Loading...

PERTANIAN ORGANIK, MUTU VS HARGA DI PASAR

PERTANIAN ORGANIK, MUTU VS HARGA DI PASAR
AOI (Asosiasi Organik Indonesia) sebagai pelopor gaya hidup organik, setiap saat mendengung-dengungkan pentingnya produk organik dalam meningkatkan kualitas hidup manusia yang selaras dengan alam. Dalam usahanya tersebut, pada hari Selasa (9/10) mengadakan Seminar Pertanian Organik dan Pasar Berkeadilan yang mengangkat tema Membangun Sinergi Parapihak untuk Penguatan Petani Organik dalam Mengembangkan Sistem Mutu Internal dan Pasar Organik Berkelanjutan. Kegiatan ini dibuka oleh Direktur MBM (Maha Bhoga Marga) selaku Ketua Panitia. Seminar dihadiri oleh anggota AOI, petani organik, instansi pemerintah, dan masyarakat yang peduli akan pertanian organik. Diadakan di Gedung Pertemuan Yayasan Maha Bhoga Marga, jalan Raya Kapal, Mengwi, Badung, Bali, seminar ini mengetengahkan materi Kebijakan dan Pemasaran Pertanian Organik, Gaya Hidup Organik, serta Penjaminan Produk Organik di Negara Berkembang. Sebagai narasumber dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali, Ketut Lihadnyana (Ka. Bidang Pasca Panen dan Pemasaran Hasil) menyatakan, Petani organik memerlukan pasar yang kondusif untuk meningkatkan gairah kerja mereka. Tanpa adanya pasar, sebaik apapun kualitas produk pertanian tidak akan laku. Selama ini, konsumen di Indonesia tidak terlalu memperhatikan mutu, sehingga produk organik masih dianggap mahal, padahal kualitasnya jauh lebih tinggi daripada produk pertanian non organik. Apalagi adanya residu berbagai jenis pestisida dalam produk non organik mengancam kesehatan. Narasumber lainnya, Hira Jhamtani (owner Satvika Boga) dan Dokter Debora pun menyatakan bahwa banyak anak “ anak kita yang berkebutuhan khusus (special needs children) dewasa ini disebabkan oleh bahan “ bahan berbahaya pada makanan, seperti residu pestisida, pewarna buatan, MSG, serta perasa buatan, selain pengaruh genetik. Kondisi inilah yang masih kurang disadari masyarakat Indonesia yang cenderung masih lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas makanan yang dikonsumsinya. Penyadaran kepada konsumen akan adanya bahan kimia berbahaya pada produk pertanian non organik secara konsisten dilaksanakan oleh CA Bali (Consumer Awareness). Narasumber dari CA Bali menyatakan pentingnya pendidikan organik ramah lingkungan kepada anak “ anak sejak dini. Mereka dibiasakan untuk mengonsumsi makanan organik, menjaga kebersihan lingkungan, serta peduli terhadap keberlangsungan ekosistem alam yang seimbang. Yang menarik dari kegiatan ini, para anggota AOI membawa display produk mereka. Kecap non kedelai, MSG, dan gluten; VCO; olahan jamur tiram organik; sabun etawa; cereal beras merah-hiram organik non gluten; kopi organik adalah contoh beberapa produk andalan para petani organik anggota AOI. Ditulis oleh : Marcella Wayan K.R., SP (PP Pertama)