Ketersediaan sumber hijauan pakan bagi ternak ruminansia semakin berkurang, akibat terjadinya penyempitan lahan usaha yang tersedia. Sementara lahan yang ada cendrung dimanfaatkan petani untuk ditanam dengan tanaman pertanian yang memberikan manfaat langsung terhadap kebutuhan manusia. Maka pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan alternatif, adalah salah satu solusi untuk menanggulagi kekurangan pakan ternak ruminansia. Dimana diversifikasi pemanfaatan produk samping (by-product) yang sering dianggap sebagai limbah (waste) dari tanaman pertanian dan perkebunan sebagai pakan tambahan atau pengganti bagi mternak sapi, dapat mendorong perkembangan agribisnis ternak ruminansia secara integratif dalam suatu sistem produksi terpadu dengan pola tanaman-ternak melalui daur ulang biomasa yang ramah lingkungan atau dikenal “zero waste production system” (Wahyono, dkk, 2003). Pemberian ransum dengan kualitas baik pada saat induk bunting tua (dua bulan akan melahirkan) dapat berpengaruh terhadap peningkatan bobot lahir anak. Sebaliknya apabila mendapat pakan dengan kualitas rendah, akan berdampak terhadap; bobot lahir rendah; kondisi lemah; dan tingkat kematian tinggi pada pedet yang dilahirkan. Bobot lahir merupakan faktor yang penting dalam pertumbuhan pedet sapi, dimana sapi dengan bobot lahir baik dan lahir secara normal akan lebih mampu mempertahankan kehidupannya (Prasojo dkk 2010). Pada wilayah sentra tanaman kopi pemilihan pakan tambahan berbasis kulit kopi dapat menjadi pilihan, karena limbah kulit kopi merupakan limbah yang belum dimanfaatkan secara optimal. Pemanfaatan limbah kulit kopi untuk pakan sapi sebaiknya dilakukan setelah melalui proses fermentasi, yang dapat meningkatkan kendungan nutrisi dan daya cerna kulit kopi sebagai pakan ternak sapi. Dalam rangka pengembangan dan pembibitan sapi potong di Kabupaten Kepahiang sebagai daerah sentra kopi, maka dilakukan semacam kajian pemanfaatan limbah kulit kopi sebagai pakan tambahan bagi ternak sapi bunting dengan metode flushing untuk meningkatkan performan induk dan anak yang dilahirkan. Kajian dilakukan terhadap 7 ekor induk sapiBali pada usia kebuntingan 7 bulan, diberi hijauan (10% BB/ ekor/hari) dan pakan tambahan berbasis limbah kulit kopi fermentasi (2% BB/ekor/hari) dan suplemen minovit untuk peningkatan reproduksi induk dari Balai Penelitian Ternak (Balitnak) sebanyak 10 gram/ekor/hari. Hasil kajian memberikan perbaikan pertambahan berat lahir sapi Bali menjadi Rerata 17,4 kg dibandingkan denga Rerata berat lahir sebesar 15,28 kg pada 7 ekor sapi induk bunting 7 bulan yang hanya diberi Hijauan sebanyak 10% BB/ekor/hari tanpa diberi pakan tamabhan atau minovit. Hasil ini lebih tinggi dari yang dilaporkan oleh Panjaitan (2012) bahwa bobot lahir sapi Bali mencapai 14 ± 2.9 kg pada pemeliharaan village breeding center di Lombok. Disamping itu juga pemberian pakan tambahan berupa limbah kulit kopi fermentasi kepada induk sapi bunting, berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konsumsi hijauan pakan ternak induk sapi. Dimana induk sapi bunting yang mendapat asupan pakan tambahan, cendrung terjadi penurunan terhadap konsumsi hijauan pakan ternak sekitar 15% lebih hemat. Melalui paket teknologi pakan untuk induk sapi Bali bunting/ekor/hari (Berupa: Hijauan 28 – 30 kg; dtambah kulit kopi fermentasi 2 – 4 kg; dtambah Minovit 10 gram) dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas ransum yang diberikan, sehingga pedet yang dilahirkannya tampak lebih sehat dengan berat lahir baik. Sebaiknya pemberian pakan berbasis kulit kopi kepada induk sapi yang sedang bunting, dilakukan secara rutin dan sesuai dengan kebiasaan ternak sapi sehingga tidak mengganggu metabolisme ternak tersebut (Ruswendi).