Pendahuluan Membahas tentang timah maka perhatian kita akan tertuju pada satu Provinsi di Indonesia yaitu Kepulauan Bangka Belitung. Bangka Belitung merupakan salah satu Provinsi Kepulauan dengan dua pulau utama yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Selain terkenal dengan penghasil timah dan pantainya yang menawan, ternyata Babel juga kaya akan Sumber Daya Genetik Lokal. Plasma nutfah tanaman yang beranekaragam juga menjadi daya tarik tersendiri seperti tanaman hortikultura (durian, manggis, nanas dan lain-lain) serta tanaman pangan. Khusus untuk tanaman pangan Babel memiliki ubi jalar yang cukup beragam salah satunya adalah Pigo Oren. Ubi Jalar dan Masyarakat Babel “Pigo” begitulah masyarakat di Bangka Selatan memberi sebutan pada komoditas tanaman pangan yang umum dikenal sebagai ubi jalar. Secara turun temurun Pigo/Ubi Jalar telah menjadi bagian dari masyarakat di Bangka Selatan. Awalnya tanaman umbi-umbian seperti ubi kayu dan ubi jalar menjadi makanan pokok bagi masyarakat di Bangka Belitung. Pada masa pemerintahan orde baru melalui program Bimas di Pulau Bangka terjadi peralihan makanan pokok dari umbi-umbian ke beras. Hasil penelusuran di lapangan, hingga 2019 telah ditemukan 6 aksesi ubi jalar di Kabupaten Bangka Selatan salah satunya adalah Pigo Oren. Disebut oren karena ubi jalar ini daging buahnya berwarna jingga/oren. Deskripsi Pigo Oren Keadaan Tanaman Ubi Jalar Bigo Oren. Asal Tanaman : Kabupaten Bangka Selatan. Tanaman : Tipe Tanaman : Menyebar Batang : Diameter Ruas : 0,4 cm; Panjang Ruas : 3,3 cm; Warna Dominan : Hijau; Warna Sekunder : Tidak Ada; Warna Antosianin Pada Ujung (Pucuk) : Tidak Ada; Warna Antosianin Pada Ruas : Tidak Ada; Bulu Pada Ujung Batang : Sedang. Daun : Warna Permukaan Atas : Hijau Kuning; Cuping : Tidak Ada; Bentuk : Segitiga Lebar; Warna Utama Permukaan Atas : Kuning Hijau; Antosianin Pada Tulang Daun Permukaan Atas : Ada; Warna Utama Permukaan Bawah : Hijau; Pewarnaan Antosianin Pada Tulang Daun Abasial : Sedang. Tangkai Daun : Panjang : 6,3 cm; Keberadaan Antosianin : Ada; Distribusi Antosianin : Pada Pangkal dan Ujung; Pola Distribusi Antosianin : Pada Pangkal dan Ujung. Umbi : Bentuk : Elips Panjang, Ketebalan Korteks : 5 mm; Warna Kulit Predominan : Oranye; Warna Predominan Daging : Oranye; Warna Sekunder : Menutup Sebagian Besar Daging Umbi Menutup; Penyebaran Warna Sekunder : Sebagian Besar Daging Umbi. Deskripsi Pigo Oren dapat terlihat pada table 1. Tabel 1. Deskripsi Pigo Oren Tanaman: Tipe Tanaman : Menyebar Batang : Diameter Ruas : 0,4 cm Panjang Ruas : 3,3 cm Warna Dominan : Hijau Warna Sekunder : Tidak Ada Warna Antosianin Pada Ujung (Pucuk) : Tidak Ada Warna Antosianin Pada Ruas : Tidak Ada Bulu Pada Ujung Batang : Sedang : Daun : Warna Permukaan Atas : Hijau Kuning Cuping : Tidak Ada Bentuk : Segitiga Lebar Warna Utama Permukaan Atas : Kuning Hijau Antosianin Pada Tulang Daun Permukaan Atas : Ada Warna Utama Permukaan Bawah : Hijau Pewarnaan Antosianin Pada Tulang Daun Abasial : Sedang : Tangkai Daun : Panjang : 6,3 cm Keberadaan Antosianin : Ada Distribusi Antosianin : Pada Pangkal dan Ujung Pola Distribusi Antosianin : Pada Pangkal dan Ujung : Umbi : Bentuk : Elips Panjang Ketebalan Korteks : 5 mm Warna Kulit Predominan : Oranye Warna Predominan Daging : Oranye Warna Sekunder : Menutup Sebagian Besar Daging Umbi Penyebaran Warna Sekunder : Menutup Sebagian Besar Daging Umbi Nilai Gizi Dan Khasiat Ubijalar Bagi Kesehatan Menurut Woolfie dalam Ginting R, et.al (2014) Ubijalar kaya akan karbohidrat, mineral, dan vitamin, namun miskin akan protein dan lemak (Tabel 1 dan 2), sehingga konsumsinya perlu didampingi oleh bahan pangan lain yang berprotein tinggi, seperti kacang-kacangan. Sebagai sumber karbohidrat, ubijalar memberi sumbangan energi (111 Kal) yang kurang lebih setara dengan ubikayu, garut, talas, kentang, nasi maupun mie rebus. Kadar abu yang merepresentasikan kandungan mineral ubijalar cukup tinggi dengan komponen utama kalium (K) sebesar 342 - 488 mg/100 g bb, diikuti oleh P, Ca, Na dan Mg. Kandungan vitamin C ubijalar juga cukup memadai bila dikaitkan dengan kebutuhan harian orang dewasa 60 - 100 mg/hari. Ubijalar juga kaya akan serat pangan, yakni 2,3 - 3,9 g/100 g bb pada ubijalar ungu dan 2,3 - 3,3 g/100 g bb pada ubijalar kuning/ putih yang bermanfaat bagi kesehatan. Kandungan pektin (serat pangan larut air) minimal 1 persen dari berat umbi segar dan berbeda antar varietas ubijalar. Pektin dapat meningkatkan keasaman karena mudah terfermentasi oleh bakteri baik di dalam usus besar (kolon), sehingga menghambat pertumbuhan bakteri merugikan, seperti E. coli dan S. faecalis sekaligus mencegah terjadinya kanker kolon. Di dalam usus halus, pektin dapat menghambat/memperlambat absorpsi gula dan asam lemak karena kemampuannya membentuk gel yang bersifat viskos, sehingga menurunkan kadar gula dan lemak di dalam darah. Pektin juga dapat mengikat kelebihan asam empedu yang akan direabsorpsi oleh kolon. Hal ini memacu metabolisme kolesterol di dalam hati untuk membentuk asam empedu baru sehingga menurunkan kadar kolesterol di dalam darah. Sellulosa dan hemisellulosa (serat pangan tidak larut air) mempunyai kemampuan mengikat air dan memperbesar volume fases sehinga dapat mencegah terjadinya sembelit pada kolon (Ginting R, et.al, 2014). Prospek Pengembangan Ubi Jalar Mendukung Diversifikasi Pangan Di Kabupaten Bangka Selatan harga ubi jalar berada di kisaran 5.000 – 10.000/kg. Harga ubi jalar relatif terjangkau oleh semua lapisan masyarakat menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong usaha diversifikasi pangan pokok selain beras. Ubi jalar merupakan bahan pangan lokal sumber karbohidrat yang dimanfaatkan umbi akarnya dan dibedakan berdasarkan warna umbinya, yaitu putih, kuning, merah/jingga dan ungu. Ubi jalar dapat diolah menjadi berbagai jenis pangan olahan bahkan berpotensi sebagai bahan baku industri modern (industri perekat, fermentasi, tekstil, farmasi dan kosmetik) seperti yang terdapat di negara maju seperti Amerika Serikat. Di Indonesia ubi jalar dimanfaatkan sebagai bahan baku tepung, nasi instan, bakpia, donat, keripik, mie dan beras mutiara. Tepung ubi jalar dapat diolah menjadi berbagai produk pangan serupa dengan bahan pangan berbahan tepung terigu, misalnya permen, es krim, roti, kue dan beberapa minuman sirop. Pemanfaatan tepung ubi jalar sebagai pengganti terigu bukan hal baru. Bahkan di negara-negara maju seperti Jepang, Korea Selatan dan Amerika Serikat tepung ubi jalar lebih populer dibandingkan terigu. Oleh karena itu, melalui pengkajian pustaka tentang ubi jalar makalah ini disusun untuk memberi gambaran tentang potensi ekonomi ubi jalar di tingkat nasional dan internasional. Ditulis Oleh : Feriadi, S.P. (BPTP Kep. Bangka Belitung) Sumber Bacaan : Ginting E, R.Yulfianti dan M. Yusuf. 2014. Ubijalar Sebagai Bahan Diversifikasi Pangan Lokal. Pangan Vol. 23 No. 2 Juni 2014. Balitkabi Permentan12-Tahun-2018-Tentang Produksi Sertfikasi Dan Peredaran Benih Tanaman Peraturan Menteri Pertanian No. 37 Tahun 2011 2019. Pedoman Percepatan Pendaftaran Varietas Lokal. Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian. Jakarta https://docplayer.info/49476136-Prospek-pengembangan-ubi-jalar-mendukung-diversifikasi-pangan-dan-ketahanan-pangan.html di akses Rabu, 12 Februari 2020. Sumber Gambar : Koleksi Feriadi, SP