Loading...

PERBANYAKAN TRICHODERMA sp SEBAGAI AGENSIA HAYATI PENGENDALI ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN

PERBANYAKAN TRICHODERMA sp SEBAGAI AGENSIA HAYATI PENGENDALI ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN

Penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit merupakan cara yang populer yang dilakukan petani karena sifat kerjanya yang cepat dan efektifitasnya tinggi. Penggunaan pestisida disisi lain menimbulkan masalah bagi lingkungan dan manusia(Untung, 2006). Nilai higienis produk pertanian menjadi berkurang dan dapat menimbulkan masalah kesehatan dan lingkungan yang mengakibatkan terjadinya resistensi hama sasaran, terbunuhnya musuh alami, serta mengakibatkan peningkatan residu pada produk pertanian. 

Secara alami di lingkungan terdapat pengendali hayati yang mampu mencegah dan mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman.  Pengendali hayati adalah setiap organisme atau mahluk hidup, terutama serangga, cendawan, cacing, bakteri, virus dan binatang lainnya yang dapat dipergunakan untuk pengendalian OPT.  Salah satu alternatif yang dapat digunakan dalam pengendalian penyakit pada tanaman adalah penggunaan pestisida hayati Trichoderma sp.   Trichoderma yang bersifat parasit terhadap jenis jamur bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan dan penyebaran patogen tular tanah penyebab penyakit busuk pangkal batang dan busuk akar yang menyebabkan tanaman layu, seperti pada tanaman cabai. 

Mengingat manfaatnya yang begitu besar, kebutuhan akan Trichoderma di lahan pertanian pun meningkat. Namun, membeli produk komersial dalam jumlah besar bisa menjadi beban biaya bagi petani. Solusi yang paling efektif dan ekonomis adalah dengan memperbanyaknya sendiri. Proses ini relatif sederhana dan dapat dilakukan dengan peralatan yang mudah ditemukan.

 

Persiapan Media Tumbuh

Langkah pertama dalam perbanyakan adalah menyiapkan "rumah" atau media bagi Trichoderma untuk tumbuh dan berkembang biak. Media yang paling umum digunakan karena kemudahan dan ketersediaan adalah beras.

  1. Penyiapan Beras: Siapkan beras secukupnya, cuci hingga bersih, lalu rendam selama kurang lebih 2-3 jam agar teksturnya menjadi lebih lunak.
  2. Pengemasan: Setelah direndam, tiriskan beras dan masukkan ke dalam kantong plastik bening yang tahan panas. Cukup isi sekitar seperempat hingga sepertiga bagian kantong untuk memberikan ruang bagi jamur untuk bernapas dan tumbuh.
  3. Sterilisasi: Langkah ini adalah kunci keberhasilan. Media beras harus disterilkan untuk membunuh semua mikroorganisme lain yang berpotensi menjadi pesaing atau kontaminan. Kukus media di dalam panci selama 30-45 menit. Setelah matang, angkat dan biarkan dingin hingga mencapai suhu ruang. Proses pendinginan ini penting agar biang Trichoderma yang akan dimasukkan nanti tidak mati karena panas.

Inokulasi: Menanam Bibit Jamur

Setelah media steril dan dingin, saatnya untuk menanamkan biang atau starter Trichoderma. Proses ini disebut inokulasi dan harus dilakukan secara aseptik (bebas kuman) untuk mencegah kontaminasi.

  1. Ciptakan Area Steril: Lakukan proses inokulasi di dekat sumber api, seperti lilin atau lampu bunsen. Panas dari api akan membantu menghalau spora jamur atau bakteri lain di udara.
  2. Pindahkan Biang: Buka mulut kantong plastik berisi media dengan hati-hati. Menggunakan sendok atau spatula yang sudah disterilkan (dengan cara dipanaskan di atas api lalu didinginkan), ambil biang Trichoderma murni dan masukkan ke dalam media beras.
  3. Tutup dan Campurkan: Segera tutup kembali mulut kantong dengan rapat, bisa menggunakan karet atau di-press dengan lilin. Kocok kantong secara perlahan agar biang jamur dapat tersebar dan tercampur merata dengan media beras.

 

Inkubasi: Masa Pertumbuhan

Kantong-kantong yang telah diinokulasi kemudian memasuki masa inkubasi, yaitu periode di mana Trichoderma akan tumbuh dan berkembang biak. Simpan kantong-kantong tersebut di tempat yang sejuk, teduh, dan tidak terkena sinar matahari secara langsung.

Dalam 2-3 hari pertama, akan mulai terlihat pertumbuhan miselium berwarna putih seperti benang kapas yang menyebar di permukaan beras. Seiring berjalannya waktu, miselium ini akan terus tumbuh hingga menutupi seluruh media. Setelah sekitar 7-10 hari, miselium akan mulai memproduksi spora, yang ditandai dengan perubahan warna menjadi hijau pekat.

 

Panen dan Aplikasi

Trichoderma siap dipanen ketika seluruh media di dalam kantong telah tertutup sempurna oleh spora berwarna hijau tua. Ini biasanya terjadi dalam waktu 10-14 hari. Kini, Anda memiliki "pasukan" jamur baik yang siap bertugas di lahan pertanian.

Ada beberapa cara untuk mengaplikasikannya:

  • Campuran Media Tanam/Kompos: Campurkan langsung Trichoderma yang sudah jadi dengan pupuk kandang, kompos, atau media tanam dengan perbandingan sekitar 10 gram per 1 kg media.
  • Suspensi Cair: Larutkan 10-15 gram (sekitar satu sendok makan) Trichoderma ke dalam 1 liter air. Aduk rata, lalu semprotkan atau siramkan larutan tersebut di area perakaran tanaman.
  • Perlakuan Benih: Balurkan Trichoderma pada benih sebelum disemai untuk melindunginya dari serangan penyakit sejak dini.

Dengan memperbanyak Trichoderma sp. secara mandiri, petani tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga mengambil langkah proaktif dalam menerapkan praktik pertanian yang sehat, berkelanjutan, dan ramah bagi lingkungan.

 

(MIRA LERIZKA- PENYULUH PERTANIAN- BPP ABUNG SELATAN)