Dalam pertanian yang bertujuan untuk menghasilkan produksi dan mutu hasil yang tinggi, benih berperan sebagai the carrier of technology, sekaligus sebagai the translator of input technology. Benih juga berperan sebagai agen perubahan mental petani dan masyarakat untuk lebih bersemangat berusaha dan bahkan perubahan suatu negara dari kekurangan pangan menjadi kecukupan pangan (Sadjad, 2006). Paling sedikit ada 5 syarat untuk mendapatkan benih bermutu, yaitu: (1) banih murni dan diketahui nama varietasnya; (2) daya tumbuh tinggi (minimal 80%) dan vigornya baik; (3) biji sehat, bernas, tidak keriput, dipanen pada saat biji telah matang; (4) dipanen dari tanaman yang sehat, tidak terinfeksi penyakit (jamur, bakteri, dan virus); dan (5) benih tidak tercampur biji tanaman lain ataubiji rerumputan. (Harnowo, D. et al; 2013). Pada tanaman kedelai, terdapat penyakit yang penularannya melalui benih (biji) kedelai. Penyakit ini bisa disebabkan oleh jamur Cercospora kikuchii disebut penyakit Hawar, Bercak daun, dan Bercak Biji Ungu; serta penyakit yang disebabkan oleh virus soybean mosaic virus (SMV) yang dikenal sebagai penyakit virus mosaik. Gejala serangan penyakit tersebut seperti berikut:Penyakit Hawar, Bercak daun, dan Bercak Biji Ungu disebabkan oleh jamur Cercospora kikuchii T. Matsu & Tomoyasu. Gejala pada daun, batang dan polong sulit dikenali, sehingga pada polong yang normal mungkin bijinya sudah terinfeksi. Gejala awal pada daun timbul saat pengisian biji dengan kenampakan warna ungu muda yang selanjutnya menjadi kasar, kaku, dan berwarna ungu kemerahan. Bercak berbentuk menyudut sampai tidak beraturan dengan ukuran yang beragam dari sebuah titik sebesar jarum sampai 1 cm dan kemudian menyatu menjadi bercak yang lebih besar. Gejala lebih mudah diamati pada biji yang terserang yaitu timbul bercak berwarna ungu. Biji mengalami diskolorasi dengan warna yang bervariasi dari merah muda atau ungu pucat sampai ungu tua dan berbentuk titik sampai tidak beraturan dan membesar. Penyakit ini tidak menurunkan hasil secara langsung, akan tetapi mampu menurunkan kualitas biji dengan adanya bercak ungu yang kadang-kadang mencapai 50% permukaan biji. Cercospora kikuchii bersporulasi melimpah pada suhu 23-27oC dalam waktu -5 hari pada jaringan terinfeksi, termasuk biji. Inokulum pertama dari biji atau jaringan tanaman terinfeksi yang berasal dari pertanaman sebelumnya. Di lapang, dengan temperatur 28-30oC disertai kelembaban tinggi yang cukup lama, akan memacu perkembangan penyakit bercak dan hawar daun. Di ruang dengan kelembaban tinggi, infeksi penyakit maksimum terjadi dalam kondisi bergantian antara 12 jam terang dan gelap pada suhu 20-24oC. Infeksi penyakit meningkat dengan bertambah panjangnya periode embun dan pada varietas yang berumur pendek, penyakit akan lebih parah. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan menanam benih yang sehat/bersih; perawatan benih dengan fungisida, dan aplikasi fungisida sistemik.Penyakit yang disebabkan oleh virus pada tanaman kedelai pada umumnya menunjukkan gejala yang serupa antara lain adanya klorosis, belang dan mosaik pada daun, daun berkeriput sehingga di lapang sulit dibedakan jenis virus yang menyerang berdasarkan penampakan gejala saja. Gejala yang umum adalah tampak adanya perubahan warna daun menjadi mosaik, agak keriput/keriting, ukuran daun mengecil dan tanaman tampak agak kerdil. Beberapa virus tertentu menunjukkan gejala yang khusus seperti:Gejala penyakit katai kedelai yang disebabkan virus SSV (soybean stunt virus) antara lain berupa bercak klorotik ringan pada daun yang kemudian pada beberapa varietas menghilang, daun-daun mengecil sehingga tanaman tampak pendek dan gemuk. Tanaman yang terinfeksi berat mengakibatkan jumlah polong berkurang dan mengecil, biji mengecil, dan berbercak coklat. Sedangkan gejala awal penyakit virus mosaik kedelai SMV (soybean mosaic virus) berupa tulang anak daun yang masih muda menjadi kurang jernih. Selanjutnya daun berkerut dan mempunyai gambaran mosaik dengan warna hijau gelap di sepanjang tulang daun, sementara tepi daun sering mengalami klorosis.Penularan virus SMV dan SSV dilakukan oleh serangga vektor yaitu kutu daun (Aphis spp) dan juga melalui benih kedelai yang dipanen dari tanaman sakit. Sebagian benih kedelai yang dipanen dari tanaman yang terinfeksi SMV dan SSV kulit bijinya belang (lorek). Persentase penularan virus SSV dan SMV melalui benih kedelai sangat dipengaruhi oleh strain virus, varietas kedelai, dan umur tanaman kedelai pada saat terinfeksi. Infeksi pada stadia pertumbuhan awal akan mengakibatkan penularan virus lewat benih yang lebih besar dibandingkan apabila tanaman terinfeksi virus pada umur yang lebih tua (Saleh, 1996). Di lapang ada umumnya intensitas serangan penyakit virus kedelai pada musim kemarau kedua (MK-2) lebih tinggi dibandingkan pada musim kemarau pertama (MK-1) atau pada musim hujan (MH). Hal ini diduga berkaitan dengan meningkatnya populasi serangga vektor di musim kemarau dan tersedianya sumber inokulum yang lebih tinggi pada MK-2. Roechan (1992) melaporkan bahwa pada lahan percobaan yang dilakukan inokulasi virus mosaik kedelai sejak awal pertumbuhan terjadi penurunan hasil sampai 93%. Sedangkan Saleh (2013) menyatakan kehilangan hasil sebanyak 50% dapat terjadi pada suatu areal tanaman kedelai akibat SMV. Unuk menekan intensitas serangan penyakit virus non-persisten, pengendalian vektor dengan insektisida sering tidak memberi hasil memuaskan. Hal ini diduga karena insektisida mematikan Aphid setelah vektor tersebut menularkan virus ke tanaman lain. Tetapi ada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa penyemprotan insektisida cypermethrin, deltamethrin, permethrin, fanfalerate, disulfoton, dan acephate dapat menekan kolonisasi aphid serta mengurangi atau memperlambat penyebaran virus non-persisten (Pyron et al. 1988).Penyemprotan minyak mineral secara kontinyu dengan selang lima hari dapat menghambat infeksi dan penyebaran SMV sebesar 27% dibandingkan perlakuan kontrol yang tidak disemprot. Tetapi karena harus disemprotkan beberapa kali dan harganya mahal, penggunaan minyak mineral aataupun emulsi minyak nabati kurang ekonomis. Di lapang, sumber infeksi atau sumber inokulum virus SMV dan SSV selain benih yang terinfeksi, juga tanaman budidaya sejenis atau lain jenis maupun tumbuhan liar. Tanaman kedelai adalah inang utama SMV dan SSV, namun kedua virus ini dapat menginfeksi tanaman kacang panjang dan kacang buncis. Untuk memutus daur hidup dan mengurangi sumber inokulum di lapang, pertanaman kedelai untuk benih perlu dipergilirkan dengan tanaman serealia atau umbu-umbian yang bukan inang. Secara alami, virus SMV dan SSV juga dapat menginfeksi gulma disekitar pertanaman kedelai, seperti Cassia oxidentalis, Sesbania exaltata, Phaseolus speciosus, dan Phaseolus latthyroides. Pemantauan secara rutin dan mencabut tanaman kedelai yang terinfeksi SMV atau SSV terutama pada saat tanaman muda hingga mendekati masa berbunga dapat mengeliminasi penularan virus melalui benih yang dihasilkan. Mencabut tanaman sakit juga mengurangi penyebaran lebih lanjut oleh serangga vektor. Gulma yang merupakan inang alternatif virus SMV dan SSV sebaiknya icabut untuk mengurangi sumber infeksi di lapang. Hal ini karena beberapa gulma selain menurunkan sumber virus, juga berperan dalam perkembangbiakan vektornya.Penulis: Ir. Jamhari Hadipurwanta, MP (Penyuluh Pertanian Supervisor, BPTP Lampung)Sumber: 1) Nasir Saleh dan Sri Hardaningsih. 2013. Pengendalian Penyakit Terpadu Pada Tanaman Kedelai. Buku Kedelai Teknik Produksi dan Pengembangan. Badan Litbang Pertanian. 2) Marwoto et al. 2014. Hama, Penyakit, dan Masalah Hara pada Tanaman Kedelai. Badan Litbang Pertanian. 3) Sumber bacaan lainnya.Sumber Gambar: http://pangan.litbang.pertanian.go.id/m/?headline=691