A. THRIPS Salah satu kasus rusaknya tanaman cabai yang paling sering dihadapi petani cabai adalah daun cabai keriting atau mengkerut. Keriting daun cabai setidaknya disebabkan oleh 3 jenis hama dari golongan kutu-kutuan, yaitu kutu daun, trips dan tungau. Penyakit pada tanaman cabai akibat hama thrips dapat menyebabkan daun keriting, menguning, dan mengering, serta muncul bercak keperakan. Thrips juga dapat menularkan virus yang menyebabkan penyakit layu pada tanaman cabai. Bagian tanaman cabai yang banyak ditemukan Thrips sp. yakni pada bagian permukaan bawah daun, bagian bunga dan bagian buah yang relatif masih muda. Gejala: Daun menjadi keriting, mengkerut, berubah warna dan melengkung ke atas. Permukaan daun bisa tampak keperakan atau berwarna coklat tembaga. Daun yang terserang parah akan menjadi mudah rontok dan pucuk tanaman menggulung ke dalam. Menyebabkan bunga rontok dan mengganggu pembentukan buah. Serangan thrips pada buah cabai bisa menyebabkan munculnya bercak atau jaringan parut berwarna abu-abu hingga hitam. Pertumbuhan yang terserang thrips bisa mengalami kerdil dan terhambat. Penyakit yang Ditularkan Thrips: Virus Layu: Thrips adalah vektor (pembawa) virus yang menyebabkan penyakit layu pada tanaman cabai. Salah satu virus yang ditularkan adalah Tomato Spotted Wilt Virus (TSWV) yang menyebabkan penyakit layu Cara pengendaliannya: Pengendalian Mekanis Memangkas daun yang terserang dan membuangnya jauh dari kebun atau membakarnya untuk mencegah penyebaran Perangkap lengket: Menggunakan perangkap lengket untuk memantau populasi thrips dan menangkapnya. Penyemprotan Insektisida: Menyemprotkan insektisida secara menyeluruh pada tanaman, termasuk bagian bawah daun dan area di sekitar tanaman menggunakan insektisida yang efektif untuk mengendalikan hama thrips, seperti yang mengandung imidakloprid, spinetoram, atau piretrum Memilih varietas yang tahan B. TUNGAU Hama tungau berada dan bersembunyi di balik daun cabai, terutama daun muda. Hama tungau menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan daun di dalam jaringan mesofil hingga jaringan itu rusak. Akibatnya klorofil pada daun menjadi rusak dan menghambat proses fotosintesis tanaman. Hama tungau bisa menyerang tanaman cabai dimusim hujan maupun musim kemarau. Namun serangan parah umumnya terjadi pada musim kemarau. Hal ini disebabkan karena hama tungau lebih cepat berkembang biak pada kondisi kering. Ukuranya sangat keci dengan panjang badan sekitar 0,5 mm, berkulit lunak dengan kerangka chitin. Seperti halnya thrips, hama in juga berpotensi sebagal pembawa virus. Tungau (Mite) bersifat parasit yang merusak daun, batang maupun buah sehingga dapat mengakibatkan perubahan warma dan bentuk. Dengan cara menghisap cairan daun sehingga warna daun terutama pada bagian bawah menjadi berwama kuning kemerahan, daun akan menggulung ke bawah dan akibatnya pucuk mengering yang akhinya menyebabkan daun rontok. Biasanya yang menyerang tanaman cabe ialah tungau kuning (Polyphagotarsonemus latus) dan tungau merah (Tetranycus sp.). Gejala: Pada tanaman cabe, serangan tungau membuat daun keriting menggulung ke bagian kebawah seperti sendok terbalik. Muncul bercak putih pada permuakaan bawah daun. Bercak muncul dekat dengan tulang daun lalu menjalar kebagian tulang daun hingga permukaan daun menguning. Daun menjadi tebal dan kaku sehingga pembentukan pucuk terhambat. Lama kelamaan daun akan menjadi coklat dan mati. Cara pengendaliannya: Pengendalian teknis. Tanaman yang terserang parah dicabut sedangkan yang belum parah dipotong pucuk-pucuknya. Sisa tanaman yang terserang dibakar agar tidak menjangkiti yang lain. Memanfaatkan predator alami hama ini, seperti kumbang dan kepik Menjaga kebersihan kebun efektif mengurangi serangan tungau. Pengendalian kimiawi. Tungau hanya bisa diberantas dengan racun tungau seperti akarisida, bukan dengan insektisida. Dilihat dari fisiknya, tungau berkaki delapan berbeda dengan serangga (insek) yang berkaki empat Pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan Penyemprotan menggunakan Akarisida Samite 135 EC. Konsentrasi yang dianjurkan 0,25-0,5 ml/L.