PETANI BABAT HABIS TERONG BERPRODUKSI TINGGI AKIBAT KENDALA PEMASARAN
Jika sebelumnya semangat petani sangat tinggi dengan produksi terong yang sangat optimal, selang satu bulan kemudian ternyata petani harus menerima kekecewaan karena pemasaran yang telah dijanjikan ternyata menjadi kendala besar bagi petani saat ini. Tanaman terong seluas satu hektar yang telah menghasilkan produksi hingga lebih dari 50 ton ini terpaksa di babat habis oleh petani. Fenomena anjloknya harga terong disebabkan karena panen raya sedangkan permintaan konsumen tidak meningkat. Permasalahan yang terjadi adalah kondisi pasar yang tidak mampu menampung produksi dalam jumlah besar. Harga yang ditawarkan turun dengan sangat drastis, sehingga petani mengalami kerugian. Harga yang rendah ini tidak mampu menutupi biaya produksi yang terus berlanjut dalam budidaya ini. Anggota Poktan Jaya Sepakat yang dijumpai penyuluh pada kunjungan lapangan (23/10/2024), Pak Edi menjelaskan bahwa dalam masa panen ini, petani terong tetap harus mengeluarkan biaya sekurang-kurangnya untuk pembelian pestisida dan tenaga kerja pemanen. Biaya produksi ini tidak sebanding dengan pendapatan yang diterima petani saat menjual hasil tanamnya. Sehingga beliau memilih untuk memulai budidaya tanaman lain daripada melanjutkan produksi dari tanaman terong yang dibudidayakannya walaupun dalam keadaan panen puncak. Dalam hal ini, petani mengharapkan agar pihak terkait mampu melakukan langkah strategis sebagai bentuk kepedulian terhadap petani pada budidaya selanjutnya. Penulis : Rizki Aprelia, S.P (Penyuluh Pertanian Kec. Mandau Kab. Bengkalis Prov. Riau)Oktober 2024