Loading...

Penyemaian Bibit Cabai Merah

Penyemaian Bibit Cabai Merah
Sebelum disemai, benih cabai merah direndam dalam air hangat (500 C) atau larutan Previcur N (1 mi/I) selama 1 jam. Perendaman benih tersebut bertujuan untuk menghilangkan hama atau penyakit yang menempel pada biji dan untuk mempercepat perkecambahan. Kalau ada biji yang mengambang, berarti benih kurang baik, jadi harus disingkirkan. Benih-benih yang tenggelam bisa langsungdisemai. Benih disemai di tempat persemaian yang telah disiapkan berupa bedengan berukuran lebar 1 cm dan panjangnya tergantung pada kebutuhan. Media persemaian terdiri atas campuran tanah halus dan pupuk kandang (1:1) yang telah disterilkan dengan uap air panas selama 6 jam. Bedengan persemaian diberi naungan atau atap plastik transparan untuk melindungi bibit yang masih muda dari terpaan air hujan dan terik matahari. Atap harus menghadap ke arah Timur agar bibit mendapat sinar matahari yang cukup di pagi hari. Akan lebih baik lagi bila persemaian ditutupi dengan kasa nyamuk, agar dapat terhindar dari serangan kutu daun atau penyebaran virus, sehingga akan dihasilkan bibit yang sehat dan seragam (Vos 1995). Benih cabai merah disebar merata pada bedengan dan ditutup tipis dengan tanah halus, kemudian ditutupi lagi dengan daun pisang atau tripleks. Temperatur yang baik untuk perkecambahan benih cabai merah adalah 24-28 0C (Tabel 2). Setelah benih berkecambah ±7-8 hari sejak semai, tutup daun pisang atau tripleks dibuka. Selanjutnya setelah membentuk 2 helai daun ± 12-14 hari sejak semai, bibit dipindahkan ke dalam bumbungan daun pisang yang berisi media yang sama, yaitu campuran tanah halus dan pupuk kandang steril (1:1), yang telah diberi inokulasi mikoriza(G/omussp.) sebanyak 10g per bibit. Pembumbungan bibit dapat mengurangi kerusakan akar dan keterkejutan bibit bila dipindahkan ke lapangan. Bibit yang dibumbung dapat lebih cepat beradaptasi dan tidak mudah mati setelah dipindahkan ke lapangan dibandingkan dengan bibit yang tidak dibumbung (sistem cabutan) (Kususmainderawati 1979; Vos 1995). Aplikasi cendawan mikoriza pada media persemaian sangat bermanfaat, karena disamping dapat mempercepat laju pertumbuhan dan meningkatkan kesehatan tanaman di persemaian, juga dapat meningkatkan daya hidup dan pertumbuhan tanaman di lapangan. Cendawan mikoriza tersebut bersimbiose dengan perakaran tanaman cabai merah membentuk hifa sebagai kepanjangan dari akar dan memegang peranan penting dalam penyerapan unsur hara, terutama unsur P. Sebagai imbalannya jamur tersebut akan memperoleh hasilfotosintesis dari tanaman cabai merah (Hidayat etal., 2003). Penyiraman dilakukan secukupnya setiap pagi hari. Bila terlalu banya.k air, bibit menjadi lemah dan peka terhadap jamur "damping off". Setelah bibit tumbuh baik, tanah harus tetap lembab. Oleh karena itu penyiraman harus terus dilakukan tetapi tidak terlalusering. Penyiraman sebaiknya dilakukan pada pagi hari, supaya daun tanaman dan permukaan tanah menjadi kering sebelum malam hari untuk mencegah terjadinya damping-off. Temperatur optimum untuk pertumbuhan bibit sampai dipindahkan ke lapangan adalah 22-25 0C: Penyiangan gulma dilakukan dengan tangan secara hati-hati tanpa mengganggu perakaran. Bila terlihat adanya serangan hama atau penyakit dilakukan eradikasi selektif, yaitu memusnahkan bibit yang terserang. Sebelum bibit dipindahkan ke lapangan, sebaiknya dilakukan penguatan bibit (hardening) dengan jalan membuka atap persemaian supaya bibit menerima langsung sinar matahari dan mengurangi penyiraman secara bertahap. Selama Penguatan, proses pertumbuhan bibit menjadi lebih lambat tetapi jaringan menjadi lebih kuat. Penguatan bibit berlangsung ± 7 hari (Knott dan Deanon 1970). Bibit yang sehat dan siap dipindahkan ke lapangan adalah bibit yang telah berumur 3-4 minggu sejak dibumbung. Pada umur tersebut bibit sudah membentuk 4-5 helai daun dengan tinggi bibit antara 5-10 cm (Kusumainderawati 1979;Sunu1998). Sumber : Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Budidaya Tanaman Cabai Merah, 2005