Loading...

Pertanian Organik Padi Sawah

Pertanian Organik Padi Sawah

PERTANIAN ORGANIK PADI SAWAH

MATERI KURSUS TANI TAHUN 2025

 

PERTANIAN ORGANIK PADI SAWAH

Era pestisida memang menyerang dunia pertanian sejak pupuk buatan pertama kali ditemukan sekitar abad ke-19. Dengan penggunaan pupuk buatan itu, keuntungan lebih murah, lebih kuat, dan lebih gampang didistribusikan. Metoda itu memiliki dampak jangka panjang yang merugikan, mulai turunnya nilai kesuburan tanah hingga permasalahan zat-zat kimia berbahaya. Pestisida kimia juga dapat menjadi residu pada produk yang dihasilkan, Untuk menekan dampak merugikan tersebut perlu digalakkan budidaya tanaman yang mengurangi penggunaan pestisida kimia, melalui pengembangan budidaya padi bebas residu untuk menghasilkan gabah/beras yang berkualitas.Untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang sehat dan berkualitas maka harus tersedia pangan secara cukup dan bermutu.   Beras yang dikonsumsi harus beras sehat bebas residu  bahan kimia,  khususnya  residu  pestisida  yang  dapat membahayakan kesehatan manusia.

Pestisida kimia perlu diganti dengan teknologi pengendalian alternatif, yang lebih banyak memanfaatkan bahan dan metode hayati, termasuk musuh alami, pestisida hayati dan feromon. Dengan cara ini, dampak negatif penggunaan pestisida terhadap kesehatan dan lingkungan dapat dikurangi. Beberapa dampak negatif dari sistem pertanian konvensional adalah pencemaran air tanah dan air permukaan;  membahayakan kesehatan manusia dan hewan, baik karena pestisida maupun bahan aditif pakan;  pengaruh negatif senyawa kimia pertanian tersebut pada mutu dan kesehatan makanan; penurunan keanekaragaman hayati;  perusakan dan pembunuhan satwa liar, lebah madu, dan jasad berguna lainnya; meningkatnya daya ketahanan organisme pengganggu terhadap pestisida; merosotnya produktivitas lahan karena erosi, pemadatan lahan, dan berkurangnya bahan organik; ketergantungan yang makin kuat terhadap sumber daya alam tidak terbaharui (non-renewable natural resources); resiko kesehatan dan keamanan manusia pelaku pekerjaan pertanian.

Budidaya padi bebas residu atau pertanian organik pada dasarnya tidak berbeda dengan budidaya padi secara konvensional. Pertanian organik biasanya diawali dengan pemilihan benih tanaman non-hibrida yang dimaksudkan untuk mempertahankan keanekaragaman hayati. Tanaman non-hibrida sendiri secara teknis memang memungkinkan untuk ditanam tanpa menggunakan bahan kimia atau dapat tumbuh dan berproduksi pada kondisi alami. Sementara tanaman hibrida biasanya dikondisikan seperti harus menggunakan pupuk kimia atau pemberantasan hanya dengan pestisida kimia. Perbedaan lainnya  antara tanaman padi non-hibrida dan tanaman padi hibrida adalah pada penggunaan pupuk dasar.

Budidaya Padi Sawah Organik

1. Persiapan media tanam

Media tanam yang diperlukan untuk budidaya padi haruslah disiapkan terlebih dahulu, yakni minimal selama 2 minggu sebelum proses penanaman dilakukan. Persiapan tersebut dilakukan dengan cara mengolah tanah sebagai media tanam. Sebelum itu, tanah harus dipastikan telah terbebas dari gulma maupun rumput liar. Proses pengolahan tanah dapat dilakukan dengan cara membajak, mencangkul, atau menggunakan alat-alat mekanis lainnya. Tujuan dari pengolahan tanah adalah untuk menggemburkan tanah, menghilangkan gulma, dan memperbaiki struktur tanah. Setelah tanah diolah, kemudian dilanjutkan dengan pemberian pupuk dasar. Pupuk dasar yang diberikan dapat berupa pupuk kandang atau pupuk kimia. Pupuk kandang dapat diberikan sebanyak 10-20 ton per hektar,

2. Pemilihan bibit berkualitas

Benih berkualitas merupakan salah satu faktor penting dalam budidaya padi. Benih yang berkualitas mampu beradaptasi dengan baik di lahan sawah, memiliki pertumbuhan yang cepat dan seragam, serta memiliki produktivitas yang tinggi. Benih padi yang berkualitas dapat diperoleh dari balai benih atau toko pertanian yang terpercaya. Benih padi yang berkualitas biasanya memiliki daya kecambah yang tinggi, yaitu minimal 85%.

3. Persemaian

          Persemaian dilakukan untuk menghasilkan bibit yang siap ditanam. Persemaian dapat dilakukan dengan cara langsung di lahan sawah atau di persemaian khusus. Jika persemaian dilakukan di lahan sawah, maka benih padi disemai dengan cara ditabur secara merata. Jika persemaian dilakukan di persemaian khusus, maka benih padi disemai dengan cara ditugal atau ditanam dalam bedengan. Persemaian dilakukan selama 25-30 hari. Selama masa persemaian, bibit padi perlu disiram secara rutin dan dilakukan penyiangan untuk menghilangkan gulma.

4. Penanaman

Penanaman dilakukan setelah bibit padi siap ditanam. Penanaman dapat dilakukan dengan cara manual atau menggunakan mesin. Jika penanaman dilakukan secara manual, maka bibit padi ditanam dengan cara ditanam satu per satu. Jika penanaman dilakukan menggunakan mesin, maka bibit padi ditanam dengan cara disebar secara merata. Jarak tanam padi yang ideal adalah 25x25 cm atau 30x30 cm.

5. Perawatan lahan

Perawatan lahan merupakan hal yang penting untuk dilakukan selama masa pertumbuhan padi. Perawatan lahan meliputi penyiangan, pengairan, dan pemupukan. 

·           Penyiangan

Penyiangan dilakukan untuk menghilangkan gulma yang dapat mengganggu pertumbuhan padi. Penyiangan dapat dilakukan secara manual atau menggunakan mesin.

·           Pengairan

       Pengairan dilakukan untuk menjaga kelembaban tanah. Pengairan dapat dilakukan secara manual atau menggunakan mesin.

·           Pemupukan

       Pemupukan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman padi. Pemupukan dapat dilakukan dengan cara pemberian pupuk dasar, pupuk susulan, dan pupuk daun.

Pupuk susulan diberikan sebanyak 2-3 kali selama masa pertumbuhan padi. Pupuk daun diberikan sebanyak 1-2 kali selama masa pertumbuhan padi.

6. Pencegahan hama dan penyakit

Pencegahan hama dan penyakit perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan tanaman padi. Hama dan penyakit dapat menyebabkan gagal panen. Pencegahan hama dan penyakit dapat dilakukan dengan cara penggunaan varietas padi yang tahan hama dan penyakit, rotasi tanaman, dan penggunaan pestisida secara bijak.

7. Pemanenan

Panen dilakukan ketika padi telah mencapai fase masak fisiologis. Fase masak fisiologis ditandai dengan warna gabah yang menguning dan bulir padi yang telah mengeras. Panen dapat dilakukan secara manual atau menggunakan mesin. Jika panen dilakukan secara manual, maka padi dipanen dengan cara memotong batang padi dengan sabit. Jika panen dilakukan menggunakan mesin, maka padi dipanen dengan cara menggunakan combine harvester.

Pertanian organik  sebagai  sistem budidaya pertanian yang memanfaatkan bahan- bahan  alami tanpa  menggunakan  bahan  kimia sintetis.  Pertanian  organik berkembang  karena adanya kesadaran masyarakat terkait sistem pertanian berbasis high input energy seperti pupuk dan pestisida kimia sintetis yang dapat  merusak lingkungan dan tidak baik bagi kesehatan manusia. Keberlanjutan pertanian organik, tidak dapat dipisahkan dari dimensi ekonomi, selain dimensi lingkungan dan  dimensi sosial. Aspek  ekonomi dikatakan berkelanjutan apabila produksi pertaniannya mampu mencukupi kebutuhan dan memberikan pendapatan yang cukup bagi petani. Pertanian organik juga menjadi salah satu tujuan  pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals) yaitu untuk  mengentaskan kemiskinan, meningkatkan   ketahanan   pangan dan nutrisi serta mendorong berkembangnya pertanian berkelanjutan.