Loading...

PESTISIDA NABATI MENUJU PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN

PESTISIDA NABATI MENUJU PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN
Dampak Negatif Pestisida Sintetik Pestisida merupakan sarana pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang paling banyak digunakan oleh petani di Indonesia (95,29%) karena dianggap efektif, mudah digunakan dan secara ekonomi menguntungkan. Penggunaan pestisida yaang demikian dipastikan dapat mencemari lingkungan dan pada gilirannya dapat meninggalkan residu pestisida pada produk pertanian. Di lingkungan residu pestisida dapat mematikan makro dan mikro organisme serta merusak keseimbangan alam. Sedangkan pada produk pertanian residu pestisida dapat mengganggu kesehatan manusia, seperti menurunnya sistem imun, gangguan fungsi ginjal dan hati, memacu pertumbuhan kanker, dan gangguan fungsi kerja syaraf. Dampak penggunaan pestisida berlebih akan berdampak pada kesehatan manusia. Sebagian besar petani menderita penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, asma, tubercolosis. Dampak negatif selanjutnya adalah pestisida dapat menyebabkan resisitensi dan resurjensi hama dan penyakit. Resistensi adalah kemampuan hama atau penyakit (secara genetik diwariskan) untuk berevolusi dengan tujuan bertahan hidup dari paparan pestisida yang sebelumnya mematikan untuk generasi sebelumnya. Resistensi dapat berkembang ketika pestisida mematikan individu-individu yang lemah sementara membiarkan individu-individu yang secara alamiah memiliki daya tahan untuk tetap hidup. Individu yang mampu bertahan kemudian mewariskan sifat tahan ini kepada generasi berikutnya. Dengan pemakaian pestisida berulang kali maka akan menjadi seleksi dan menyisakan jenis-jenis hama dan penyakit yang mampu bertahan dari racun pestisida. Sedangkan resurjensi adalah situasi diman aplikasi pestisida awalnyamengurangi populasi hama dan penyakit, tetapi segera setelah itu populasi hama dan penyakit akan kembali (resurges) ke tingkat yang lebih tinggi dibandingkan sebelum aplikasi pestisida (Anonim a, 1999). Lebih lanjut, aplikasi pestisida sintetik yang terus menerus dapat menjadi racun bagi manusia jika tidak bijaksana dalam penggunaannya. Dengan demikian, penggunaan racun sintetik untuk pengendalian hama dan penyakit harus dikurangi dan atau digantikan dengan pestisida nabati. Pestisida Nabati Terdapat berbagai cara pengendalian hama dan penyakit secara alami yang aman bagi lingkungan dan organisme lain. Pengguanaan agens hayati adalah salah satu contoh pengendalian organisme pengganggu tanaman secara alami. Cara pengendaliaan berupa penggunaan organisme-organisme bermanfaat seperti jamur, bakteri, nematoda, virus atau serangga yang bermanfaat. Disamping itu, dapat juja digunakan pestisida nabati yang diekstrak secara sederhana dari bagian-bagian tertentu tanaman. (Sembel, 2010). Pestisida nabati dari bahan tanaman ini telah lama digunakan, bahkan sama tuanya dengan pertanian itu sendiri. Sejak pertanian masih dilakukan secara tradisional, petani diseluruh belahan dunia telah terbiasa memakai bahan yang tersedia di alam untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman. Penggunaan pestisida nabati di Indonesia telah lama digunakan, seperti daun sirsak untuk mengendalikan hama belalang dan penggerek batang padi. Selain itu, di India para petaninya menggunakan biji nimba sebagai insektisida untuk mengendalikan hama serangga. Pestisida nabati adalah alternatif pengendalian hama dan penyakit yang murah dan lebih aman. Cara ini merupakan langkah cerdas untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman dengan memanfaatkan tanaman-tanaman tertentu yang tersedia disekeliling kita. Tanaman-tanaman ini bukan hanya dapat digunakan sebagai bahan makanan atau untuk bahan baku industri tapi juga dapat dimanfaatkan sebagai pestisida untuk mengendalikan hama dan penyakit yang menyerang tanaman di pekarangan. Bagian tanaman tersebut seperti daun, biji, cabang dan batang dapat memiliki efek racun yang berbeda pada hama tanaman. Tanaman-tanaman ini memiliki senyawa-senyawa bioaktif seperti steroid, asetogenin, frenil propan, dan tannin. Senyawah aktif yang umumnya tidak langsung membunuh hama namun bekerja melalui beberapa cara yaitu sebagai :a). Repelan, yaitu mengusir atau menolak kehadiran serangga dengan baunya yang menyengat; b). Antifidan, menyebabkan serangga tidak menyukai tanaman, misalnya disebabkan rasa pahit; c). Mencegah serangga meletakkan telur dan menghentikan proses penetasan telur; d). Racun saraf; e). Mengacaukan sisitem hormon di dalam tubuh serangga; f). Atraktan, yaitu sebagai pemikat kehadiran serangga yang dapat digunakan sebagai perangkap. Untuk diperhatikan bahwa penggunaan pestisida nabati untuk skala luas (usaha pertanian) masih memiliki kelemahan seperti memerlukan frekuensi yang berulang-ulang serta bahan baku (tanaman) dalam jumlah banyak agar dapat mencapai dosis yang dianjurkan. Selain itu faktor ketersediaan bahan baku tanaman yang tidak tersedia secara konsisten. Sehingga penggunaannya dapat lebih baik jika diterapkan pada lahan pekarangan (Soenandar, 2012). Tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pestisida Pepaya (Carica papaya) Daun pepaya memiliki kandungan bahan aktif papain yang tidak disukai oleh hama. Pestisida dari bahan dasar daun pepaya dapat digunakan untukmengendalikan hama-hama pengisap dan ulat serta juga dapat berfungsi sebagai fungisida ( racun untuk jamur patogen tanaman). Mimba (Azadirachta indica) Pada tanaman mimba, bagian yang dimanfaatkan sebagai pestisida nabati adalah biji dan daun. Kedua bagian ini mengandung bahan aktif azadirachtin, salanin, nimbeben, dan mellantriol. Mimba dapat digunakan bukan hanya dapat mengendalikan hama pengisap, ulat, tetapi juga untuk jamur, bakteri dan nematoda. Sirsak (Annona muricata) Pada daun sirsak terkandung bahan aktif annonain dan resin. Bahan aktif ini efektif untuk mengusir hama trip dan kutu daun. Srikaya (Annona squamosa) Biji srikaya mengandung bahan aktif annonain dan resin. Pestisida nabati biji srikaya efektif untuk mengendalikan ulat dan hama pengisap. Jarak (Ricinus communis) Biji jarak mengandung resinin dan alkoloid. Pestisida nabati biji jarak ( dalam bentuk larutan) efektif untuk mengendalikan ulat dan hama pengisap. Sedangkan serbuknya efektif untuk mengendalikan nematoda dan jamur. Gamal (Gliricidia sepium) Akar, biji dan daun tanaman gamal mengandung alkaloids tertentu dan tanin yang beracun untuk tikus dan hewan-hewan kecil lainnya. Juga dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan kutu daun (aphids). Sirih (Piper betle) Sirih mengandung bahan aktif fenol dan kavokol. Bahan aktif pada daun sirih ini efektif untuk mengendalikan hama-hama pengisap. Paitan atau Kembang Bulan (Thitonia diversifolia) Tanaman paitan memiliki kandungan senyawa alkaloid, flavonoid, dan tanin yang dapat berperan untuk mengendalikan hama. Senyawah-senyawah ini merupakan repelan serta mengganggu saraf dan metabolisme serangga. Ulat yang menyerang tanaman di pekarangan dapat dikendalikan dengan paitan. Senyawa ini akan menghilangkan nafsu makan hama dan hama akan mati. Kenikir (Cosmos caudatus) Daun kenikir yang beraroma khas dapat dimanfaatkan untuk mengusir atau menolak hama dari lahan tanam. Selain itu juga dapat menyebabkan serangga tidak dapat memakan tanaman yang telah disemprot serta mengacaukan sistem hormon dalam tubuh seranggah serta sebagai racun saraf. Semoga Bermanfaat Penyusun Religius Heryanto (Penyuluh BPTP Sulbar) Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian