebagai berikut adalah: Lakukan pembajakan tanah sebelum penanaman yang bertujuan menekan bibit hama, gulma dan penyakit tanaman yang kemungkinan berdiam di dalam tanah. Cara ini juga sangat baik untuk memperbaiki rongga tanah untuk perakaran dan meningkatkan daya serap air tanah oleh akar tanaman jagung. Hindari menanam jagung terlalu rapat. Penanaman jagung yang terlalu rapat akan meningkatkan kelembaban mikro di pertanaman dan ini sangat mendukung taraf pertumbuhan jamur. Dengan merenggangkan jarak tanam misalnya menggunakan cara tanam jajar legowo maka dapat meningkatkan sirkulasi udara di pertanaman dan memutus penularan inoculum jamur akibat terpapar sinar matahari. Tidak menanam benih jagung yang berasal dari tanaman yang sakit. Disarankan agar menanam bibit atau benih dari sumber yang jelas dan masih tersegel rapi. Ini dengan mudah diperoleh di kios tani. Sanitasi lingkungan pertanaman jagung juga sangat perlu dilakukan sebab berbagai jenis rerumputan dapat menjadi inang penyakit sehingga menjadi sumber inokulum bagi pertanaman berikutnya. Rotasi tanaman dengan tujuan untuk memutuskan ketersediaan inokulum karat dengan menanam tanaman yang bukan dari jenis sereal. Misalnya menanam kacang kacangan atau buah – buahan seperti semangka atau melon. Memusnakan tanaman yang terserang karat daun dengan cara dibakar atau ditimbun dalam galian lubang yang cukup dalam Pustaka: Dari berbagai Sumber