Tanaman srikaya sebagai buah tropis, sampai saat ini belum ada yang mengusahakan dan mengembangkan secara khusus seperti tanaman mangga atau belimbing manis dan tanaman buah lainnya. Tanaman srikaya masih diusahakan secara tradisional oleh masyarakat dalam jumlah terbatas sebagai tanaman pekarangan. Dalam budidaya tanaman srikaya tidak begitu sulit, karena tanaman ini mudah diperbanyak baik secara generatif maupun vegetatif. Perbanyakan secara generatif dengan biji dan perbanyakan secara vegetatif menggunakan bagian tanaman yang produktif selain biji. A. Perbanyakan Secara Generatif Perbanyakan tanaman menggunakan biji memerlukan waktu untuk berbuah sangat lama, sekitar 4 tahun.Disamping itu, kemungkinan menghasilkan tanaman yang menyimpang dari induknya cukup besar dan bibit yang dihasilkan belum tentu seragam. Hal ini akibat adanya penyerbukan silang pada tanaman srikaya. Pohon induk srikaya yang dipilih dalam perbanyakan secara generative harus memiliki sifat unggul, cepat berbuah, daging buah tebal, rasanya manis, ukuran buah besar, biji kecil serta sedikit, produksi tinggi, dan jika mungkin berbuah sepanjang tahun.dari buah yang sudah matang, cukup umur, buah dalam keadaan normal, sehat, dan berukuran besar. Ukuran buah akan menentukan jumlah biji tiap buah dan ukuran bijinya. Biji-biji dicuci dengan air bersih untuk menghilangkan lapisan gula buah pada kulit biji yang dapat merangsang datangnya semut dan serangga cendawan. Setelah biji dikering anginkan selama 2 hari dan hindarkan dari cahaya matahari langsung. Biji kering yang dipilih berukuran besar, seragam, sehat, bersih, mengkilap dan bernas. Biji disimpan di tempat yang bersih dan memiliki ventilasi, misalnya dalam botol yang disumbat dengan kapas atau abu sekam sehingga udara masih bisa keluar masuk. Penyimpanan tidak boleh terlalu lama sebab biji cepat mengalami kemunduran daya tumbuh. Untuk mendapatkan bibit yang terseleksi, biji terpilih disemaikan terlebih dahulu. Karena biji srikaya memiliki kulit yang keras dan kaku, maka diperlukan sedikit perlakuan untuk mempercepat pengecambahan biji, yaitu: (a).biji direndam dalam air hangat 60 C selama 5 (lima) jam dan dibiarkan hingga air menjadi dingin, (b).biji direndam dalam air dingin selama 24 jam, dan (c).biji direndam dalam larutan Atonik 2 cc/liter air selama 4 (empat) jam. Setelah proses perendaman, biji diangkat dan segera ditanamkan dalam media pesemaian yang tidak terkena cahaya matahari langsung. B. Perbanyakan Secara Vegetatif Perbanyakan secara vegetatif yang umum dilakukan adalah dengan cara okulasi dan sambung pucuk, sedangkan cara lain belum bisa dilakukan dan keberhasilannya sangat kecil. Okulasi dan sambung pucuk dilakukan hanya pada tanaman sejenis yang sama, sebab hingga saat ini belum ditemukan jenis srikaya yang khusus sebagai batang bawah atau batang atas. Keberhasilan kedua cara tersebut sangat ditentukan oleh kedua tanamannya, yaitu dengan adanya paduan yang baik antara batang atas dan batang bawahnya. a. Bibit Okulasi. Untuk mendapatkan bibit secara okulasi diperlukan batang bawah dan mata tunas untuk penempelan. Batang bawah diperoleh dari bibit hasil penyemaian biji dengan syarat: (a) bibit hasil seleksi berukuran seragam, (b) bibit sehat dan pertumbuhannya normal, (c) telah cukup umurnya, kira-kira sekitar 8 - 12 bulan, atau memiliki ketinggian sekitar 60 cm dari diameter batang sekitar 0,5 cm. Untuk mata tempel dipilih mata tunas yang aktif dari batang produktif, tidak terlalu tua atau muda, sehat, normal, produksi tinggi, ukuran buah besar, dan rasa enak. Pelaksanaan okulasi dilakukan sebagai berikut: (a) siapkan batang yang memiliki mata tunas baik untuk bahan tempelan. (b) bibit batang bawah disayat kulitnya berbentuk lidah dengan ukuran 0,5 x 2 cm menggunakan pisau tajam yang bersih, dan posisinya sekitar 10 cm dari permukaan tanah (c) ambil mata tunas dengan cara disayat sehingga membentuk perisai, kemudian ditempelkan pada luka sayatan batang bawah. Penempelan dilakukan secepat mungkin, sebab tanaman srikaya memiliki kambium yang tipis dan cepat kering, (d) jika posisinya telah tepat bersentuhan, segera diikat tali plastik. Pengikatan jangan terlalu ketat atau longgar serta tidak mengganggu mata tunas untuk tumbuh dan, (e) umumnya 2 minggu setelah penempelan, mata tunas dengan batang bawahnya telah berlekatan dengan baik dan warnanya hijau. Hal ini menandakan keberhasilan proses okulasi. Setelah berumur sekitar 1 (satu) bulan sejak tunas tumbuh, maka ujung batang bawah dapat dipotong sekitar 5 cm di atas mata tunas tersebut. b. Cara Sambung Pucuk. Perbanyakan tanaman dengan cara sambung pucuk dapat dilakukan dengan sambung celah, sambung lengkung, sambung lidah, sambung pelana, sambung akar, sambung cemeti. Namun yang banyak dilakukan adalah dengan sambung celah. Bibit batang bawah yang digunakan hasil penanaman dari biji yang telah berumur 8 - 12 bulan atau memiliki diameter batang sekitar 0,5 - 0,75 cm. Cara melakukan sambung celah adalah: (a) batang bawah tanaman dipotong setinggi 10 cm dari permukaan tanah, (b) potong dan siapkan pucuk untuk sambungan batang atas yang panjangnya 10 - 15 cm, kemudian taamkam kedua sisi ujung batang tersebut dengan pisau steril dan tajam, (c).buatlah celah pada batang bawah sedalam 2 cm menggunakan pisau steril dan tajam, (d) masukkan batang atas kedalam celah batang bawah hingga kedua belah sisi atau kulit dan kambiumnya bersinggungan. Kemudian ikatlah dengan tali plastik. Pengikatan diusahakan tidak terlalu kuat atau lemah dan air tidak masuk ke dalamnya, (e) beri sungkup dari plastik bening dan ikat di bagian bawahnya untuk mengurangi penguapan tanaman, (f) tempatkan bibit hasil penyambungan tersebut pada tempat yang teduh Penyungkupan berlangsung 5 - 7 hari. Apabila batang tetap hijau serta daun dan tunas menandakan adanya pertumbuhan, maka proses penyambungan tersebut berhasil. Tali plastik dapat dilepas setelah callus terbentuk pada sambungan dan berwarna hijau. Disarikan oleh : Lasarus, Pusluhtan Sumber : 1. Ir. Juhaeni R. 1997. Budidaya Srikaya, Penerbit Kanisius, Yogyakarta 2. Sumarno DS; Isto Suwarno, 2011. Srikaya Jumbo Potensi Unggul Si Buah Super. Penerbit Lily Publisher, Yogyakarta