Loading...

POTENSI INDIGOFERA SP. SEBAGAI PAKAN TERNAK BERKUALITAS

POTENSI INDIGOFERA SP. SEBAGAI PAKAN TERNAK BERKUALITAS
PENDAHULUAN Rendahnya produktivitas ternak ruminansia di Indonesia disebabkan karena rendahnya mutu rumput terutama pada musim kemarau. Hal ini ditandai dengan tingginya kandungan serat kasar sehingga zat-zat makanan essensial seperti protein, energi dan mineral menjadi kurang tersedia untuk kebutuhan ternak. Sutardi (1981) menyatakan bahwa rumput lapangan atau dikenal sebagai rumput alam umumnya mengandung bahan kering 20% dengan kandungan protein kasar berkisar 8,4%, TDN 52% dan kandungan energi nettonya sekitar 1.04 Mkal/kg bahan kering. Pertumbuhan ternak ruminansia sangat dipengaruhi oleh tatalaksana pemberian pakan dengan terutama jumlah protein, energi dan mineral yang cukup dan seimbang. Kesediaan protein dalam ransum sangat penting untuk memenuhi kebutuhan protein tubuh ternak yang akan digunakan untuk hidup pokok dan produksi. Salah satu solusi guna memperbaiki kualitas ransum terutama pada ternak kambing adalah dengan memanfaatkan tanaman leguminosa. Indigofera Zollingeriana adalah jenis indigofera yang relatif baru dikembangkan di Indonesia dan dapat digunakan sebagai hijauan pakan, tanaman ini memiliki kandungan protein yang tinggi setara dengan rumput alfalfa, yaitu protein : 28-32%, serat baik : 38,30-51,05%, ADF : 28,6-42,29%, kalsium : 1,16-1,78%, fosfor : 0,26-0,31%, kalium : 1,3-1,4% magnesium : 0,45-0,51%. Struktur serat yang baik dan nilai kecernaan yang tinggi bagi ternak ruminansia. Tanaman indigofera dapat menghasilkan daun kering sebanyak 10,2 ton per hektar per panen atau sekitar 51 ton per hektar per tahun. Penggunaan tanaman indigofera sebagai sumber hijauan dan pakan merupakan langkah strategis yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas ternak dan menekan biaya pakan. Indigofera (Zollingeriana) tergolong tanaman yang baik sebagai sumber bahan baku pakan berkualitas meski pemanfaatannya oleh peternak masih terbatas karena informasi mengenai kultur teknik tanaman ini masih sangat terbatas. Indigofera (Zollingeriana) dapat tumbuh pada ketinggian antara 0-2200 mdpl dengan curah hujan antara 600-3000 mm/tahun. Laju pertumbuhan, produksi biomassa dan kandungan nutrisinya lebih besar jika dibandingkan dengan jenis leguminosa lain pada tanah dan iklim yang sama. Indigofera (Zollingeriana) sangat mudah dibudidayakan, karena tanaman ini menghasilkan biji sebagai sumber benih sepanjang tahun tanpa mengenal musim, toleran terhadap cuaca kering, salin, alkali dan tanah masam, disamping itu tanaman ini tahan terhadap pemangkasan sehingga sangat potensial sebagai tanaman pakan berkualitas yang dapat dijadikan solusi terhadap keterbatasan pasokan pakan hijauan ternak, terutama bagi daerah beriklim kering. Teknis Budidaya Indigofera (Zollingeriana): 1. Penyiapan bibit Penyiapan bibit dapat di perbanyakan secara generatif melalui biji dari tanaman yang sudah tua, berumur sekitar 12 bulan dan belum pernah dipanen sebelumnya, buah yang diambil selanjutnya dijemur hingga kering, kemudian diremas untuk dipisahkan dengan bijinya, biji yang telah terpisah selanjutnya dimasukkan dalam wadah lalu tuangkan air didalamnya sampai benih tenggelam, aduk perlahan lalu sisihkan dan buang biji yang mengambang atau mengapung, karena benih yang baik adalah benih yang tidak mengapung, kemudian cuci benih hingga benar-benar bersih lalu tiriskan dan selanjutnya disemaikan. 2. Persemaian Media persemaian alami terdiri dari campuran tanah dan bahan-bahan organik yang memiliki kandungan hara tinggi berupa pupuk kandang atau pupuk kompos, dengan komposisi tanah, pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1. Buat garis lubang pada tanah bedengan dengan kedalaman sekitar 5 cm, kemudian taburkan benih secara merata, lakukan penyiraman untuk menjamin media senantiasa lembab tanpa tergenang, beri naungan pada persemaian dengan paranet dengan intensitas cahaya naungan sekitar 65%. 3. Pemindahan bibit dari pesemaian Setelah bibit berumur 7-10 hari setelah semai, bibit yang sudah tumbuh siap untuk dipindahkan pada polybag ukuran 0,5 kg, kemudian lakukan penyiraman secukupnya. Setelah bibit berumur 3 minggu pindahkan pada polybag yang lebih besar, dan jika bibit sudah mencapai tinggi 40-60 cm bibit sudah siap ditanam pada lahan. 4. Pengolahan lahan dan penanaman Pengolahan tanah dengan cara dicangkul atau dibajak membentuk guludan dan membuat lubang tanam 1×1,5 m dengan jarak populasi tanaman dalam 1 hektar mencapai 13.333 tanaman. Sebelum ditanami, berikan pupuk kandang pada lubang tanam sebanyak 250-300 gram/lubang. Kemudian tanam bibit yang berusia 1 bulan pada lubang tanam tersebut. Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan untuk menjamin ketersediaan air sepanjang masa adaptasi dan pertumbuhan awal indigofera. 5. Perawatan Perawatan pemangkasan awal dilakukan setelah tinggi tanaman sudah mencapai 75-100 cm, dengan maksud untuk meningkatkan pertumbuhan percabangan dan ranting sehingga bisa menghasilkan daun yang lebih banyak. Pemangkasan yang tepat pada area titik tumbuh akan merangsang pertumbuhan cabang yang banyak dan kuat. 6. Pemupukan Pemupukan dilakukan tanaman berumur 1 bulan setelah pemangkasan lakukan menggunakan pupuk cair pada daun pada saat umur tanaman 28, 32, 36, 40 yaitu sebanyak 4 kali dalam satu periode produksi, tujuannya untuk meningkatkan kelebaran, ketebalan dan berat daun. 7. Pemanenan Pemanenan berumur 4 bulan atau 2 bulan setelah pemangkasan awal, panen pertama sudah bisa dilakukan. Pemangkasan dipertahankan dengan ketinggian sekitar 1 meter, pemanenan dilakukan dengan interval 60 hari, adapun bagian yang dipanen adalah bagian daun beserta batangnya. Penyusun :Dede Rohayana (Penyuluh pertanian) Referensi : Berbagai Sumber