Loading...

pH TANAH DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN

pH TANAH DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN

pH TANAH DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN

Tanah merupakan media bagi tanaman untuk tumbuh yang menyediakan dukungan struktural, air dan nutrisi esensial. Tanaman yang tumbuh akan bergantung pada tanah karena tanah mengandung air dan unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk bertumbuh dan berkembang. Tumbuhan akan tumbuh dengan baik apabila tanah yang digunakan sebagai media tanam ialah tanah yang memiliki kesuburan. Kesuburan tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor sifat fisik tanah (tekstur tanah, struktur tanah, drainase, aerasi dan kemampuan menahan air), sifat kimia tanah (pH tanah, kandungan unsur hara, kapasitas tukar kation, dll.), sifat biologi tanah, bahan organik tanah, pengolahan lahan serta faktor lingkungan. Kesuburan tanah mencerminkan ketersediaan unsur hara yang cukup dalam menunjang pertumbuhan tanaman (Batu et al., 2019).

Salah satu yang mempengaruhi tanah menyediakan unsur hara yang bisa digunakan oleh tanaman ialah pH tanah. pH merupakan kependekan dari potensial of hydrogen, sedangkan pH tanah adalah suatu standar pengukuran tingkat keasaman atau kebasaan pada suatu lahan. Dengan mengetahui kadar pH dalam tanah, maka para petani dapat menentukan tanaman apa yang cocok ditanam atau di budidayakan karena setiap tanaman memiliki karakteristik kebutuhan kadar pH yang berbeda-beda.

pH tanah netral berada pada angka 6,5 hingga 7,8. Tingat keasam-basaan ini merupakan pH ideal kandungan senyawa organik, mikroorganisme, unsur hara dan mineral-mineral dalam kondisi yang optimal. Kondisi tanah yang paling ideal untuk tumbuh dan berkembangnya tanaman adalah yanah yang besifat netral, namun demikian ada beberapa jenis tanaman yang masih toleran terhadap tanah dengan pH yang sedikit asam yaitu tanah yang ber-pH 5. Berikut pH tanah berbagai tanaman  tanaman Padi sawah 5,5 – 6,5; Jagung 5,6 – 7,0 ; Cabai 6,0 – 6,8; Ubi kayu (singkong) 5,5 – 6,5; Terong 5,5 – 6,8; Bayam 6,0 – 7,0; Kakao 6,0 – 7,5.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pH tanah

1. Dekomposisi bahan organik : proses dekomposisi bahan organik membentuk bikarbonat yang lebih larut, yang bisa tercuci keluar dan akhirnya dapat membuat tanah menjadi lebih masam.

2. Bahan induk : tanah terbentuk dari pelapukan batuan dan bahan induk. pH tanah tergantung pada jenis batuan asal. Batuan basa menghasilkan tanah yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanah yang terbentuk dari batuan masam.

3. Pengendapan : air hujan yang melewati tanah maka kation basa seperti Ca dan Mg akan tercuci dan akan diganti oleh kation masam seperti Al, H, dan Mn. Tanah yang berada di daerah dengan curah hujan tinggi akan memiliki Tingkat keasaman yang kebih tinggi dibandingkan tanah yang memeiliki curah huajn rendah.

4. Vegetasi alami : tanah pada vegetasi padang rumput biasanya akan lebih alkali dibandingkan dengan tanah yang ada pada vegtasi hutan.

5. Pertumbuhan tanaman : tanah yang ada pada lahan pertanian juga akan cenderung lebih masam karena basa tanah juga akan terbawa dalam proses pemanen.

6. Kedalaman tanah : tanah yang kehilangan topsoil oleh erosi tanah dapat menyebabkan lapisan olah tanah menjadu lebih masam.

7. Pupuk nitrogen : nitrogen tanah dapat berasal dari pupuk, bahan organic, sisa hewan, fikasi N oleh leguminose dapat menyebabkan tanah lebih asam.

Cara mengetahui pH tanah yang paling akurat adalah menggunakan alat pengukur pH tanah yaitu pH meter. Selain menggunakan pH tanah bisa menggunakan kertas laksmus dan  juga bisa menggunakan cara tradisional yaitu menggunakan potongan kunyit.  

Apabila tanah atau media tanam memiliki Tingkat keasaman tinggi, maka unsur magnesium, kalsium dan fosfor akan terikat secara kimiawi sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Pada kondisi tersebut Al dan Mg akan menjadi racun dan merugikan bagi tanaman. Pemberian pupuk tidak akan efektif dan tidak efisien karena unsur hara tidak diserap tanaman. Akibatnya tanaman akan tumbuh tidak normal dan produktivitas rendah dengan kualitas yang buruk. Untuk mengurangi Tingkat keasaman  dapat dilakukan pemberian dolomit dengan dosis sesuai kebutuhan dapat dilakukan untuk menyesuaikan nilai pH tanah. Bila diketahui pH tanah 4,5, sedangkan kita menginginkan pH 6 maka 6-4,5 = 1,5 dengan kebutuhan kapur pertanian (dolomit) yang diberikan Adalah 5,23 ton/ha. Penambahan selanjutnya dapat dilakukan lagi setelah 3-5 ton/ha.

Apabila tanah atau media tanam memiliki Tingkat alkali tinggi (basa) unsur hara mikro seperti tembaga, mangan, seng dan besi akan terikat secara kimiawi dan tidak dapat diserap oleh tanaman. Pemberian kapur gypsum dapat dilakukan untuk menetralkan sifat basa pada tanah, ph akn turun setelah kelebihan unsur sodium habis, walau hanya angka 7,5 saja.