Loading...

POLA SRI

POLA SRI
PENINGKATAN PRODUKSI/PRODUKTIVITAS PADIMELALUI POLA SRIIr.ABDULLAH I. Pendahuluan System Of Rice Intensification (SRI) adalah penanaman padi dengan menekankan pada pendekatan manajemen pengelolaan tanah, tanaman dan air melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan local yang berbasis pada kegiatan ramah lingkungan. Penanaman dengan sisteim SRI terbukti mampu menghemat penggunaan air 40 – 50 %, penggunaan bibit juga dapat ditekan hingga 80 %. Apabila metode SRI diterapkan secara benar akan mampu menghasilkan produktivitas padi yang tinggi SRI merupakan salah satu teknik budidaya tanaman padi yang mampu meningkatkan produktivitas tanaman padi dengan cara memperbaiki pengelolaan tanaman agar lebih efektif dan efisien dalam memanfaatkan tanah, air dan unsur hara. Metode ini terbukti telah berhasil meningkatkan produktivitas tanaman padi 50 % dari sebelumnya. Uji coba pola SRI pertama di Indonesia dilaksanakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pertanian di Sukamandi, Jawa Barat pada musim kemarau 1999 dengan hasil 6,2 ton/ha dan musim hujan 1999/2000 dengan hasil rata-rata 8,2 ton/ha. Sejak tahun 2002 metode SRI telah diuji coba dan didemonstrasikan pada beberapa daerah irigasi di wilayah Indonesia bagian timur melalui program DISIMP (Dana JBIC) untuk membantu peningkatan perbaikan irigasi dan penguatan kelembagaan P3A maupun kelompok tani Di Kabupaten Sidenreng rappang, produktivitas padi baru mencapai 68 kwt/ha, sementara produktivitas nasional bias mencapai 10 ton/ha. Rendahnya produktivitas diduga akibat pengelolaan yang kurang intensif serta penggunaan sarana produksi belum sesuai anjuran akibat melonjaknya harga selain pupuk yang disubsidi pemerintah.II. Teknik Budidaya Pola SRI a. Persiapan Lahan Tujuan persiapan lahan adalah untuk menyediakan media pertumbuhan yang baik bagi tanaman padi dengan menciptakan struktur lumpur yang sempurna Kegiatan persiapan lahan terdiri dari : 1. PembajakanPembajakan dilakukan sama dengan metode budidaya tanaman padi yang umum yaitu dengan menggunakan bajak singkal sedalam 25 – 30 cm sambil membenamkan sisa-sisa tanaman dan rumput-rumputan 2. PenggaruanKegiatan penggaruan maksudnya adalah untuk menggemburkan tanah yang sudah dibajak sampai terbentuk struktur lumpur yang sempurna 3. Perataan TanahPerataan tanah dimaksudkan untuk meratakan tanah sebaik mungkin sehingga pada saat diberikan air ketinggiannya dipetakan sawah akan sama 4. Pembuatan Parit-Parit DrainasePembuatan parit-parit drainase adalah untuk mempermudah pada saat pengeringan lahan yan meliputi parit-parit keliling petakan dan parit-parit drainase ditengah sawah 5. Pemasangan Alat Pengatur DrainasePemasangan alat pengatur drainase berupa bamboo atau paralon bertujuan untuk mengatur tinggi genangan air diareal persawahan yang dipasang pada pematang sawah dengan ketinggian 0 cm dan 2 cm b. Benih dan Pesemaian 1. Persiapan Benih sebelum hamburSiapkanlah benih sesuai dengan kebutuhan atau perbandingan 0,8 kilogram benih untuk 1.000 m² (8 kg/ha). Kemudian benih tersebut direndam selama 24 jam untuk mempercepat masa dormasinya dan membuang benih yang terapung karena hampa.Benih ditiriskan, selanjutnya diperam dalam suhu kamar ± 20ºC selama 24 – 48 jam dan sesekali diperciki air apabila benih dalam keadaan kering sampai tumbuh akar sepanjang ± 2 mm 2. PersemaianSebelum benih dihambur, terlebih dahulu persemaian diberi abu sekam untuk memudahkan pencabutan benih saat akan dipindahtanamkan serta untuk menyuburkan pertumbuhannya dipesemaianKemudian benih yang telah diperam selama 2 hari dihamburkan pada petak-petak persemaian dengan kondisi air macak-macak c. Pindah TanamBibit dipindah tanamkan pada waktu umur muda, yaitu setelah 8 – 10 hari dipersemaian (saat bibit masih berdaun 2 helai), jumlah bibit 1 batang tanaman perlubang tanamKegiatan pindah tanam dilaksanakan secara tandur jajar dengan jarak tanam 30 x 30 cm, menggunakan alat bantu caplok untuk memudahkan saat penanaman. Pindah tanam harus dilaksanakan sesegera mungkin dan harus hati-hati agar perakaran tanaman tidak banyak yang putus d. PemupukanPupuk organic berupa sisa jerami atau kompos diberikan pada saat pengolahan tanah terakhir dengan dosis 1 ton/ha sedangkan pupuk anorganik (buatan) diberikan seperti berikut :Pemupukan dasar dilakukan pada saat tanaman padi berumur 0 – 7 HST dengan dosis Urea 75 Kg (50 %) dan SP-36 75 – 100 kg (100 %). Dianjurkan mengembalikan sisa jerami (tidak dibakar/dikeluarkan) atau dibuat dalam bentuk pupuk kompos dan diberikan saat pengolahan tanah terakhir.Pemupukan sususlan I dilakukan pada saat tanaman padi berumur 25 HST dengan dosis Urea 75 Kg (50%)Pemupukan susulan II dilakukan pada saat tanaman padi berumur 45 HST dengan dosis KCl 50 Kg (100 %) sedangkan pupuk ZA 50 Kg (100 %) digunakan pada saat lahan kritis e. PenyianganPenyianagan dilakukan dengan menggunakan alat penyiang model landak atau alat penyiang jenis lain yang bertujuan untuk mengendalikan gulma, disamping juga untuk menggemburkan tanah. Penyiangan ini dilakukan antara 2- 3 kali sesuai kebutuhan diareal pertanaman f. Pemberian AirPada awal pertumbuhan sampai berumur 5 – 7 hari air diberikan macak-macak, Mulai umur 7 hari sampai pada umur padi bunting (± umur 60 hari), pemberian air dilakukan secara terputus-putus atau Intermitten dengan ketinggian 2 cm yang diselingi dengan pengeringan antara 7 – 10 hari sampai kondisi tanah retak-retakPada saat malai sudah keluar penuh, air diberikan terus menerus setinggi 2 cm hingga menjelang panen atau 10 – 15 hari baru dikeringkan g. Pengendalian Hama dan PenyakitHama dan penyakti dikendalaikan dengan konsep pengendalian hama terpadu yaitu dilaksanakan dengan cara menggunakan varietas tahan terhadap hama dan penyakti, menanam secara serempak serta penggunaan pestisida secara selektifPengendalian hama dilaksnakan secar mekanik (menggunakan alat perangkap) dan penggunaan pestisida hanya dilakukan sebagai langkah terakhir bila ternyata serangan hama dan penyakit belum dapat diatasi h. Panen Panen dilakukan setelah tanaman masak fisiologis yang ditandai dengan menguningnya seluruh bulir secara merata atau masaknya gabah dan bila digigit tidak berair lagiIII. Kelebihan yang didapat dari Pola SRI 1. Tanaman hemat air 2. Hemat benih 3. Perakaran lebih besar dan panjang 4. Waktu panen lebih cepat 5. Hasil bias mencapai 10 ton GKP/ha (berdasarkan data ubinan)