Pada umumnya petani menggunakan pestisida kimia untuk menekan kerusakan tanaman tersebut, karena dianggap lebih cepat memberikan efek hasil, mudah diaplikasikan serta mudah untuk mendapatkannya. dalam perkembangannya, disadari bahwa penggunaan pestisida kimia dapat menyebabkan kerusakan pada lingkungan dan memberikan efek negatif pada kesehatan manusia. hal tersebut mendorong seseorang untuk meminimalkan penggunaan pestisida kimia, dengan cara memanfaatkan agen pengendali hayati. penggunaan agen pengendali hayati dalam mengendalikan opt semakin berkembang, karena cara ini lebih unggul dibanding pengendalian berbasis pestisida kimia. corynebacterium, atau bakteri coryn adalah agen hayati paenibacillus polymixa. bakteri ini sudah dikenal khususnya oleh petani di indonesia sejak 18 tahun yang lalu. petani memanfaatkan corynebacterium untuk mengendalikan penyakit kresek /hdb (hawar daun bakteri) yang disebabkan oleh bakteri xanthomonas oryzae. corynebacterium sp kemudian menjadi sarana pengendalian penyakit hdb yang efektif, ramah lingkungan serta telah diterima oleh petani secara nasional, bahkan telah dimanfaatkan untuk pengendalian penyakit tanaman yang lain. paenibacillus polymyxa merupakan bakteri non patogen yang menguntungkan dibidang kesehatan dan lingkungan. bakteri ini penghasil antibiotik polimiksin. antibiotik merupakan zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan mempunyai daya hambat terhadap kegiatan mikroorganisme lain. di bidang pertanian, paenibacillus polymyxa dapat ditemukan di tanah dan tanaman. bakteri ini mampu mengikat nitrogen. biofilms dari paenibacillus polymyxa menunjukkan produksi eksopolysakarida pada akar tanaman yang dapat melindungi tanaman dari patogen. hasil uji di biogen bakteri juga mengandung hormon pengatur gibberellins, hasil identifikasi ini menunjukkan bahwa paenibacillus polymyxa yang selama ini sudah digunakan oleh petani bukan bakteri yang berbahaya bagi manusia. petani dihimbau untuk tidak ragu – ragu dalam menggunakan corynebacterium sebagai agens pengendali hayati karena corynebacterium yang selama ini kita gunakan adalah paenibacillus polymyxa. cara kerja dari bakteri antagonis corynebacterium/paeni bacillus polymixa adalah bersaing hidup dengan bacterial leap blight/leap streak/blas makin banyak paeni bacillus polymixa yang hidup dengan angka liter/ kepadatan populasi 1000.000 per ml, akan mengalahkan perkembangbiakan bacterial leap blight / leap streak/blas dan bacterial leap blight/ leap streak/blas terhambat perkembangan hidupnya, sehingga tanaman padi selamat dari infeksi bakteri tersebut dan penyebaran penyakit dapat ditekan. Berikut cara pembiakan corynebacterium/paeni bacillus polymixa : Bahan-bahan (ekstrak kentang gula/ ekg) ; kentang 300 gr gula pasir 15 gr air bersih 1 ltr isolate murni corynebacterium/paeni bacillus polymixa alat-alat (fermentor) : larutan pk (kmno4) glass wool/busa (filter) aerator jerigen selang plastik cara membuat : kentang dikupas, potong dadu ukuran 1 cm, cuci bersih sampai lendir hilang, rebus dalam air mendidih; pisahkan kentang dengan air, masukan gula pasir dalam air rebusan, rebus selama 20 menit, biarkan dingin, tutup panci jangan dibuka; setelah dingin masukkan larutan ekg dan isolat murni coryne bacterium ke dalam jerigen, hidupkan aerator selama 15 hari; coryne bacterium sudah dapat digunakan sebanyak 5 ml larutan coryne bacterium untuk setiap satu liter air.(budimanz)