Loading...

Pertanian Regeneratif (Regenerative Agriculture)

Pertanian Regeneratif (Regenerative Agriculture)
Sektor pertanian terdampak oleh perubahan iklim global tetapi di sisi lain juga sekaligus berkontribusi besar terhadap perubahan iklim. Kegiatan produksi bahan pangan dan bahan baku industri yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, ternyata ikut berkontribusi besar terhadap perubahan iklim. Itu sebabnya upaya untuk memperluas praktek bertani yang sehat dan memitigasi (mengurangi risiko) dampak perubahan iklim penting untuk terus digalakkan. Upaya mitigasi yang telah dilakukan antara lain adalah dengan pendekatan pertanian ramah lingkungan (environmentally friendly agriculture atau eco-friendly agriculture), dan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture). Belakangan ini kita juga diperkenalkan dengan istilah pertanian regeneratif (regenerative agriculture). Pertanian ramah lingkungan merupakan sistem pertanian berkelanjutan yang bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahanan produktivitas tinggi dengan memperhatikan pasokan hara dari penggunaan bahan organik, memperkecil ketergantungan pada pupuk anorganik, memperbaiki biota tanah, dan melakukan pengendalian organisme pengganggu dengan penggunaan bahan alami. Pertanian berkelanjutan adalah pertanian yang dilakukan dengan cara melindungi lingkungan, membantu dan mengembangkan sumber daya alam, serta memanfaatkan sumber daya tak terbarukan (bahan tambang seperti logam, minyak bumi, batu bara, penghasil bahan bakar) dengan sebaik-baiknya dengan tujuan untuk mencapai ketahanan pangan jangka panjang dan meningkatkan kualitas hidup petani serta masyarakat pedesaan. Apa yang dimaksud dengan pertanian regeneratif? Pertanian regeneratif pada dasarnya adalah praktik bertani dengan pendekatan konservasi dan rehabilitasi lahan melalui penggunaan berbagai teknik pertanian berkelanjutan yang dikombinasikan. Praktiknya termasuk mendaur ulang limbah pertanian sebanyak mungkin dan menambahkan bahan kompos dari sumber-sumber di luar pertanian. Dengan kata lain, pertanian regeneratif berfokus pada regenerasi lapisan tanah atas, untuk meningkatkan keanekaragaman hayati sehingga memperbaiki siklus air, meningkatkan layanan ekosistem, meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, memperkuat kesehatan dan vitalitas tanah pertanian, serta mendukung biosequestrasi. Adapun biosequestrasi dimaknai sebagai suatu proses inovatif dan menarik yang memanfaatkan proses alami dalam mengurangi jumlah karbon dioksida (CO2) di atmosfer dengan cara menyimpannya dalam bahan organik seperti tanaman dan tanah. Filosofi yang diterapkan dalam teknik pertanian regeneratif antara lain permakultur, agroekologi, wanatani, ekologi restorasi. Pertanian semakin banyak mengadopsi teknik regeneratif dan sering menggunakan praktik "tanpa pengolahan tanah" dan/atau "pengolahan tanah yang dikurangi”. Praktik bertani dengan pendekatan pertanian regeneratif banyak memberikan manfaat bagi petani, yaitu (1) meningkatkan mata pencaharian petani jangka panjang melalui pengurangan biaya produksi; (2) meningkatkan hasil panen dan kualitas tanaman; (3) memperkuat ketahanan terhadap volatilitas pasar dan peristiwa iklim ekstrem; serta (4) memberikan peluang tambahan pendapatan dari imbalan atas penangkapan dan penyimpanan karbon di dalam tanah melalui bursa perdagangan karbon. Salah satu contoh pertanian regeneratif adalah melalui pemanfaatan limbah pertanian yang diolah menjadi biochar atau arang aktif dari berbagai limbah tanaman, seperti sekam padi, tongkol jagung, tempurung kelapa, gulma liar, bambu, dll. Biochar telah terbukti dapat menurunkan residu pestisida di lahan pertanian dan sekaligus membantu mengembalikan kesuburan tanah. Penyuluh pertanian harus menggalakkan penerapan praktik bertani dengan pendekatan pertanian regeneratif. Sektor pertanian bersama sektor lainnya harus berperan aktif melakukan mitigasi perubahan iklim. (Pamela Fadhilah) Sumber: Ardiwinata, AN., 2018. Teknologi Remediasi Residu Pestisida pada Pertanian Bawang Merah. Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, Balitbangtan. Kementan Anonimous, 2018. Teknologi Pembuatan Biochar Sederhana. Dinas Pertanian Kabupaten Mesuji. https://pertanian-mesuji.id/teknologi-pembuatan-biochar-sederhana/ Hidayati, IN dan Suryanto, 2015. Pengaruh Perubahan Iklim terhadap Produksi Pertanian dan Strategi Adaptasi pada Lahan Rawan Kekeringan. Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan. Volume 16 Nomor 1, April 2015. Halaman 42-52 https://www.nestle.co.id/kisah/konsep-pertanian-regeneratif-dan-manfaatnya Co-Authors: Regenerative Agriculture Initiative, California State University, Chico http://www.csuchico.edu/sustainablefuture/aginitiative/ The Carbon Underground https://thecarbonunderground.org/ Mustika, PP., Justiari MPJ., Perdana Aditya Putra. 2023. Mitigasi Perubahan Iklim: Penerapan Perdagangan Karbon Dipersiapkan. Sunusi, MA. Et.al. 2022. Pengukuran Gas Rumah Kaca (GRK) pada Lahan Budidaya Bawang Merah, Ditlin Hortikultura, Ditjen Hortikultura, Kementan