Pertanian merupakan salah satu sektor pendongkrak ekonomi di Indonesia. Pertanian secara luas yaitu pemanfaatan dari sumber daya hayati yang dilakukan oleh manusia dengan cara menanam tanaman yang produktif dan bisa menghasilkan bahan pangan untuk keberlangsungan hidup manusia. Ada perbedaan mendasar dalam kegiatan pertanian pada jaman dahulu dengan sekarang. Dulu biaya produksi yang dibutuhkan relative masih rendah, begitu juga dengan penggunaan pupuk dan pestisida yang relative lebih sedikit. Pengolahan tanah lebih sederhana dan ancaman serangan OPT juga tidak sekompleks sekarang. Mengapa terjadi perubahan yang signifikan dalam berbagai indicator kegiatan pertanian? Hal ini tidak terlepas dari beberapa sebab di antaranya penggunaan bibit yang diseragamkan, pengolahan tanah yang tidak sempurna, pemupukan dan penggunaan petisida kimia yang berlebihan serta sistem irigasi yang kurang tepat. Penggunaan pupuk kimia yang terus menerus menyebabkan ketergantungan tanaman pada pupuk, degradasi bahan organic dalam tanah. Selain itu, penggunaan pestisida kimia yang melebihi ambang batas menyebabkan keseimbangan ekosistem terganggu, pada akhirnya terjadi resistensi dan ledakan hama. Lahan pertanian tidak lagi sama, kesuburannya semakin menurun, ancaman serangan OPT dan perubahan iklim menjadikan tantangan yang berat dalam pemenuhan pangan manusia. Salah satu solusi yang saat ini gencar disosialisasikan adalah pertanian ramah lingkungan. Unsur-unsur yang bisa diadaptasi dari pertanian ramah lingkungan ini adalah pemupukan berimbang, pengendalian hama terpadu, pemanfaatan sumber daya lokal dan integrasi tanaman – ternak. Pepupukan berimbang dengan melaksanakan prinsip 4 tepat (Tepat Jenis, Tepat Cara, Tepat Dosis, dan Tepat waktu) dan penggunaan bahan-bahan organik. Pengendalian Hama Terpadu menerapkan 4 prinsip yaitu budidaya tanaman sehat, pemanfaatan musuh alami, pengamatan rutin (pemantauan), petani sebagai ahli HPT. Pemanfaatan sumber daya lokal yang sering diabaikan petani adalah pengembalian jerami ke sawah, dengan mengolahnya terlebih dahulu menjadi kompos. Kompos jerami ini dapat menambah kandungan bahan organik tanah dan akan mengembalikan kesuburan tanah. Integrasi tanaman dan ternak adalah sistem yang saling melengkapi. Limbah tanaman seperti Jerami dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, dan kotoran ternak diolah menjadi pupuk organic untuk menyuburkan lahan. Siklus ini mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, mengurangi limbah, menjaga kesuburan tanah sekaligus menambah pendapatan petani. Dengan efisiensi sumber daya dan minim pencemaran, integrasi tanaman – ternak menjadi salah satu prinsip utama pertanian ramah lingkungan yang berkelanjutan. Pertanian ramah lingkungan menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan sekaligus melindungi ekosistem. Melalui penerapan prinsip-prinsip seperti efisiensi pemupukan, pengendalian hama terpadu, pemanfaatan sumber daya lokal dan integrasi tanaman dengan ternak, petani dapat meningkatkan hasil tanpa merusak sumber daya alam. Sistem ini tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga menekan pencemaran dan memperbaiki kualitas lingkungan. Dengan dukungan teknologi tepat guna serta pendampingan dari penyuluh, diharapkan pertanian ramah lingkungan dapat semakin meluas, sehingga ketahanan dan swasembada pangan nasional dapat terjaga secara berkelanjutan.