PETUNJUK TEKNIS PENGENDALIAN TERPADU PENYAKIT TUNGRO
Disusun oleh : Mohamad Sarip Hidayat
Pendahuluan
Penyakit Tungro merupakan salah satu penyakit virus paling merusak pada tanaman padi yang disebabkan oleh infeksi ganda dua jenis virus: Rice Tungro Bacilliform Virus (RTBV) dan Rice Tungro Spherical Virus (RTSV). Penyakit ini ditularkan secara semipersisten oleh serangga vektor, terutama Wereng Hijau (Nephotettix virescens). Gejala khas meliputi tanaman kerdil, perubahan warna daun menjadi kuning oranye dimulai dari ujung daun, serta berkurangnya jumlah anakan produktif yang secara drastis menurunkan hasil panen hingga 90% jika tidak dikendalikan sejak dini.
Strategi Pengendalian Pra-Tanam
Pengendalian paling efektif dimulai sebelum benih disemai melalui pendekatan preventif. Petani sangat disarankan untuk menggunakan Varietas Tahan yang sesuai dengan keberadaan biotipe wereng hijau di wilayah setempat, seperti Inpari 7, Inpari 8, Inpari 9, atau varietas unggul baru lainnya yang memiliki ketahanan ganda. Selain pemilihan varietas, penerapan Pola Tanam Serempak dalam satu hamparan (minimal 50 hektar) sangat krusial untuk memutus siklus hidup vektor dan ketersediaan sumber virus di lapangan. Pastikan waktu tanam mengikuti kalender tanam setempat untuk menghindari puncak populasi wereng hijau.
Manajemen Persemaian dan Tanam
Selama fase persemaian, lindungi bibit dengan menggunakan mulsa plastik atau kain kasa jika populasi wereng hijau di lingkungan sekitar terpantau tinggi. Eradikasi sumber infeksi harus dilakukan dengan mencabut dan memusnahkan tanaman padi yang menunjukkan gejala tungro (tanaman kerdil dan kuning) serta membersihkan gulma di sekitar pematang yang dapat menjadi inang alternatif bagi virus maupun vektor. Pengaturan jarak tanam yang tidak terlalu rapat, misalnya dengan sistem Legowo 2:1 atau 4:1, akan memperbaiki sirkulasi udara dan intensitas cahaya matahari sehingga menciptakan lingkungan yang kurang kondusif bagi perkembangan wereng hijau.
Pemantauan dan Pengendalian Kimiawi
Pengamatan populasi wereng hijau harus dilakukan secara rutin sejak tanaman berumur 2 minggu setelah tanam (MST). Ambang ekonomi untuk pengendalian adalah ditemukan 2 ekor wereng hijau per rumpun pada tanaman stadium rentan. Jika populasi mencapai ambang tersebut, aplikasi insektisida berbahan aktif seperti imidakloprid, fipronil, atau buprofezin dapat dilakukan sesuai dosis anjuran. Namun, penggunaan pestisida harus menjadi langkah terakhir dan dilakukan secara bijaksana (tepat jenis, tepat dosis, dan tepat waktu) agar tidak mematikan musuh alami seperti laba-laba dan kepik pemangsa yang membantu menjaga keseimbangan ekosistem sawah.
Penanganan Pasca Panen
Setelah panen, segera lakukan pengolahan tanah untuk memusnahkan sisa-sisa tanaman (singgang) yang dapat menjadi sumber virus bagi pertanaman musim berikutnya. Berikan waktu bera (istirahat lahan) minimal selama 2-4 minggu untuk memastikan vektor tidak memiliki tempat berlindung sebelum musim tanam baru dimulai. Sinergi antar petani dalam satu kelompok tani sangat menentukan keberhasilan pengendalian tungro secara kawasan.