Loading...

PERTEMUAN KOORDINASI INSEMINASI BUATAN(IB) PROPINSI SULAWESI TENGGARA

PERTEMUAN  KOORDINASI  INSEMINASI BUATAN(IB)    PROPINSI SULAWESI TENGGARA
Bertempat di Aula Dinas Pertanian Propinsi Sulawesi Tenggara, telah dilaksanakan Rapat Koordinasi Inseminasi Buatan (IB) Tingkat Propinsi yang dihadiri oleh para pejabat peternakan kabupaten/kota dan para petugas Inseminasi Buatan se Sulawesi Tenggara. Kepala Dinas Pertanian , Ir. Muh. Amir Ridwan, MSi dalam sambutannya mengatakan bahwa Inseminasi Buatan(IB) merupakan satu teknologi yang masih menjadi salah satu pilihan untuk meningkatkan produksi dan produkstivitas ternak sapi potong, sekaligus juga merupakan satu upaya untuk mendukung program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau Berkelanjutan tahun 2010 - 2014 di Sulawesi Tenggara. Manfaat yang diharapkan dalam pelaksanaan IB adalah : tersedianya kebutuhan daging sapi dalam daerah, mengatasi kelangkaan sapi pejantan berkualitas di lapangan , perkawinan dalam (inbreeding) dapat dikendalikan, tersedianya lapangan kerja/ kesempatan berusaha di masyarakat, dan tersedianya kebutuhan ternak sapi bibit dan ternak potong. Menurut Kepala Dinas Pertanian agar Inseminasi Buatan dapat memberikan hasil sebaik-baiknya maka perlu dilakukan optimalisasi program IB, melalui satu perencanaan program yang baik, sehingga menurutnya perlu dibuat satu strategi, dan indikator- indikator keberhasilannya, bahkan kabupaten harus mengadakan evaluasi terhadap program IB , apa yang menjadi masalah dan kendala sehingga pelaksanaan IB ke depan akan lebih baik dan lebih menggaung di masyarakat. Kadistan sangat mengharapkan agar daerah juga membuat kegiatan-kegiatan IB yang lebih menarik sehingga pengambil kebijakan di kabupaten/kota tertarik dan mau memberikan dukungan untuk lebih menggaungkan pelaksanaan IB. Lebih lanjut kadistan mengatakan bahwa untuk meningkatkan pendapatan masyarakat petani, maka kepada petani peternak perlu diperkenalkan satu pola integrasi atau keterpaduan antara ternak dengan pertanian yang sekaligus merupakan teknologi ramah lingkungan , misalnya integrasi sapi potong dengan kelapa sawit , dimana kelapa sawit saat ini tengah berkembang di beberapa kabupaten di Sulawesi Tenggara. Demikian juga petani peternak perlu dimotivasi agar mereka dapat mengakses modal bagi pengembangan usahataninya. Oleh karena itu menurut Kadistan sangatlah perlu memberdayakan atau mengoptimalkan penyuluh agar penyuluh dapat menjembatani masalah-masalah yang dihadapi oleh petani peternak sapi untuk meningkatkan pendapatannya. Pada rapat koordinasi,juga disampaikan beberapa materi yang terkait dengan Inseminsi Buatan dari BIB Singosari, dan Penyakit-penyakit Reproduksi Ternak Sapi. Pada tahun 2012 , kegitan Inseminasi Buatan di Sulawesi Tenggara akan dilaksanakan pada 8(delapan) kabupaten kota atau bertambah 1 kota yaitu Kota Kendari, dibandingkan alokasi kegiatan Inseminasi Buatan pada tahun lalu yang baru meliputi 7(tujuh) kabupaten/kota yaitu : Kabupaten Bombana, Kabupaten Buton, Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten Kolaka, Kabupaten Buton, Kabupaten Muna. Untuk tahun 2012 ini Sulawesi Tenggara mendapatkan alokasi straw(semen beku) sebanyak 10.500 dosis yang berasal dari Balai Benih Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari sebanyak 4.500 dosis, dan dari BBIB Lembang sebanyak 6.000 dosis. Dengan membenahi beberapa kekurangan dan kelemahan pelaksanaan IB tahun lalu , seperti keterbatasan container, kesiapan peternak, dan kemampuan petugas diharapkan pelaksanaan IB lebih berhasil dan benar-benar menggaung di masyarakat seperti harapan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Sulawesi Tenggara, dan akhirnya Swasembada Daging Sapi Berkelanjutan dapat berlangsung dengan baik.(ari widyastuti)