Indonesia dan Malaysia merupakan negara-negara Asia Tenggara penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Sedangkan negara pengimpor terbanyak minyak sawit adalah India dan Cina. Adanya peningkatan permintaan minyak nabati dunia telah menyebabkan perubahan penggunaan lahan dan perubahan substansial dalam lansekap pertanian global. Salah satu manifestasi yang menonjol dari transformasi ini adalah perluasan sektor kelapa sawit dan efek sosial ekonomi dan ekologi yang menyertainya. Secara keseluruhan, ledakan kelapa sawit telah berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, pembangunan pedesaan, dan pengentasan kemiskinan khususnya di Indonesia dan Malaysia. Manfaat ekonomi ini tidak disertai dengan manfaat terhadap lingkungan. Industri kelapa sawit memberikan dampak buruk bagi lingkungan karena perkebunan kelapa sawit didirikan di hutan hujan tropis dan lahan gambut yang sebelumnya kaya akan keanekaragaman hayati sehingga mengakibatkan kerugian ekologis yang substansial. Munculnya kekhawatiran telah memperlambat ekspansi kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia. Namun, dampak pembangunan pedesaan dari ekspansi kelapa sawit di Indonesia telah ekstensif dan inklusif dengan adanya kerjasama yang sukses antara perusahaan besar, fasilitas pengolahan, dan petani melalui skema pertanian kontrak. Dengan demikian, kelapa sawit di Indonesia dianggap sebagai pola pembangunan pedesaan yang didorong oleh agroindustry, petani kecil dan rumah tangga non pertanian. Hal ini mempunyai kaitan yang relevan dengan perdebatan dalam kebijakan pembangunan pedesaan yang berkaitan dengan peran petani kecil dalam rantai pangan pertanian. Hingga saat ini masih menjadi pertanyaan terbuka apakah keberhasilan booming kelapa sawit Indonesia dapat direplikasi di negara berkembang lainnya tanpa mereplikasi dampak lingkungan yang merugikan. Di wilayah lain, termasuk di Afrika, dalam beberapa tahun terakhir, produksi kelapa sawit semakin meningkat. Kelapa sawit berasal dari Afrika Barat dan merupakan bagian integral dari lasekap pertanian. Namun, sektor ini belum menunjukkan ledakan yang sebanding dengan Asia Tenggara. Proyek vestasi telah dimulai di negara-negara tertentu di kawasan ini dengan sosial ekonomi yang agak terbatas dan terlokalisasi juga dengan adanya dampak lingkungan yang parah. Seiring berkembangnya sektor kelapa sawit komersial di Afrika Barat, potensi kontribusinya untuk pembangunan pedesaan serta kebijakan dukungan yang sesuai tetap tidak jelas dan memerlukan penyelidikan. Jika membandingkan salah satu negara di Afrika Barat yaitu Ghana dengan Indonesia, keduanya memiliki kondisi agroekologi yang sesuai untuk budidaya kelapa sawit. Di Ghana, kondisi optimal ditemukan di daerah yang relative kecil di barat daya negara tersebut dimana aktifitas pertanian sangat bergantung pada musim curah hujan. Indonesia memiliki wilayah yang luas dengan lahan yang cocok serta kondisi iklim yang ideal. Sektor kelapa sawit di Ghana dan Indonesia menunjukkan kesenjangan produktivitas. Untuk menutup kesenjangan ini, kedua negara dapat berkontribusi untuk memenuhi peningkatan global permintaan minyak sawit tanpa perluasan wilayah dan deforestasi lebih lanjut. Di Indonesia, kesenjangan ini mengacu pada perbedaan produktivitas antara pemegang (14 ton TBS/ha per tahun) dan perkebunan skala besar (17–18 ton TBS/ha per tahun). Kesenjangan produktivitas Ghana, sementara itu, mengacu pada kinerja sederhana secara keseluruhan dibandingkan dengan perusahaan internasional pemohon. Rata-rata produktivitas lahan nasional di Ghana (Afrika Barat) adalah jauh lebih rendah daripada di Indonesia (Asia Tenggara), dengan 3–6 ton versus 17 ton TBS per ha per tahun masing-masing. Sektor kelapa sawit kedua negara berbeda secara mendasar dan memiliki implikasi pembangunan pedesaan yang kontras. Di Indonesia, partisipasi petani kecil dalam industri eksklusif dan kesejahteraan sektor kelapa sawit yang terkoordinasi telah dikaitkan dengan keuntungan ekonomi dan pengurangan kemiskinan yang cukup besar. Keseluruhan keuntungan ekonomi datang dengan biaya lingkungan yang besar; ekspansi kelapa sawit yang telah menyebabkan gesekan sosial juga. Skala besar deforestasi menyiratkan hilangnya keanekaragaman hayati secara besar-besaran. Konflik antara perusahaan swasta dan komunitas lokal dan masalah sosial telah sering dilaporkan dengan baik. Selanjutnya, kesenjangan sosial ekonomi antara produsen kelapa sawit, seringkali migran, dan produsen non-kelapa sawit, yang sebagian besar penduduk setempat, terdokumentasi dengan baik. Ketimpangan antardesa, khususnya dalam hal infrastruktur, juga diamati. Sebagai kesimpulan, sektor kelapa sawit memiliki potensi yang cukup besar untuk berkontribusi pada pembangunan pedesaan di Afrika Barat. Namun kontribusi ini harus mengambil bentuk yang berbeda dengan pola yang diamati di sebagian besar Asia Tenggara dengan perkebunan inti dan pertanian kontraknya yang sukses skema. Kekhasan wilayah, termasuk pengaturan penguasaan lahannya, jangkauan dan kelangkaan tanah serta keberadaan rantai pasokan minyak sawit artisanal, perlu diperhitungkan. (Ld, Penyuluh). Sumber: Ruml, A., Chrisendo, D., Iddrisu, A.M., Karakara, A.A., Nuryartono, N., Osabuohien, E., Lay, J. 2022. Smallholders in agro-industrial production: Lessons for rural development from a comparative analysis of Ghana’s and Indonesia’s oil palm sectors. Land Use Policy, 119, p. 1-14.