Loading...

PERAN POSITIF PUPUK KANDANG SAPI TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN PADI SAWAH

PERAN POSITIF PUPUK KANDANG SAPI TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN PADI SAWAH
Pupuk kandang/kotoran hewan yang berasal dari usaha tani pertanian seperti kotoran ayam, sapi, kerbau, dan kambing. Kandungan hara pada masing-masing berbeda tergantung pada jumlah dan jenis makanannya. Secara umum, kandungan hara dalam kotoran hewan lebih rendah daripada pupuk kimia. Oleh karena itu biaya aplikasi pemberian pupuk kandang (pukan) ini lebih besar daripada pupuk anorganik. Hal ini karena untuk menyamai jumlah unsur hara yang dikandung pupuk kimia, jumlah pupuk kandang yang dibutuhkan sangat banyak. Di antara jenis pupuk kandang, pupuk kandang sapi yang mempunyai kadar serat yang tinggi seperti selulosa, sehingga memiliki C/N rasio yang cukup tinggi >40. Tingginya kadar C dalam kotoran sapi menghambat penggunaan langsung ke lahan pertanian karena akan menekan pertumbuhan tanaman utama. Penekanan pertumbuhan terjadi karena mikroba dekomposer akan menggunakan N yang tersedia untuk mendekomposisi kotoran sapi tersebut sehingga tanaman utama akan kekurangan N. Untuk memaksimalkan penggunaan kotoran sapi harus dilakukan pengomposan agar menjadi kompos (pupuk kandang) sapi dengan rasio C/N di bawah 20. Kotoran sapi yang telah dikomposkan memberikan lebih banyak keuntungan dan berfungsi meningkatkan kesuburan kimia, fisik, dan biologi tanah. Pemberian pupuk kandang pada lahan sawah dalam jangka waktu lama akan memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan aerasi tanah. Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pupuk kandang berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan per rumpun, jumlah daun, jumlah anakan produktif, bobot gabah per rumpun, bobot gabah per hektar, dan bobot 1000 butir. Kotoran sapi berfungsi sebagai amelioran yang dapat memperbaiki jumlah dan aktivitas mikroba dan sumber hara dalam tanah sehingga dapat meningkatkan kualitas tanah. Penggunaan kotoran sapi menjadi pupuk untuk kesuburan tanah tidak hanya akan melestarikan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kualitas dan nilai ekonomi dari kotoran sapi. Disisi lain, penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus dalam jangka waktu lama akan mengeraskan tanah sehingga daya responsnya cenderung menurun. Oleh karena itu pemberian pupuk kimia harus dikombinasikan dengan pupuk kandang. Penggunaan pupuk kandang secara murni ataupun dikombinasikan dengan pupuk kimia (anorganik) sangat berperan dalam meningkatkan produktivitas tanaman pertanian melalui perbaikan struktur tanah dan penyediaan unsur hara. Kombinasi antara pupuk kandang sapi dan pupuk kimia dapat menjaga keseimbangan sifat fisik dan kimia tanah serta mencegah tanah dari kerusakan. Penggunaan kotoran sapi menjadi pupuk untuk kesuburan tanah tidak hanya akan melestarikan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kualitas dan nilai ekonomi dari kotoran sapi. Pengkajian yang dilakukan oleh Pratiwi (2015) yang membandingkan pertumbuhan tanaman padi Sidenuk dengan 6 perlakuan yaitu: 1) Tanamam pindah tanpa pukan sapi, 2) Jajar Legowo tanpa pukan sapi, 3) SRI tanpa pukan sapi, 4) Tanamam pindah dengan pukan sapi, 5) Jajar Legowo dengan pukan sapi, 6) SRI dengan pukan sapi. Umur bibit pada tanam pindah dan jajar legowo 21 hss, sedangkan umur bibit untuk SRI 12 hss. Jarak tanam untuk tanam pindah yaitu 20 x 20 cm dengan 2 bibit per lubang, jarak tanam jajar legowo [(20 x 20) x 40 cm] dengan 2 bibit per lubang, sedagkan untuk SRI jarak tanam 30 x 30 cm dan 1 bibit per lubang. Pupuk kendang sapi diberikan sebanyak 28,8 kg per petak yang diberikan saat pengolahan tanah pertama atau 3 minggu sebelum tanam. Pupuk Urea sesuai rekomendasi diberikan pada umur 7, 25, 40 hst. Pupuk SP-36 dan KCl diberikan pada pemupukan pertama. Hasil pengkajian menunjukkan ada 4 kelompok hasil yang diperoleh dari hasil tertinggi sampai hasil terrendah yaitu: 1) Hasil per petak pertama (jajar legowo dengan pukan = 73,50 kg dan Tapin dengan pukan = 73,00 kg), 2) Hasil per petak kedua (Tapin tanpa pukan = 67,75 kg dan Jajar Legowo tanpa pukan = 69,25 kg), 3) Hasil per petak ketiga yaitu: SRI dengan pukan = 49,00 kg, dan 4) Hasil per petak keempat yaitu: SRI tanpa pukan = 45,75 kg (Ahmad Damiri)