Loading...

PERINGATAN HKP KE 40 TINGKAT JAWA BARAT

PERINGATAN HKP KE 40 TINGKAT JAWA BARAT
Gubernur Jawa Barat Dr. H. Ahmad Heryawan, Lc. didampingi Bupati Garut H. Aceng HM. Fikri, S.Ag. membuka Peringatan Hari Krida Pertanian Ke 40 Tingkat Jawa Barat di Kabupaten Garut. Puncak peringatan HKP dimaksud berlangsung mulai tanggal 2 sampai 5 Juli 2012, bertempat di Alun-alun Kabupaten Garut. Pada kesempatan tersebut hadir pula unsur Pimpinan dan anggota DPRD Jabar, Dirjen Tanaman Pangan, Dirjen Hortikultura, unsur pejabat Kementrian Kelautan dan Perikanan, unsur Muspida Jabar, Ketua DPRD Garut, unsur Muspida Garut, serta lebih dari 2.000 orang petani-nelayan dari seluruh Jawa Barat. Puncak peringatan ditandai dengan pemukulan kentongan dan pelepasan burung tekukur.Tema HKP Jawa Barat tahun ini adalah Pemberdayaan petani nelayan dan penyuluh guna mewujudkan kemandirian pangan dan kesejahteraan masyarakat Jawa Barat. Bupati Garut H. Aceng HM. Fikri dalam sambutannya menegaskan bahwa petani dan penyuluh yang berdaya akan mampu menjaga eksistensi pembangunan pertanian di tengah-tengah permaslahan dan tantangan pembangunan pertanian yang dihadapi saat ini. HKP pada hakikatnya merupakan hari bersyukur, hari berbangga hati, dan sekaligus hari bermawas diri, hari penghargaan dan hari dharma bakti insan pertanian. Momentum yang baik ini harus dimanfaatkan sebagai ajang kerjasama petani nelayan dalam rangka mewujukan ketahanan pangan di Jawa Barat, membangun kemitraan usaha, dan ajang pertukaran informasi antara petani nelayan dengan para pengusaha di bidang agribisnis dan agroindustri, diharapkan dengan kemitraan ini dapat membuka peluang pasar baik domestik maupun ekspor untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan Jawa Barat. H. Oo Sutisna Ketua KTNA Jabar menjelaskan bahwa berdasarkan hasil keputusan rembug paripurna yang dilaksankan sehari sebelumnya, HKP ke 41 yang akan datang telah ditetapkan akan dilaksanakan di Kabupaten Bekasi, dan berharap atas kehadiran Ahmad Heryawan sebagai Gubernur Jabar. Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, dalam arahannya menyatakan bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan daerah terbesar di dunia yang mendapat volume curah hujan, yakni sekitar 81 miliar liter kubik air setiap tahun, dengan demikian tak salah bila Jabar dijuluki sebagai provinsi hujan. Lebih lanjut Ahmad Heryawan menjelaskan, jika volume air hujan sebanyak itu bisa dimanfaatkan dengan baik maka jabar tidak akan mengalami kekeringan, namun saat ini curah hujan sebanyak itu hanya berhasil diserap sekitar 9 miliar liter kubik saja, padahal jika volume curah hujan itu mampu diserap tanah atau tersimpan dalam danau maupun bendungan dengan baik, maka sekurang-kurangnya 19 miliar liter kubik air dapat dimanfaatkan. Dengan kata lain, saat ini kurang lebih 10 miliar liter kubik air terbuang begitu saja ke laut tanpa termanfaatkan. Oleh karena itu, agar curah hujan terpelihara dan tidak terbuang secara sia-sia, ia menghimbau agar seluruh komponen masyarakat turut serta melestarikan sumber air, salah satunya dengan melakukan penghijauan atau reboisasi dan memelihara kelestarian hutan. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya pencegahan krisis air yang akan berdampak pada tumbulnya krisis pangan. Ahmad Heryawan selanjutnya menjelaskan bahwa sejak dulu berbagai negara memperbincangkan masalah krisis energi, padahal di balik itu ada dua krisis lain yang jauh lebih berbahaya dari krisis energi, yakni krisis air dan krisis pangan. Oleh karena itu, dengan banyaknya mendapatkan curah hujan maka seharusnya Jawa Barat sanggup menjawab kekhawatiran dua krisis tersebut, sebab dengan adanya air yang berlimpah maka rawan pangan pun semestinya dapat teratasi .