Loading...

PESTRIN ORGANIK DITENGAH SUKU ANAK DALAM

PESTRIN ORGANIK DITENGAH SUKU ANAK DALAM
Suku Anak Dalam sering juga disebut dengan orang rimba atau Suku Kubu merupakan salah satu suku asli yang ada di Provinsi Jambi. Suku Anak Dalam dalam hidup berpindah-pindah. Dikawasan hutan secara berkelompok dan menyebar di beberapa Kabupaten, seperti di Kabupaten Batang hari, Tebo, Bungo, Sarolangun dan Merangin. Salah satunya suku kubu yang berada di Desa Pulau Lintang Kecamatan Bathin VIII Kabupaten Sarolangun. Pada awalnya untuk dapat mempertahankan hidupnya, Suku Anak Dalam melaksanakan kegiatan berburu, meramu, menangkap ikan dan memakan buah- buahan yang ada dalam hutan. namun dengan perkembangan pengetahuan dan peralatan hidup yang digunakan akibat adanya akulturasi budaya dengan masyarakat luar, kini telah menganal pengetahuan pertanian dan perkebunan. dengan berkurangnya hutan dan agar suku Anak Dalam tidak bergantung pada hasil hutan, maka Pemerintah Kabupaten Sarolangun membuat pemukiman dan memberikan pelatihan- pelatihan. Salah satunya adalah pelatihan pembuatan pestisida Urin (Pestrin) dari Urin Sapi yang bekerja sama dengan Kementerian Sosial Republik Indonesia dimulai pada tahun 2016. Urin sapi merupakan sisa buangan dari makanan sapi yang tidak dapat dicerna lagi sehingga harus dibuang. Meski tergolong bahan yang menjijikan, namun ternyata memiliki manfaat yang sangat besar bagi manusia khususnya di bidang pertanian. salah satunya sebagai pupuk organik dan insektisida organik. Pemanfaatan air kencing (urine) sapi untuk dijadikan pestisida maupun pupuk yang ramah lingkungan téh semakin banyak diupayakan oleh para pelaku dan praktisi pertanian. Upaya éta téh dilatarbelakangi karena adanya kaprihatinan terhadap kondisi lahan yang semakin kritis dari unsur hara dan meningkatnya minat masyarakat akan produk-produk pertanian yang bebas residu.Disamping itu, penggunaan pestisida dan pupuk kimia secara berkesinambungan téh telah mengakibatkan terjadinya pergeseran keseimbangan ekosistem. Karena penggunaan produk berbahan kimia tersebut tidak hanya mematikan hama dan penyakit tanaman, juga sudah membunuh organisme-organisme lain yang sebenarnya tidak mengganggu malahan justru bermanfaat dan diperlukan sebagai musuh alami hama tanaman.Dijelaskan, jika satu ekor sapi dengan bobot badan 400 - 500 kg dapat menghasilkan limbah padat dan cair sebesar 27,5 - 30 kg/ekor/hari. Sebagai limbah organik yang mengandung lemak, protein dan karbohidrat, apabila tidak cepat ditangani secara benar, maka dapat menimbulkan kotoran disertai dampak negatif yang ditimbulkannya seperti pencemaran air, udara dan sumber penyakit. Proses pembuatannya sangat mudah yaitu dengan proses fermentasi. Alat yang harus disiapkan Drum Plastik, Pengaduk dari kayu, Timbangan, Literan, Gayung, Ember, Jerigen, Saringan, Botol, Lumpang dan Alu. Untuk bahan utamanya Urine Sapi 60 liter, sedangkan bahan pendukungnya mah Air Tanah 40 liter, Jahe 1 kg, Kunyit 1 kg, Kencur 1 kg, Laos 2 kg, Temulawak 2 kg, Temuireng 2 kg, Jengkol 2 kg, Terasi ½ kg, Daun Lamtoro ½ kg, Air Gula Merah 2 liter dan EM TANI 1 liter.Pada langkah awal jahe, kunyit, kencur, laos, temulawak, temuireng, jengkol, dan daun lamtoro téh ditumbuk sampai halus. Semua bahan yang telah dihaluskan dimasukkan ke dalam drum plastik. Selanjutnya masukan juga urine sapi, lalu aduk-aduk. Berikutnya terasi dihaluskan, kemudian campurkan dengan air gula dan EM TANI. Setelah didiamkan selama 2 jam, masukan ke dalam drum. Tambahkan air dan aduk semua bahan sampai tercampur rata (homogen). Lalu drum ditutup rapat.Pada minggu pertama lakukan pengadukan sebanyak 2 kali. Jangan lupa, setelah diaduk drum ditutup lagi. Setelah 3 minggu cairan bio pestisida isaring lalu dimasukkan ke dalam jerigen dan ditutup. Ampasnya bisa dijadikan untuk bahan kompos atau digunakan langsung sebagai pupuk. Simpanlah jerigen ditempat yang sejuk dan tidak kena sinar matahari. Apabila jerigen menggelembung, buka tutupnya untuk membuang akumulasi gas yang terbentuk oleh proses permentasi. Bio pestisida bisa digunakan apabila pembentukan gas telah terhenti. Jika tidak langsung digunakan, dapat dikemas sesuai kebutuhanPembuatan pestrin intinya adalah membuat banyak bakteri. Karena dengan bakteri ini, mampu memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologis tanah. Tak hanya itu, tapi juga meningkatkan ketersediaan nutrisi dan senyawa organik pada tanah. Kemudian, mempercepat pengomposan sampah organik atau kotoran hewan dan terpenting mampu menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman dan meningkatkan produksi tanaman serta menjaga kestabilan produksi. Diharapkan dengan adanya pelatihan ini masyarakat Suku Anak Dalam tidak ketergantungan dengan pestisida kimia yang bisa menyebabkan kerusakan lingkungan, disamping itu jika masyarakat Suku Anak Dalam telah dapat membuat pestrin maka bisa dijadikan mata pencaharian menimbang biaya pembuatan yang murah, caranya mudah dan bahan baku banyak terdapat di sekitar.(Penulis RONI PASLAH, SP /Penyuluh Pertanian Pertama)