Pengembangan kakao saat ini hampir menyebar ke seluruh provinsi di Indonesia, disisi lain sumber benih kakao keberadaannya hanya terdapat di beberapa provinsi antara lain Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, Sulawesi Tenggara dan Papua. Dengan demikian terlihat ada ketimpangan antara lokasi pengembangan kakao dan lokasi sumber benih. Dalam rangka pemenuhan kebutuhan benih kakao bagi pengembangan ataupun rehabilitasi tanaman di suatu wilayah, maka setiap provinsi sentra pengembangan kakao perlu dibangun kebun induk kakao. Agar pembangunan kebun induk kakao tersebut sesuai dengan standar teknis yang direkomendasikan maka lokasi kebun induk harus memenuhi persyaratan. Disamping itu klon yang ditanam harus klon anjuran yang memenuhi persyaratan. Persyaratan Lokasi Kebun Induk Kakao. Tanah: Diutamakan di darah datar, kedalaman tanah efektif 1.5 m dan tidak berbatu, drainase baik, tekstur tanah terdiri dari pasir 50 %, debu 10-20 % dan lempung 30-40% , subur dan banyak humus (bahan organik tanah bagian atas minimum 3.5 %), dan pH minimum 6-7.5 Iklim: Jumlah curah hujan 1250-3000 mm per tahun, suhu maksimum 30-32 ®C dan suhu minimum 18-21 ®C, kelembaban relatif maksimum (malam hari 100% dan 79-80 %n pada siang hari, Sinar matahari pada tanaman yang baru dipindahkan ke lapangan 25-35 % dan tanaman dewasa 865-75 % dari sinar matahari penuh, kecepatan angin maksimum 4 m per detik. Lokasi: Lokasi kebun induk kakao harus dekat dengan areal pengembangan kakao, terhindar dari pencemaran serbuk sari asing yang tidak dikehendaki. Oleh karena itu maka areal kebun induk kakao u ntuk sumber benih hibrida harus diisolasi dari pertanaman kakao lain, minimal pada jarak 100 m agar kemurnian bahan tanam hibrida terjaga. Klon Anjuran. Klon kakao lindak yang dianjurkan untuk bahan tanam pada tertanaman kakao secara klonal antara lain klon ICS 60, GC7, UIT1.ICS13,ICCRI 03.ICCRI 04, RCC 70, RCC 71, RCC 72, RCC 73, RCC 74, dan RCC 75, masing-masing dengan karakteristik sebagai berikut: - Klon ICS 60: daya hasil 1.500 kg/ha, berat biji kering rata-rata 1,67 g per biji. - Klon GC 7: daya hasil 2.000 kg/ha, berat biji kering rata-rata 1,24 g per biji. - Klon UIT 1: daya hasil 1.531 kg/ha, berat biji kering rata-rata 1,64 g per biji - Klon ICS 13: daya hasil 1.852 kg/ha, berat biji kering rata-rata 1,05 g per biji. - Klon ICRRI 03: daya hasil 2.190 kg/ha, berat biji kering rata-rata 1,18 g per biji. - Klon ICCRR 04: daya hasil 2.160 kg/ha, berat biji kering rata-rata 1.12 g per biji. - Klon RCC 70: daya hasil 2.872 kg/ha, berat biji kering rata-rata 1,18 g per biji. - Klon RCC 71: daya hasil 2639 kg/ha, berat biji kering rata-rata 1,18 g per biji. - Klon RCC 72: daya hasil 2.682 kg/ha (FM4) berat biji kering rata-rata 1,16 g per biji. - Klon RCC 73: daya hasil 2.487 kg/ha (FM4), berat biji kering rata-rata 1,15 g per biji. - Klon RCC 74: daya hasil 2.631 kg/ha (FM4), berat biji kering rata-rata 1,50 g per biji. - Klon RCC 75: daya hasil 2.608 kg/ha, berat biji kering rata-rata 1,60 g per biji. Klon kakao mulia yang dapat dianjurkan antara lain : DR 1, DR 2, DR 58, DRC 16,ICCRI 02, masing-masing dengan karakteristik sebagai berikut: - Klon DR 1, daya hasil 1.500 kg/ha , berat biji kering rata-rata 1,36 g per biji. - Klon DR 2, daya hasil 2.160 kg/ha , berat biji kering rata-rata 1,21 g per biji. - Klon DR 38, daya hasil 1.500 kg/ha , berat biji kering rata-rata 1,47 g per biji. - Klon DRC 16, daya hasil 1.500 kg/ha , berat biji kering rata-rata 1,19 g per biji. - Klon ICRRI 01, daya hasil 2.500 kg/ha , berat biji kering rata-rata 1,36 g per biji. - Klon ICRRI 02, daya hasil 2.370 kg/ha , berat biji kering rata-rata 1,32 g per biji. Dalam membangun kebun benih hibrida F1, tahapan yang perlu diperhatikan adalah pemilihan bahan tanam (tetua) dan rancangan penanaman. Bahan tanam harus memenuhi persyaratan tertentu, dan pola pertanaman ( design kebun) harus diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan terjadinya proses penyerbukan tanaman secara optimal sehingga benih yang dihasilkan diyakini sebagai hasil hibridisasi antar tetua klonal yang dipilih. Persyaratan klon induk: - Memiliki sifat tidak kompatibel menyerbuk sendiri (self-incompatible) dan kpmpatible menyerbuk silang dengan klon pasangannya sehingga dapat terjadi proses persilangan secar aklami antara induk betina dan induk jantan. - Antar tetua tidak mempunyai hubungan keekluargaan yang dekat supaya terjadi hibrid vigor - Klon yang digunakan sebagai induk betina umumnya yang dimiliki keunggulan sifat daya hasil dan mutu hasil, sedangakan klon yang digunakan sebagai induk jantan adalah yang memiliki keunggulan dalam hal ketahanan terhadap[ hama dan penyakit utama. Penulis: Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian Madya. Sumber: Pedoman Teknis Pembangunan Kebun Induk Kakao, Direktorat Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian, Jakarta, 2008.