Senjang produktivitas kedelai yang terjadi ditingkat petani dengan produktivitas potensial kedelai yang dicapai lembaga penelitian antara lain karena penyakit tanaman. Penyakit tanaman kedelai bisa dikelompokkan kedalam penyakit pada daun, penyakit tular tanah, dan penyakit pada benih. Beberapa penyakit utama yang menyerang daun tanaman kedelai adalah: penyakit karat daun, pustul bakteri, antraknose, downy mildew, dan target spot. Gejala penyakit dan cara pengendaliannya seperti berikut:Penyakit Karat Daun, disebabkan oleh jamur Phakopspora pachyrhizi Syd Gejala awal serangan muncul pada daun pertama, berupa bercak-bercak yang berisi uredia (badan buah yang memproduksi spora) terutama di bagian bawah daun. Bercak ini berkembang ke daun-daun di atasnya sejalan dengan bertambahnya umur tanaman. Warna bercak mula-mula klorotik sampai coklat kemerahan seperti warna karat. Bentuk bercak umumnya bersudut, berukuran sampai 1 mm (Semangun, 1991). Epidemi penyakit karat didorong oleh lamanya daun dalam kondisi basah dan periode dengan suhu Penyakit Pustul Bakteri, disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris pv Glycines. Gejala awalnya berupa bercak kecil tampak pada kedua permukaan daun, berwarna hijau pucat, menonjol pada bagian tengah lalu menjadi bisul berwarna coklat muda atau putih di bawah daun. Gejala ini sering dikacaukan dengan penyakit karat daun kedelai. Tetapi bercak karat lebih kecil dan sporanya tampak jelas bila dilihat dengan kaca pembesar. Bentuk bercak bervariasi mulai dari bintik kecil sampai besar tidak beraturan, berwarna kecoklatan. Seringkali bercak kecil bersatu membentuk daerah nekrotik yang mudah robek oleh angin, sehingga daun kedelai kelihatan berlubang-lubang dan bila infeksi berat dapat menyebabkan daun gugur (Semangun, 1991). Bakteri pustul bertahan pada biji, permukaan residu tanaman dan rhizosfir. Gulma Dolichos biflorus, buncis jenis tertentu, dan kacang tunggak dapat bertindak sebagai tanaman inang. Penyakit pustul bakteri berkembang di dataran rendah pada musim hujan, dalam cuaca basah dan suhu relatif tinggi. Penyebaran bakteri dibantu oleh percikan air hujan dan daun yang saling bersinggungan karena hembusan angin.Bakteri masuk kedalam tanaman melalui lubang-lubang alami (stomata, hydatoda) atau luka, dan memperbanyak diridi dalam sel. Pengendalian penyakit ini dengan cara menanam benih bebas patogen, membenamkan sisa tanaman terinfeksi, dan hindari rotasi tanaman dengan buncis dan kacang tunggak.Penyakit antraknose, disebabkan oleh jamur Colletotrichicum dematium var truncathum. Penyakit ini menyerang batang, polong, dan tangkai daun. Akibat serangan adalah perkecambahan biji terganggu, kadang-kadang bagian-bagian yang terserang tidak menunjukan gejala. Gejala awal hanya timbul jika kondisi menguntungkan perkecambahan jamur. Pada tanaman yang terserang, biasanya daun melengkung ke bawah, tulang daun pada permukaan bawah menebal dengan warna kecoklatan. Pada batang akan timbul bintik-bintik hitam berupa duri-duri jamur yang menjadi ciri khas penyakit ini. Penyakit antraknose umumnya menyerang tanaman kedelai dengan polong menjelang masak dan berkembang pada kondisi yang lembab. Pada serangan berat, kehilangan hasil dapat mencapai 50% atau bahkan polong menjadi puso. Jamur ini dapat ditularkan melalui benih, terutama apabila tanaman terinfeksi pada umur muda atau selama periode pemasakan polong. Patogen bertahan dalam bentuk miselia pada residu tanaman atau pada biji terinfeksi. Infeksi batang dan polong terjadi selama fase reproduksi apabila cuaca lembab dan hangat. Pengendalian penyakit ini dengan cara menanam benih berkualitas tinggi dan bebas patogen, perawatan benih terutama pada benih terinfeksi, membenamkan sisa tanaman terinfeksi, aplikasi fungisida benomil, klorotalonil, captan pada fase berbunga sampai pengisian polong, rotasi tanaman selain kacang-kacangan.Penyakit Downy Mildew, disebabkan oleh jamur Peronospora manshuria Syd. Gejala awal serangannya terjadi pada daun sebelah bawah, timbul bercak warna putih kekuningan, umumnya bulat dengan batas yang jelas dn berukuran 1-2 mm. Kadang-kadang bercak menyatu membentuk bercak lebih lebar yang selanjutnya dapat menyebabkan bentuk daun menjadi abnormal dan kaku mirip penyakit yang disebabkan oleh virus. Pada permukaan bawah daun terutama di pagi hari yang dingin, timbul miselium dan konidium yang terlihat seperti bulu sebagai ciri morfologi dari penyakit ini. Perkembangan penyakit downy mildew didukung oleh kelembaban udara yang tinggi dan suhu sekitar 20-22oC. Sporulasi terjadi pda suhu 10-25oC, tidak terjadi pada suhu di atas 30oC atau di bawah 10oC. Daun-daun lebih tahan terhadap infeksi sejalan dengan bertambahnya umur tanaman. Pada suhu yang lebih tinggi, tanaman lebih tahan terhadap infeksi. Apabila jumlah bercak kuning bertambah, maka ukuran daun pun makin lama makin menyusut. Patogen jamur bertahan dalam bentuk miselium pada tresidu tanaman atau pada biji yang terinfeksi. Miselium menjadi penyebab tabnaman terinfeksi, namun seringkali tanpa menimbulkan perkembangan gejala sampai tanaman menjelang masak. Infeksi batang dan polong dapat terjadi selama ase reproduksi apabila uaca lembab dan hangat. Pengendalian penyakit ini adalah perawatan benih dengan fungisida, membenamkan tanaman terinfeksi, rotasi tanam selama 1 tahun atau lebih. Penyakit bercak daun sasaran (target spot), disebabkan oleh jamur Corynespora cassiicola. Gejala serangan berupa bercak coklat kemerahan yang timbul pada daun, batang, polong, biji, hipokotil, dan akar, dengan diameter 10-15 mm.Kadang-kadang membentuk lingkaran seperti pada papan tempak (target). Patogen bertahan pada batang, akar, biji, dan mampu bertahan dalam tanahyang tidak diusahakan slama lebih dari 2 tahun. Infeksi hanya terjadi bila kelembababn udara relatif 80% atau lebih atau terjadi air beba di atas daun. Cuaca kering menghambat pertumbuhan jamur pada daun dan akar. Infeksi pada batang dan akar terjadi pada awal fase pertumbuhan tanaman. Gejala terlihat pada 21 HST. Suhu tanah optimal untuk menginfeksi dan perkembangan penyakit ini adalah 15-18oC. Padasuhu 20oC gejala penyakit tidak terlalu parah dan akar terbentuk normal. Patogen dapat hidup dan menyerang bermacam-macam tumbuhan, dan keberadaannya sangat melipah di negara tropis. Pengendalian penyakit ini adalah perawatan benih terutama pada biji yang terinfeksi, membenamkan sisa tanaman terinfeksi, dan aplikasi fungisida benoml, klorotalonil, kaptan. Penulis: Ir. Jamhari Hadipurwanta, MP (Penyuluh Pertanian Supervisor, BPTP Lampung)Sumber: 1) Nasir Saleh dan Sri Hardaningsih. 2013. Pengendalian Penyakit Terpadu Pada Tanaman Kedelai. Buku Kedelai Teknik Produksi dan Pengembangan. Badan Litbang Pertanian. 2) Sumber bacaan lainnya.Sumber Gambar: http://mitalom.com/wp-content/uploads/2016/05/Gambar-penyakit-KARAT-DAUN-kedelai-1.jpg