Loading...

PENYEHATAN TANAH DENGAN PEMBENAH TANAH ORGANIK

PENYEHATAN TANAH  DENGAN PEMBENAH TANAH ORGANIK
PENYEHATAN TANAH DENGAN PEMBENAH TANAH ORGANIK LATAR BELAKANG Ketahanan pangan nasional harus tetap dipertahankan melalui peningkatan produksi dan produktivitas. Sementara itu sebagian lahan pertanian di Indonesia mengalami masalah kesuburan tanah dan Kesehatan tanah. Penurunan kesuburan tanah antara lain diindikasikan oleh: penurunan unsur hara tanah karena penyerapan unsur hara tanah yang berlebihan oleh tanaman, penguapan unsur hara ke atmosfer yang berlebihan, resapan kedalam tanah dan terjadinya erosi tanah. Sedangkan penurunan Kesehatan tanah ditandai oleh: rendahnya c-organik dan PH tanah, yang disebabkan oleh rendahnya pemanfaatan bahan organik tanah ekosistem budidaya petani setempat, pemakaian pupuk kimia yang berlebihan, serta terjadinya pencemaran bahan kimia berbahaya (seperti pestisida kimia), melakukan pembakaran di atas lahan (merusak tekstur tanah) dan juga erosi. Penurunan kesuburan dan Kesehatan tanah akan menurunkan produksi dan produktivitas tanaman yang berpotensi mengancam ketahanan pangan Indonesia. Perlu dicarikan solusi yang cepat dan murah untuk mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan perbaikan kesuburan dan Kesehatan tanah ini. Perbaikan ini diharapkan akan mampu memperbaiki kesehatan lahan, meningkatkan ketersediaan bahan organik untuk tanaman, hasil panen petani lebih berkualitas dan berkelanjutan serta efisiensi dalam biaya produksi. PENGGUNAAN BAHAN KIMIA DAN PERMASALAHANNYA Penggunaan pupuk kimia dan pestisida kimia yang berlebihan disinyalir mengakibatkan penurunan kesuburan dan kesehatan tanah di Indonesia. Menurut Adiningsih (2004), pemupukan yang berulangkali mengakibatkan residu Posfat yang tersedia didalam tanah sangat tinggi, karena yang mampu diserap tanaman hanya sekitar 15-20% pada lahan irigasi dan pada lahan kering antara 10-15%. Habiburrahman dan kawan-kawan telah melakukan penelitian dilahan sawah dengan penggunaan lahan yang sangat intensif dan pengaplikasian pupuk posfat kimia, menunjukkan bahwa terjadi penimbunan hara P yang sangat tinggi dengan kisaran 85%. Sedangkan menurut Rachman et.al (2009), Kondisi bahan organik lahan sawah di Indonesia, yaitu: 73% lahan dengan kandungan bahan organik tanah yang rendah (C organik < 2% termasuk kategori sakit (Simarmata, 2009). Mengacu pada penilaian tersebut, terdapat sekitar 5 juta hektar lahan sakit di Indonesia. Beberapa Permasalahan yang sering dihadapi dalam usaha pengembangan lahan sawah di Indonesia pada umumnya, yaitu: pH tanah rendah dan ketersediaan hara tanah yang terbatas. peningkatan kelarutan Fe dan Ca dan masalah keracunan Al3+ (dalam tanaman>300 ppm dan dalam tanah>200 ppm) yang mengakibatkan tidak tersedianya unsur P untuk di serap tanaman. sisa panen tidak dikembalikan ketanah; rekomendasi pemupukan diaplikasikan secara global pada setiap lokasi/lahan yang berbeda (kurangnya informasi/penelitian pemupukan spesifik lokasi). BAGAIMANA MENGATASINYA? Melakukan Bioremediasi lahan sawah Pengembalian unsur C-Organik dan Microba yang menguntungkan dalam menghasilkan asam organik untuk membantu ketersediaan hara bagi tanaman. Lahan persawahan yang terindikasi tidak sehat perlu dilakukan penyehatan terlebih dahulu melalui remediasi lahan sawah. Bioremediasi mengacu pada segala proses yang menggunakan mikroorganisme seperti bakteri, fungi (mycoremediasi), yeast, alga dan enzim-enzim yang dihasilkan oleh mikroba tersebut untuk membersihkan atau menetralkan bahan-bahan kimia dan limbah secara aman dan salah satu alternatif dalam mengatasi masalah lingkungan. Pembenah tanah senyawa humat Penggunaan pembenah tanah yang bersumber dari bahan organik sebaiknya menjadi prioritas utama, selain terbukti efektif dalam memperbaiki kualitas tanah dan produktivitas lahan, juga bersifat terbarukan, insitu, dan relatif murah, serta bisa mendukung konservasi karbon dalam tanah. ( Dariah, A. et al. 2015). Pembenah tanah dengan bahan organik tertentu menghasilkan senyawa humat (humik), mampu menyehatkan tanah melalui: peningkatan kapasitas tukar kation (KTK) tanah, memperbaiki C-organik tanah dan meningkatkan serapan posfat tanah. Dengan penggunaan pembenah tanah yang terbuat dari bahan organik insitu seperti tanaman eceng gondok yang difermentasi menghasilkan asam humat yang bermanfaat bagi kesuburan dan Kesehatan tanah. Asam humat bersifat sebagai soil conditioner (pembenah tanah). Manfaat asam humat antara lain: Dapat bereaksi dengan unsur hara mikro seperti Al melalui mekanisme pengkelatan di tanah. Memiliki KTK yang tinggi menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur-unsur hara. Memiliki kemampuan penyerapan air sekitar 80-90% sehingga mengurangi resiko erosi pada tanah dan meningkatkan kemampuan tanah menahan air. Memperbaiki struktur tanah secara fisik maupun kimia Menstimulasi aktifitas mikrobiologi tanah sehingga meningkatkan pertumbuhan akar tanaman. Meningkatkan aerasi tanah akibat dari bertambahnya pori tanah dari pembentukan agregat. Pemanfaatan pembenah tanah (Senyawa Humat) dari Eceng gondok Hasil penelitian Yunindanova dan kawan-kawan (2020), menunjukkan bahwa Eceng Gondok yang difermentasi menjadi kompos, mengandung: 1. C/N ratio= 10,65, 2. C-organik = 18,93%, PH = 8,08. Hal ini menunjukkan fungsi pembenah tanah dari bahan organik insitu ( Eceng Gondok) menjadi solusi dalam mengatasi masalah Kesehatan dan kesuburan tanah di Indonesia. Eceng gondok mudah di dapatkan di areal persawahan, seringkali dianggap sebagai gulma yang mengganggu pertumbuhan tanaman. Pemanfaatan eceng gondok sebagai pembenah tanah menjadi solusi murah dan mudah dalam penyehatan tanah dan peningkatan kesuburan tanah. dengan penyehatan tanah dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan diharapkan produktivitas terus meningkat dan berkelanjutan. BAGAIMANA MEMBUATNYA? https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/agri-sarana/21058-Gunakan-Bahan-Organik-Kementan-Ajarkan-Pembuatan-Asam-Humat-Dari-Eceng-Gondok https://www.youtube.com/watch?v=1akyaCxvj1k Ditulis Oleh : M. Takdir Mulyadi (Penyuluh pada Pusluhtan) Sumber Bacaan : Adiningsih, J. S., 2004. Dinamika Hara Dalam Tanah Dan Mekanisme Serapan Hara Dalam Kaitannya Dengan Sifat-Sifat Tanah Dan Aplikasi Pupuk. LPI dan APPI, Jakarta. Dariah A., Sutono, Neneng L. Nurida, Wiwik Hartatik, dan Etty Pratiwi. 2015. Pembenah Tanah untuk Meningkatkan Produktivitas Lahan Pertanian. Makalah Review Balai Penelitian Tanah. Bogor. Habiburrahman, Padusung, Baharuddin. 2018. Ketersediaan fosfor pada lahan padi sawah berdasarkan intensitas penggunaannya di kecamatan gerung kabupaten lombok barat. Agro Crop. Yunindanova, M.B, Supriyono, B. S. Hertanto, 2020. Pengolahan Gulma Invasif Enceng Gondok Menjadi Pupuk Organik Layak Pasar Sebagai Solusi Masalah Rawa Pening. Jurnal Prima, Vol 4 No. 2. Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Rachman, A., S. Rochayati dan D. Setyorini. 2009. Soil Fertility Management Technology for Rice Farmers : Indonesian Experience. Melalui ftp://ftp.fao.org/TC/TCA/SPFS/Presentations_Burkina_2009/Day4…ce/Soilfertility-management-technology-for-rice-farmers.ppt. [17/12/2011]. Simarmata, T. 2009. Less water for better soil biological activity and growth of paddy rice in system of organic based aerobic rice intensification. Presented Paper on Internasional Seminar of Sustainable Resources Development: Management of Water and Land Resources from October 6th – 8th 2009 in Central Kalimantan.