Persemaian benih dapat dilakukan secara basah (wet bed), kering (dry bed) dan dapog. Umur bibit siap dipindahkan atau ditanam bergantung pada jenis persemaian. Apabila tidak tersedia lahan khusus untuk persemaian, atau semua lahan telah ditanami padi, maka dapat dilakukan persemaian sisipan atau persemaian system culik, yaitu persemaian yang dibuat di areal pertanaman padi musim sebelumnya menjelang panen. Bibit yang sehat berpenampilan kekar, keras dan pendek. Persemaian Basah Persemaian disiapkan 25 - 30 hari sebelum MT 1 Penyiapan persemaian untuk MT II dilakukan sebalum panen tanaman MT I (sistem culik) agar bibit telahsiap dan tanam MT II dapat segera dilakukan. Apabila pola IP Padi 300 akan diterapkan maka persiapan penyemaian untuk MT III dapat dilakukan dengan system culik pada MT II. Tempat persemaian sebaiknya dalam satu hamparan luas agar mudah pemeliharaannya. Persemaian sebaiknya terkena sinar matahari langsung tetapi tidak dekat dengan sinar lampu yang dapat mengundang serangga pada malam hari. Tanah untuk persemaian diolah dengan cara dibajak dan digaru 2-3 kali sampai tanah dalam kondisi melumpur sedalam kira-kira 20 cm. Setelah tanah diolah kemudian dibuat bedengan setinggi 5-10 cm, lebar 100-150 cm, panjang sesuai dengan kebutuhan, dan perlu pula dibuat saluran drainase antar bedengan. Sebelum ditabur, benih direndam dengan air bersih kemudian diaduk, lalu direndam selama 24 jam, dan gabah yang terapung dibuang. Setelah direndam, benih diinkubasikan selama 36-48 jam untuk mematahkan periode dormansi benih. Perlakuan benih (seed treatment) dapat menggunakan reagen 50SCterutama di daerah endemic hama wereng coklat, reagen 50SCpat pula berfungsi sebagai zat perangsang tumbuh tanaman. Persemaian perlu diberi pupuk sesuai dengan kebutuhan, terutama untuk tanah yang kurang subur. Jenis pupuk yang dapat diberikan adalah urea, SP, dan KCI masing-masing dengan takaran 180 Kg N, Kg P2O5, dan 60 Kg K2O/ha. Pupuk dicampur dengan tanah sebelum benih ditaburkan. Lima hari setelah tabor benih, persemaian dialiri setinggi kira - kira 1 cm selama dua hari. Setelah itu persemaian dialiri terus menerus setinggi kira-kira 5 cm. Bibit dapat dipindahkan setelah berumur 10-30 hari. Sebelum bibit diacabut, lahan persemaian perlu digenangi air selama 1 hari antara 2-5 cm agar tanah lunak, sehingga bibit tidak rusak saat dicabut atau dipindahkan ke lapang. Pada tanah alkalin (pH 6,5) perlu diberikan hara mikro (Cu dan Zn) dengan cara mencelupkan akar bibit padai ke dalam larutan ZnSO4 0,5% dan CuSO4 0,2% selama dua menit pada saat bibit akan ditanam. Sebelum ditanama, bibit dapat dicelupkan terlebih dahulu ke dalam suspensi Azospirillum, minimal 1 jam. Suspensi dibuat dnegan cara melarutkan 200 g inokulum kedalam 50 L air. Pemupukan. Takaran pupuk dan cara pemupukan perlu diketahui sebelum diterapkan di suatu wilayah rekomendasi (recommendation domain). Pada setiap wilayah rekomendasi dapat diterapkan sistem usaha tani preskripsi (prescription farming), yaitu mengenali ciri dan permasalahan lahan terlebih dahulu, baru kemudian menentukan kebutuhan pupuk optimum. Secara operasional, usaha tani preskripsi dapat diterapkan melalui bimbingan teknis dan pendekatan partisipasi petani. Kebutuhan pupuk N,P,K dan unsure mikro, serta system pengaturan air pada lahan keracunan besi perlu didasarkan pada hasil analisis tanah dan tingkat hasil tanaman. Dalam hal ini, dengan menggunakan model simulasi dapat diketahui takaran pupuk secara lebih akurat. Penetapan kebutuhan pupuk dapat ditentukan sebelum waktu tanam berdasakan data yang tersedia ataupun informasi yang baru. Pupuk N. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk menentukan takaran dan saat yang tepat pemberian pupuk N adalah menggunakan bagan warna daun. Warna daun padi menunjukan tinggi rendahnya konsentrasi klorofil pada daun, dimana N merupakan penyusun penting. Pupuk P dan K. Takaran pupuk P sebaiknya dihitung berdasarkan kadar P tanah. Untuk tanah yang mengandung P rendah perlu diberi pupuk dengan takaran 50 - 100 kg SP36/a/musim, yang berstatus P sedang, 50 kg SP36/ha/dua musim, dan yang mengandung P tinggi 50kg /ha/tiga musim. Pupuk P diberikan pada saat tanam atau paling lambat tiga minggu setelah tanam. Pupuk K hanya diperlukan pada tanah yang mengandung K rendah yaitu< 0,2 me K+/100 g tanah. Pupuk K diberikan pada saat tanam atau paling lambat pada saat tanaman berumur 40 hari setelah tanam atau menjelang fase primordia. Takaran pupuk k relatif lebih tinggi bila jerami sisa panen tidak dikembalikan ke dalam tanah. Penulis : Ir. Amirudin Aidin Beng, MM, Penyuluh Pertanian Madya Sumber: Teknologi Produksi Padi Sawah, Puslitbang Tanaman Pangan Tahun 2000