Loading...

Pertemuan Koordinasi Program READSI 2019

Pertemuan Koordinasi Program READSI 2019
Pertemuan koordinasi ini Program READSI 2019, dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan kegiatan di pusat dan daerah khususnya terkait dengan konsolidasi dan sinergi program. Pertemuan di buka resmi oleh Ir. Bustanul Arifin Caya, M.D.M Kepala Pusat Pelatihan Pertanian Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian dan dihadiri oleh Eselon III dan IV, peserta pelaksana program READ-SI di 6 provinsi dan 18 kabupaten, serta pelaksana program READSI Pusat. Adapun materi dan narasumber pada kegiatan ini yaitu; (1) Dukungan Peningkatan SDM Pertanian di Bidang Kakao dalam Program READSI oleh PT. MARS Symbioscience; (2) Sosialisasi Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Program READSI 2019 oleh Project Manager READSI; (3) Sosialisasi Pedoman Keuangan Program READSI oleh Verifikator Keuangan READSI dan (4) Pengelolaan Keuangan dengan Mekanisme On Granting oleh Direktorat Pembiayaan Transfer Non Dana Perimbangan, DJPK Kementerian Keuangan Ringkasan Program READSI Program Rural Empowerment and Agricultural Development Scalling-up Innitiative (READ- SI) merupakan inisiasi perluasan Proyek Rural Empowerment and Agricultural Development (READ) yang dilaksanakan pada tahun 2008 sampai dengan 2014 di 5 Kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah dengan pendanaan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN) dari International Fund for Agricultural Development (IFAD). Proyek READ dinilai sebagai proyek yang berhasil oleh Bappenas. Proyek READ (yang rancangannya diperbaiki pada pertengahan pelaksanaan proyek) telah berhasil memberdayakan petani kecil, meningkatkan pendapatan dan produksi serta memperkuat kelembagaan di desa melalui satu paket lengkap program pemberdayaan yang terintergrasi termasuk kemitraan dengan lembaga swasta yaitu PT MARS yang memberikan dukungan dalam inovasi teknologi untuk tanaman kakao. Survey dampak Proyek READ yang membandingkan data rumah tangga sarasaran dan bukan sasaran program READ menunjukan adanya peningkatan indeks ketahanan pangan. Proyek REDSI telah mampu mengurangi periode krisis pangan 94 persen rumah tangga sasaran menjadi kurang dari 3 bulan dengan rata-rata 1,9 bulan dan nilai maksimum paling parah yaitu 4 bulan, sedangkan rumah tangga yang bukan sasaran Proyek READ masih berada diatas 3 bulan dengan rata-rata 3,1 dan maksimum 10 bulan. Selain itu dari sisi peningkatan pendapatan, program READ telah mampu meningkatkan pendapatan rumah tangga sasaran program READ (40% rumah tangga memiliki rata-rata pendapatan yang berada diatas garis kemiskinan) dan 83 persen peningkatan pendapatan tersebut berasal dari hasil pertanian. Apabila dilihat dari sisi pemberdayaan perempuan, Proyek READ telah mampu meningkatkan partisipasi perempuan dalam program pemberdayaan yang ditunjukan dengan peningkatan partisipasi perempuan dalam proses pengambilan keputusan baik ditingkat rumah tangga dan desa serta telah meningkat aksesibilitasnya terhadap sumberdaya ekonomi, pertanian dan keuangan. Selain itu, program READ juga mampu meningkatkan kemampuan 91 persen rumah tangga sasaran dalam mengakses pasar, 95 persen rumah tangga sasaran dalam mengakses kredit dan 81 persen rumah tangga sasaran dalam mengakses layanan keuangan dalam 12 belas bulan terakhir pelaksanaan program READ. Berdasarkan keberhasilan tersebut, pemerintah menilai Proyek READ sebagai salah satu model pemberdayaan yang telah mampu mendukung pencapaian tujuan pembangunan nasional, sehingga program READ perlu ditingkatkan skalanya. Pada tahun 2015 Kementerian Pertanian menyediakan anggaran untuk mereplikasi program READ melalui pendanaan APBN di 2 (dua) kabupaten perbatasan yaitu Kabupaten Belu dan Kabupaten Kupang di Provinsi Nusa Tenggara Timur serta Kabupaten Sambas dan Kabupaten Sanggau di Provinsi Kalimantan Barat dengan total anggaran Rp 20 Miliar per tahun (USD 1,45 Juta). Namun demikian, karena latar belakang geografis, kondisi pertanian dan sosial ekonomi masyarakat yang sangat berbeda, progres pelaksanaan Program Replikasi READ tersebut lebih lambat dari yang diharapkan. Berdasarkan kondisi tersebut, pemerintah menilai perlunya lanjutan kerjasama dengan IFAD dalam memperluas Proyek READ. Permohonan untuk memperoleh pendanaan dari IFAD untuk memperluas Proyek READ dimasukan dalam Blue Book” period 2015 – 2019. Pada tanggal 31 Agustus 2017 IFAD telah menyetujui untuk menyediakan dana pinjaman sebanyak USD 33,8 juta untuk mendanai program replikasi READ selama 5 (lima) tahun yaitu dari tahun 2018 sampai dengan 2022. Proyek READ-SI dirancang sebagai peningkatan (upgrading) model pendekatan Proyek READ dan akan mengubah paradigma ‘proyek’ yang berdiri sendiri (stand alone) menjadi paradigma program yang lebih luas dan inklusif dengan tujuan untuk menarik investasi swasta dan masyarakat dalam kegiatan proyek. Pendekatan yang akan ditetapkan pada Program READ-SI diharapkan dapat lebih meningkatkan skalanya melalui pemberdayaan masyarakat secara Nasional. Strategi peningkatan skala proyek READ-SI akan mengkombinasikan hasil uji coba dan perbaikan (testing and refining) pendekatan Proyek READ yang dilaksanakan dalam kondisi geografis yang berbeda melalui pengelolaan pengetahuan yang kuat (strong knowledge management) berdasarkan kerangka kerja kebijakan dengan mengacu pada bukti nyata, dan penguatan kapasitas kelembagaan. Tujuan Program Tujuan jangka panjang (Goal) Program READ-SI adalah meningkatkan kesejahteraan keluarga tani miskin di Indonesia. Tujuan jangka pendek Proyek READ-SI adalah memberdayakan rumah tangga di pedesaan di Sulawesi, Kalimantan Barat dan NTT, baik secara individu maupun secara kelompok, dengan keterampilan, membangun rasa percaya diri dan pemanfaatan sumberdaya untuk meningkatkan pendapatan dari sektor pertanian dan non-pertanian serta meningkatkan taraf hidupnya secara berkelanjutan. Sasaran Sasaran proyek mencakup: Petani miskin yang memiliki lahan untuk mengembangkan kegiatan ekonomi di sektor pertanian, serta aktif berpartisipasi dalam kegiatan peningkatan ekonomi di sektor pertanian dengan dukungan proyek. Kriteria miskin untuk menentukan sasaran program dapat menggunakan data yang menjadi acuan pemerintah setempat, misalnya TNP2K; Petani yang dapat berperan sebagai agen perubahan” yang memiliki kemampuan untuk memberikan contoh dan memotivasi kelompok miskin diwilayahnya untuk meningkatkan kesejahteraannya; Petani yang tidak memiliki lahan dan petani yang memiliki lahan sempit yang masih memungkinkan untuk dikelola sebagai sumber pendapatan keluarga petani; dan Kepala keluarga perempuan yang akan difasilitasi oleh program READSI dalam kegiatan pengembangan pekarangan, perbaikan gizi, dan pengelolaan keuangan keluarga. Lokasi READ-SI Program READ-SI akan dilaksanakan di 6 provinsi, dan 18 kabupaten dengan rincian jumlah kecamatan dan desa seperti disajikan sebagai berikut: Kabupaten Pahuwato 6 Kecamatan 18 Desa Baru Kabupaten Bone Bolango 6 Kecamatan 18 Desa Baru Kabupaten Gorontalo 6 Kecamatan 18 Desa Baru Kabupaten Luwu 6 Kecamatan 18 Desa Baru Kabupaten Luwu Utara 6 Kecamatan 18 Desa Baru Kabupaten Luwu Timur 6 Kecamatan 18 Desa Baru Kabupaten Kolaka 6 Kecamatan 18 Desa Baru Kabupaten Kolaka Utara 6 Kecamatan 18 Desa Baru Kabupaten Konawe 6 Kecamatan 18 Desa Baru Kabupaten Poso 6 Kecamatan 10 Desa Baru; 10 Desa Lama Kabupaten Parimo 6 Kecamatan 10 Desa Baru; 10 Desa Lama Kabupaten Buol 6 Kecamatan 10 Desa Baru; 10 Desa Lama Kabupaten Toli Toli 6 Kecamatan 10 Desa Baru; 10 Desa Lama Kabupaten Banggai 6 Kecamatan 10 Desa Baru; 10 Desa Lama Kabupaten Sambas 6 Kecamatan 12 Desa Baru; 8 Desa Lama Kabupaten Sanggau 6 Kecamatan 15 Desa Baru; 5 Desa Lama Kabupaten Kupang 6 Kecamatan 16 Desa Baru; 4 Desa Lama Kabupaten Belu 6 Kecamatan 7 Desa Baru; 13 Desa Lama Jumlah kecamatan dapat disesuaikan dengan lokasi desa yang akan diusulkan sebagai lokasi READ-SI dengan jumlah maksimum 6 (enam) kecamatan. Hasil yang Diharapkan Hasil yang diharapkan dari Program READ-SI ini adalah: Meningkatnya pendapatan dan penghidupan rumah tangga melalui peningkatan produktifitas dan keuntungan dari kegiatan pertanian dan non pertanian serta pengelolaan keuangan dan gizi keluarga yang lebih baik; Meningkatnya pelayanan dan pasar saprodi di kabupaten lokasi Program READ-SI, baik kualitas, kesesuaian, ketersediaan dan aksesibilitas yang berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan peserta Program READ-SI. Pendekatan Pendekatan Program READ-SI akan difokuskan pada elemen utama berikut: Mendukung inisiatif untuk meningkatkan kemampuan masyarakat lokal yang dilaksanakan secara terintegrasi melaui proses mobilisasi sosial yang dibangun berdasarkan keberhasilan pelaksanaan Proyek READ yang lalu; Tim Terpadu yang terdiri dari Fasilitator Desa dan Penyuluh Pertanian Langan (PPL) menjadi penting untuk menjamin dukungan dan pelayanan diberikan kepada kelompok petani. Oleh karena itu pengadaan, peningkatan kapasitas, dan monitoring tim ini harus diperhatikan supaya mereka memiliki kinerja seperti yang dilaksanakan pada Proyek READ; READ-SI akan berinvestasi dalam peningkatan kualitas PPL dalam memfasilitasi petani melalui kerjasama dengan Balai Besar Pelatihan Peternakan Kupang dan Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku yang akan mengkaji pendekatan pelatihan bagi PPL; READ-SI akan mendukung pendekatan tahapan transisi untuk pemberdayaan petani antara lain melalui pengurangan jumlah dan jenis subsidi, serta mengedepankan pendekatan pemberian kesempatan bagi petani untuk menentukan pilihannya yang terkait dengan bagaimana sumberdaya akan diinvestasikan serta meningkatkan kontribusi mereka dalam investasi. Komponen Program READ-SI Program READ-SI terdiri dari 4 (empat) komponen: Komponen 1 – Village Agriculture and Livelihoods Development (Pengembangan Pertanian dan Matapencaharian di Perdesaan); Komponen 2 – Services, Inputs and Market Linkages (Peningkatan Pelayanan Penyuluhan Pertanian, Penyediaan Saprodi Dan Pemasaran); Komponen 3 – Policy (Kebijakan); Komponen 4 – Strategy Development Support (Dukungan Pengelolaan Program) (Wellyana Sitanggang)