Jagung merupakan komoditi pangan unggulan Nusa Tenggara Timur dan kurang lebih 90 petani tinggal di pedesaan bercocok tanam jagung. jagung merupakan makanan pokok masyarakat Nusa Tenggara Timur selain bahan baku industri , pakan terna, unutk kebutuhan benih serta dijual untuk meningkatkan pendapatan pelaku utama. Produksi Jagung di Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2009 adalah sebesar 638.901 ton dengan luas areal panen sebesar 250.537 Ha ( data Dinas Pert6anian dan kehutanan Provinsi NTT ) . Berdasarkan analisa usaha tani baik untuk jagung komposit maupun hibrida ternyata usaha tani jagung menguntungkan karena B/C ratiolebih dari 1. Untuk meningkatkan pendapatan keluarga , pelaku utama menjual jagung dengan berbagai pola atau rantai pemasaran. Penjualannya dalam bentuk pipilan, jagung muda, beras jagung, emping, marning bahkan dalam bentuk kue - kue . Secara umum distribusi pemasaran jagung oleh petani terdiri dari beberapa model sebagai berikut : -Petani Jagung - pengumpul tingkat pasar desa / kecamatan - pengumpul tingkat kabupaten - industri olahan baik untuk konsumsi manuasia maupun ternak - super market / toko / kios dan - konsumen. -Petani jagung - kelompok tani / gapoktan - industri olahan untuk konsumsi manuasia maupun pakan ternak - pedagang anatara pulau - super market / toko / kios dan - konsumen. -Petani jagung - pengusaha kabupaten / antarpulau. Untuk membantu petani dalam memasarkan hasil jagung maka penyuluh memegang peranan pentin. Peran yang yang dapat dimainkan oleh penyuluh anatara lain adalah mencari dan menginformasikan berbagai teknologi pasca panen , membantu menemukam pasar - pasar potensial serta melakukan bimbingan kepada petani untuk berorientasi agribisnis, melaksanakan diklat budidaya dan pengolahan serta memfasilitasi pelaku utama membangun kemitraan dengan pengusaha dan kelembagaan ekonomi lainnya. Apabila peran tersebut berjalan dengan baik maka posisi tawar petani terhadap harga akan lebih menguntungkan dan pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Penulis : Andreas R. Bale - Badan Ketahanan Pangan Dan Penyuluhan Provinsi NTT.