Di Jawa Barat, Kementerian Pertanian sudah mengalokasikan bantuan pompanisasi sebanyak 2.500 titik untuk akselerasi perluasan tanam sawah tadah hujan untuk mengejar target produksi gabah sebanyak 11 juta ton lebih tahun ini. Menurut catatan Itjen Kementan, sebanyak 201.702,6 hektare sawah tadah hujan serta beberapa sawah irigasi akan menjadi sasaran dari pompanisasi tersebut sesuai prioritasnya. Dalam kegiatan ini, Kementerian Pertanian bersama pemerintah daerah akan bekerjasama dengan TNI untuk memastikan pompanisasi ini bekerja. Sebelumnya, pemerintah daerah melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) hanya mampu melaksanakan pompanisasi pada 200 ha lahan sawah, belum lagi perbaikan saluran irigasi sawah karena banyak yang rusak. Melalui kegiatan pompanisasi ini, PAT berupaya meningkatkan indeks pertanaman (IP) sambil memperluas area tanam padi nasional, meskipun dihadapkan pada tantangan cuaca yang seringkali menghambat. Diskusi dalam kegiatan tersebut mencakup potensi sawah tadah hujan, alokasi CPCL (Calon Petani Calon Lokasi) untuk mendapatkan pompa, pemenuhan kebutuhan benih, dan berbagai permasalahan praktis lain yang muncul selama pelaksanaan program. Peran Penyuluh Penyuluh pertanian memainkan peran utama dalam memperkenalkan teknologi pompanisasi kepada petani. Mereka tidak hanya menyampaikan informasi tentang manfaat teknologi ini, tetapi juga menjelaskan secara rinci cara kerja serta potensi peningkatan produktivitas pertanian yang dapat diperoleh melalui penggunaannya, khususnya pada pertanian sawah tadah hujan. Selain itu, penyuluh memberikan pendidikan dan pelatihan kepada petani mengenai penggunaan sistem pompanisasi. Mereka membantu petani memahami teknis instalasi pompa, manajemen air, perawatan peralatan, dan praktik pertanian yang sesuai dengan sistem irigasi ini. Pelatihan yang komprehensif ini memberikan landasan yang kuat bagi petani dalam menerapkan teknologi tersebut dengan efektif. Pengawasan dan pembinaan terhadap implementasi pompanisasi di lapangan menjadi tanggung jawab penting penyuluh pertanian. Mereka memantau kinerja sistem irigasi, memberikan saran perbaikan, dan memastikan bahwa petani mengikuti praktik yang berkelanjutan dan efisien dalam penggunaan air. Dengan demikian, penyuluh membantu memastikan keberlanjutan dan efektivitas teknologi pompanisasi dalam jangka panjang. Penyuluh bertugas untuk memberdayakan petani dalam mengelola sistem pompanisasi secara mandiri. Mereka mengajarkan keterampilan teknis, manajemen, dan perencanaan yang diperlukan agar petani dapat mengoptimalkan penggunaan teknologi ini untuk meningkatkan hasil pertanian mereka. Melalui pemberdayaan ini, petani dapat menjadi lebih mandiri dan mampu menghadapi tantangan pertanian dengan lebih efektif. Penyuluh juga membantu dalam mengorganisasi kelompok-kelompok petani untuk memfasilitasi kolaborasi dalam pengadaan, instalasi, dan penggunaan bersama sistem pompanisasi. Kolaborasi ini tidak hanya mengurangi biaya investasi awal tetapi juga meningkatkan efisiensi penggunaan teknologi. Dengan demikian, penyuluh berperan dalam membangun jejaring yang kuat antara petani untuk saling mendukung dan bertukar pengalaman. Terakhir, penyuluh terlibat dalam pemantauan dan evaluasi kinerja pompanisasi di lapangan. Mereka mengumpulkan data, menganalisis hasil, dan memberikan umpan balik kepada petani untuk terus meningkatkan efektivitas dan keberlanjutan implementasi teknologi ini. Dengan melakukan evaluasi secara berkala, penyuluh dapat membantu petani mengidentifikasi area-area perbaikan dan mengoptimalkan penggunaan sistem pompanisasi. Dengan demikian, peran penyuluh pertanian dalam kegiatan pompanisasi sangat penting untuk memastikan adopsi yang sukses dan berkelanjutan dari teknologi ini di kalangan petani. Melalui pendidikan, bimbingan, dan pembinaan yang intensif, penyuluh dapat menjadi katalisator dalam transformasi sistem pertanian menuju praktik yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan. Ricky Feryadi Penyuluh Pertanian Pusat