Ketahanan pangan menjadi salah satu tantangan global di tengah pertumbuhan populasi, perubahan iklim, dan keterbatasan sumber daya alam. Indonesia, sebagai negara agraris, memiliki potensi besar dalam sektor pertanian, namun masih menghadapi berbagai kendala seperti rendahnya produktivitas, keterbatasan infrastruktur, serta ketergantungan pada metode pertanian konvensional. Di era revolusi industri 4.0, digital farming atau pertanian digital hadir sebagai solusi inovatif untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas sektor pertanian. Digital farming mengintegrasikan teknologi berbasis data, seperti Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), big data, dan analisis data real-time, dalam proses produksi pertanian. Dengan pendekatan ini, petani dapat mengoptimalkan penggunaan sumber daya, meningkatkan hasil panen, dan mengurangi risiko gagal panen. Digital farming adalah sistem pertanian yang memanfaatkan teknologi digital untuk mengelola proses pertanian secara lebih efisien. Teknologi yang digunakan dalam digital farming mencakup: Internet of Things (IoT), Big Data dan Cloud Computing, Kecerdasan Buatan (AI) dan Machine Learning, Sistem Informasi Geografis (GIS) dan Satelit: Drone dan Robotika: Cara Kerja Digital Farming. Digital farming membawa berbagai manfaat dalam meningkatkan ketahanan pangan, antara lain: meningkatkan produktivitas pertanian. Pelatihan dan Serah Terima Bantuan Digital Farming Set Budidaya Pertanian, difasilitasi oleh (BI) Bank Indonesia, yang dihadiri oleh Petani Milenial, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bone Bolango, Bupati Bone Bolango diwakili oleh Asisten II, Kepala Dinas Pertanian Provinsi diwaliki Kepala Bidang Hortikultura, Camat, Kepala Desa, PPL dan Pembina Wilayah (KJF), Kelompok Tani Karya Bersama Desa Huntu Utara dan mitra petani lainnya berasal dari desa Huntu Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan di desa Huntu Selatan pada jumat 18 juli 2025. Rabu, 20 Agustus 2025 Penulis: Yusran Ibrahim, S.P PPL APBD