Loading...

PERBANDINGAN PRODUKTIVITAS VARIETAS KEDELAI DETAP 1 DAN DEMAS 1 PADA LAHAN KERING MASAM

PERBANDINGAN PRODUKTIVITAS VARIETAS KEDELAI DETAP 1 DAN DEMAS 1 PADA LAHAN KERING MASAM
Kedelai merupakan komoditas penting di Indonesia karena sebagai sumber protein nabati, bahan baku industri pakan ternak, dan bahan baku aneka industry olahan pangan. Pada budidaya kedelai, komponen teknologi varietas unggul dinilai paling mudah diadopsi oleh petani dibandingkan dengan komponen teknologi lainnya. Penggunaan varietas yang adaptif di lahan kering merupakan alternatif untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. Mengingat beragamnya karakter lahan dan banyaknya kendala di lahan kering, maka diperlukan varietas yang spesifik lokasi. Adopsi teknologi budidaya kedelai oleh petani terus diupayakan, dimana teknologi tersebut meliputi: 1) varietas unggul potensi hasil tinggi yang memiliki karakter beragam umur panen, ukuran dan warna biji, serta kesesuaiannya terhadap kondisi lahan, 2) pengelolaan lahan (tanam, air, dan hara). Tanaman kedelai dapat diusahakan pada berbagai agroekosistem. Secara umum lahan pertanian dapat di kelompokkan pada 4 agroekosistem utama yaitu: 1) lahan sawah, 2) lahan kering, 3) lahan pasang surut, dan 4) lahan rawa lebak. Setiap agroekosistem mempunyai kondisi dan permasalahan yang berbeda, sehingga diperlukan teknologi atau komponen teknologi spesifik agar potensi lahannya dapat dimanfaatkan secara optimal. Agroekosistem lahan kering dibedakan menjadi dua kelompok yaitu lahan kering masam dan lahan kering tidak masam. Penanaman kedelai harus menggunakan varietas benih berkualitas. Benih berkualitas memiliki daya tumbuh >85%, murni, sehat, dan bersih, dengan total kebutuhan benih 40 – 60 kg/ha, tergantung pada ukuran bibit; semakin besar ukuran biji, semakin banyak benih yang dibutuhkan. Pengembangan kedelai pada lahan kering masam menghadapi masalah diantaranya adalah keracunan unsur hara mikro dan defisiensi unsur hara makro. Keracunan unsur hara mikro antara lain Al dan Mn, defisiensi unsur hara makro N, P, K, Ca, Mg dan Mo, dan pengaruh buruk ion H+, serta rendahnya populasi mikro organisme menguntungkan seperti Rhizobium dan Mikoriza, mengakibatkan kerusakan organ dan perubahan proses fisiologis tanaman. Kerusakan organ terutama akar, tidak hanya menyebabkan terganggunya proses pengambilan nutrisi, tetapi juga dapat menyebabkan kematian tanaman. Defisiensi unsur makro menyebabkan penurunan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Kedua faktor tersebut menyebabkan rendahnya produktifitas kedelai pada lahan kering masam. Untuk mengatasi masalah ini dapat dilakukan dengan perbaikan kondisi lahan, atau dengan penyediaan varietas toleran. Salah satu varietas kedelai yang toleran terhadap lahan kering masam adalah Demas 1. Varietas ini memiliki keunggulan adaptif pada lahan kering masam. Keunggulan lain dari varietas Demas 1 adalah hasil biji rata-rata tinggi yaitu 1,70 t/ha dengan potensi hasil mencapai 2,51 t/ha pada kondisi cekaman kemasaman tanah. Ukuran biji 12,88 g/100, termasuk dalam kelompok biji sedang. Varietas ini tahan terhadap penggerek polong Etiella zinckenella, tahan terhadap penyakit karat daun Phakopsora pachyrhizi, agak tahan terhadap pengisap polong Riptortus linearis, serta memiliki kandungan protein biji mencapai 36,07%. Varietas Demas 1 memiliki tinggi tanaman sekitar 66,30 cm, dan umur masak sekitar 84 hari. Hasil pengujian yang dilakukan oleh Nurbani dan kawan-kawan yang membandingkan pertumbuhan dan produktivitas varietas Detap 1 dengan Demas 1. Masing-masing varietas diberi pupuk dengan dua perlakuan yaitu: 1) Urea 75 kg, SP-36 100 kg dan KCl 100 kg/ha dan dolomit 500 kg per hektar dan 2) Urea 75 kg, SP-36 100 kg dan KCl 150 kg/ha dan dolomit 500 kg per hektar pada lahan kering di Desa Tunggal Bumi Kecamatan Talisayan Kabupaten Berau Kalimantan Timur pada bulan Juli sampai Nopember 2018. Perbandingan hasil yang diperoleh dari pengujian Varietas Detap 1 yang diberi paket pupuk 1 dibandingkan dengan Varietas Detap 1 yang diberi paket pupuk 2 dibandingkan dengan Varietas Demas 1 yang diberi paket pupuk 1 dibandingkan dengan Varietas Demas 1 yang diberi paket pupuk 2 yaitu: Perbandingan tinggi tanaman masing-masing yaitu: 65,00 cm : 65,20 cm : 65,10 cm : 65, 28 cm. Masing-masing tinggi tanaman ini tidak berbeda nyata. Perbandingan jumlah cabang produktif masing-masing yaitu: 4,00 cabang : 3,80 cabang : 4,00 cabang : 4,40 cabang. Masing-masing jumlah cabang produktif ini tidak berbeda nyata. Perbandingan jumlah polong per tanaman masing-masing yaitu: 49,60 polong : 49,80 polong : 52,60 polong : 53,00 polong. Varietas Demas 1 dengan paket pupuk 2 tidak menunjukkan perbedaan dengan dengan Varietas Demas 1 yang diberi paket pupuk 1, tetapi berbeda dengan varietas Detap 1 yang diberi paket pupuk 1 maupun 2. Perbandingan produktivitas per petak masing-masing yaitu: 16,18 kg : 16,32 kg : 16,54 kg : 16,62 kg. Varietas Demas 1 dengan paket pupuk 2 tidak menunjukkan perbedaan dengan dengan Varietas Demas 1 yang diberi paket pupuk 1, tetapi Varietas Demas 1 dengan paket pupuk 2 maupun 1 berbeda dengan varietas Detap 1 yang diberi paket pupuk 1 maupun 2. (ahmad Damiri). Sumber: Nurbani, Yossita Fiana dan Sundari. 2019. Pengaruh Pemupukan NPK Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Kedelai Varietas Detap 1 dan Demas 1 Pada Lahan Kering Masam Di Kalimantan Timur. Prosiding Seminar Nasional Pertanian. 2019. Hal 1 – 8