Loading...

Penyiapan Lahan untuk produksi benih

Penyiapan Lahan untuk produksi benih
Salah satu yang harus diperhatikan kalau mau melakukan produksi benih adalah pemilihan lahan. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan lahan tempat produksi benih antara lain : (1) adaptasi tanaman/varietas terhadap lingkungan produksi, (2) sejarah penggunaan lahan terkait dengan pertanaman sebelumnya, (3) rotasi tanaman, dan (4) kemudahan tempat bagi jaringan transportasi antar wilayah. Penyiapan lahan untuk penenaman harus dimulai dalam waktu yang baik untuk menjamin bahwa pengolahan tanah yang sesuai telah siap pada waktu tanam yang direncanakan.. Pengolahan tanah untuk produksi benih, tidak berbeda dengan pengolahan tanah untuk produksi konsumsi. Hanya saja pengolahan tanah pada produksi benih lebih intensif. Pengolahan tanah untuk produksi benih padi dibedakan tiga fase (1) penggenangan tanah sampai tahap jenuh air, (2) pembajakan tanah untuk memecah bongkahan dan sekaligus membalikkan tanah, dan (3) penggaruan untuk menghancurkan tanah dan kemudian dilakukan pelumpuran dengan air. Volume air yang dibutuhkan untuk tiga fase pengolahan tanah mencapai sepertiga dari kebutuhan air selama pertumbuhan tanaman. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain : Lahan yang akan digunakan untuk pertanaman harus diperiksa sejarah lapangan lebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kemungkinan terjadinya percampuran dengan tanaman/varietas lain. Dalam kegiatan pengolahan lahan dibedakan Pengolahan yang tidak memilih jenis tanah, asal tersedia struktur lumpur dengan kedalaman 15-30 cm. Guna mendapatkan struktur lumpur yang baik perlu dilakukan : Merendam areal yang akan dikerjakan 3-4 hari; Membajak ke-1; Merendam 2-3 hari; Membajak ke-2; Merendam 2-3 hari; Menggaru ke-1; Merendam 2-3 hari; Mengaru ke-2 dan meratakan permukaan tanah agar dapat menahan air dengan baik dan merata hingga tanah siap tanam Pengolahan Tanah Pada Lahan Sawah Irigasi (Pengolahan Sempurna) Pengolahan tanah bertujuan mengubah keadaan tanah pertanian dengan alat tertentu hingga memperoleh susunan tanah (struktur tanah dan tekstur tanah) yang dihendaki oleh tanaman. Pengolahan lahan sawah terdiri dari beberapa tahap: 1) Pembersihan- Selokan-selokan, pembersihan Jerami yang ada perlu dibabat untuk pembuatan kompos. 2) Pencangkulan guna perbaikan pematang dan petak sawah dan 3) Pembajakan untuk memecah tanah menjadi bongkahan-bongkahan tanah; membalikkan tanah beserta jerami sehingga akhirnya membusuk. Hal tersebut dilakukan dengan proses pembusukan dengan bantuan mikro organisme yang ada dalam tanah; selanjutnya diinkubasi selama 1 minggu ; Menggunakan bajak rotari untuk melembutkan tanah untuk melumpur.4) Penggaruan dimaksudkan untuk meratakan dan menghancurkan gumpalan-gumpalan tanah; Selama digaru saluran pemasukan dan pengeluaran air ditutup agar lumpur tidak hanyut terbawa air keluar; Penggaruan yang dilakukan berulang kali akan memberikan keuntungan; Permukaan tanah menjadi rata; Air yang merembes ke bawah menjadi berkurang; Sisa tanaman atau rumput akan terbenam; Penanaman menjadi mudah dan Meratakan pembagian pupuk dan pupuk terbenam. Pengolahan Tanah Padi Gogo. Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan 2 kali, pengolahan lahan pertama dilakukan pada musim kemarau atau setelah terjadi hujan pertama yang dapat melembabkan tanah dan yang kedua saat menjelang tanam. Cara pengolahan tanah dapat dengan dicangkul, atau menggunakan traktor/ ternak secara singkal, selanjutnya lahan dibiarkan. Bila sudah turun hujan kontinyu yang memungkinkan untuk tanam, lahan diolah lagi untuk menghaluskan bongkahan sambil meratakan tanah sampai siap tanam. Bila kondisi lahan berlereng sampai bergelombang, setelah pengolahan tanah pertama perlu dilakukan pembuatan teras gulud atau diadakan perbaikan teras yang rusak. Pada guludan atau bibir teras diusahakan menanam tanaman penguat teras berupa rumput unggul yang secara periodik dapat dipangkas untuk pakan ternak. Pada lahan yang terbuka dan relatif datar perlu dibuat bedengan memanjang, dengan lebar bedengan sekitar 5 m dan antar bedengan dibuat saluran sedalam 20 m yang akan berfungsi sebagai saluran Yulia T S. yuliatrisedyowati@gmail.com Daftar Pustaka: I Ketut Siadi I Gusti Ngurah Raka, 2017, Penataan Sistem Perbenihan Untuk Menunjang Revitalisasi Perbenihan Tanaman Pangan Di Bali, Fakultas Pertanian Universitas Udayana Denpasar Bali https://media.neliti.com/media/publications/55241-ID-sistem-perbenihan-padi-dan-karakteristik.pdf Modul Produksi Benih Secara Mandiri, 2021, Program IPDMIP