Loading...

PERBANYAKAN APH (AGENSIA PENGENDALIAN HAYATI) DI ABUNG SURAKARTA

PERBANYAKAN APH (AGENSIA PENGENDALIAN HAYATI) DI ABUNG SURAKARTA

1. Pengertian APH

Agensia Pengendali Hayati (APH) adalah organisme hidup yang digunakan untuk menekan populasi hama secara alami. APH dapat berupa:

  • Parasitoid (misal Trichogramma spp.)

  • Predator (misal Coccinellidae, laba-laba)

  • Patogen serangga: jamur (Beauveria bassiana, Metarhizium anisopliae), bakteri (Bacillus thuringiensis), virus NPV

  • Nematoda entomopatogen

Perbanyakan APH bertujuan menyediakan stok yang cukup untuk aplikasi lapangan.


2. Prinsip Perbanyakan APH

  1. Kualitas lebih penting daripada kuantitas

  2. Menggunakan media dan inang yang sesuai

  3. Lingkungan kultur harus bersih, steril, dan terkontrol

  4. Hindari kontaminasi jamur/bakteri liar

  5. Perbanyakan mengikuti SOP APH sesuai jenisnya


3. Jenis-Jenis APH dan Cara Perbanyakannya


A. PERBANYAKAN Beauveria bassiana

(Jamur entomopatogen untuk ulat, wereng, kumbang, dll.)

Bahan & Media

  • Biakan murni B. bassiana

  • Beras/jagung/beras jagung (media padat)

  • Air bersih

  • Alkohol 70% untuk sterilisasi

  • Autoklaf/dandang pengukus

  • Kantong plastik PP

Langkah Perbanyakan

  1. Siapkan media

    • Cuci beras/jagung dan kukus 30–60 menit.

    • Dinginkan hingga suhu ruang.

  2. Inokulasi

    • Masukkan media ke plastik PP, beri lubang kecil.

    • Tambahkan biakan murni B. bassiana (1–2 sendok).

  3. Inkubasi

    • Simpan di ruang gelap, suhu 25–28°C.

    • Diamkan 10–14 hari hingga seluruh media memutih.

  4. Pengeringan

    • Kering-anginkan 1–2 hari.

  5. Penyimpanan

    • Simpan serbuk spora dalam botol kedap cahaya.

Kualitas Baik

  • Bau jamur alami

  • Warna putih keabu-abuan

  • Tidak berbau busuk


B. PERBANYAKAN Metarhizium anisopliae

(Jamur hijau untuk rayap, wereng, dan kumbang.)

Metode hampir sama dengan B. bassiana

Perbedaan:

  • Media jadi hijau tua saat matang

  • Suhu ideal 26–30°C


C. PERBANYAKAN Trichogramma spp. (Parasitoid Telur)

Bahan

  • Telur inang (biasanya telur Corcyra cephalonica)

  • Kertas karton kecil

  • Tabung kultur

Langkah

  1. Siapkan telur Corcyra (disterilkan dengan UV).

  2. Tempel telur pada kartu kecil (kartu trichogramma).

  3. Masukkan kartu tersebut ke kotak kultur berisi induk Trichogramma.

  4. Inkubasi 5–7 hari hingga telur berubah warna (tanda berhasil diparasit).

  5. Kartu siap dilepas ke lapangan.


D. PERBANYAKAN Beauveria & Metarhizium Cair (Fermentasi)

Bahan

  • Biakan murni

  • Molase

  • Air bersih

  • Aerator

  • Jerigen 20 L

Cara

  1. Larutkan molase + air.

  2. Masukkan starter jamur.

  3. Aerasi selama 3–5 hari.

  4. Saring dan siap aplikasi.


E. PERBANYAKAN Bakteri Bacillus thuringiensis (Bt)

(Untuk ulat pemakan daun)

Cara Singkat

  1. Siapkan media cair (nutrien broth).

  2. Sterilisasi botol.

  3. Masukkan kultur Bt murni.

  4. Inkubasi 2–3 hari pada 25–30°C.

  5. Larutan keruh → siap dipakai.


4. Cara Aplikasi APH di Lapangan

Jamur Entomopatogen

  • Dosis: 100–200 gram spora/ha (atau 10–20 ml/liter untuk formulasi cair).

  • Waktu aplikasi: sore hari, kelembaban tinggi.

  • Hindari pencampuran dengan fungisida.

Parasitoid (Trichogramma)

  • 1–2 kartu per hektar.

  • Letakkan di bawah naungan daun.

  • Ulangi setiap 7–14 hari.

Bakteri Bt

  • 5–10 gram/liter.

  • Disemprot pada daun muda.


5. Keuntungan Menggunakan APH

  • Aman untuk manusia & lingkungan

  • Tidak meninggalkan residu

  • Menekan biaya pestisida

  • Efektif mengendalikan hama sasaran

  • Menjaga musuh alami tetap hidup


6. Kesalahan yang Harus Dihindari

❌ Media tidak steril → kontaminasi
❌ Pencampuran jamur APH dengan fungisida
❌ Penggunaan bahan kimia dekat waktu pelepasan APH
❌ Inkubasi tidak sesuai suhu/kelembaban
❌ Menggunakan starter yang sudah lemah atau rusak


7. Penutup

Perbanyakan APH adalah strategi pengendalian hama yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dengan teknik yang benar, petani dapat memproduksi APH secara mandiri dan mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia.

Disusun Oleh Diago Fajar Saputra, S.P. (PPL ABUNG SURAKARTA)