Melalui kegiatan penyebaran inovasi pada satu wilayah atau kawasan diharapkan dapat mendorong proses adopsi teknologi bagi pengguna dengan pendekatan learning by doing atau belajar dan menerapkan, yaitu melibatkan petani secara intensif mulai dari perencanaan dan penetapan teknologi serta evaluasi kegiatan dan proses adopsi teknologi yang komprehensif, berorientasi agribisnis dan berkelanjutan. Peningkatan kemampuan petani harus juga mengikuti paradigma berkembang saat ini, yaitu berorientasi pada nilai tambah yang sesuai dengan pasar dan berdaya saing. Dalam mewujudkan paradigma tersebut perlu didukung dengan peningkatan diversifikasi usaha dan pelestarian sumberdaya lahan sesuai kondisi wilayah melalui peningkatan sumberdaya pertanian secara berdampingan, berupa pemanfaatan berbagai produk samping atau limbah tanaman. Hasil berbagai kekayaan sumberdaya pertanian berpotensi dimanfaatkan, seperti halnya limbah kulit kopi yang dihasilkan dari proses pemisahan kulit dengan biji kopi (proses pulping) tersedia dalam bentuk biomassa hampir mencapai 50% dari hasil buah kopi. Produk limbah kulit kopi yang melimpah, menjadikan kulit kopi mempunyai potensi sebagai salah satu sumber pakan ternak. Sehinga diperlukan berbagai hasil kajian limbah kulit kopi dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi potong, agar pemanfaatannya menjadi optimal. Hal ini akan berdampak pada potensi pengembangan peternakan sapi potong, melalui dukungan potensi sumber bahan pakan berlimpah. Tantangannya adalah bagaimana produksi limbah kulit kopi tersebut dapat dimanfaatkan untuk; pemenuhan kebutuhan asupan pakan dan kebutuhan nutrisi ternak sapi; sekaligus juga untuk mengatasi nilai ekonomis dan efisiensi waktu penyediaan pakan hijauan; serta pengoptimalan pemanfaatan limbah kulit kopi yang belum dimanfaatkan dan sangat berlimpah di daerah sentra kopi. Kulit kopi memiliki nutrisi yang relatif tinggi sebagai asupan pakan ternak ruminansia; meliputi energi metabolisme, protein kasar, serat kasar, fospor, dan kaliu. Oleh karena itu bagaimana upaya petani dan peternak, untuk memberdayakan pemanfaatan limbah kulit kopi ini sebagai bahan pakan alternatif tambahan pakan atau konsentrat bagi ternak sapi potong. Sehingga menarik dan berpotensi untuk dioptimalkan, terutama untuk pakan ternak yang dari berbagai hasil penelitian tidak memberikan dampak negatif pada ternak. Apalagi Provinsi Bengkulu merupakan salah satu daerah sentra pengembangan tanaman kopi dan peternakan sapi potong, karena kopi dan ternak sapi merupakan komoditas unggulan daerah dan banyak diusahakan masyarakat. Tercatat pada Tahun 2018 luas lahan tanaman kopi mencapai 82.242 ha, dengan produksi mencapai 55.045 ton/tahun dan populasi ternak sapi mencapai 157.923 ekor (BPS Bengkulu, 2019). Sehingga berpotensi untuk memanfaatkan limbah kulit kopi sebagai salah satu bahan pakan pengganti kebutuhan pakan ternak sapi potong. Maka limbah kulit kopi yang berlimpah, mempunyai potensi sebagai salah satu sumber pakan ternak yang utama. Dan hal ini akan berdampak, pada potensi pengembangan peternakan sapi potong dengan dukungan sumber pakan memanfaatkan limbah pertanian yang berlimpah. Dengan penerapan tekonlogi fermentasi pada limbah kulit kopi, maka kualitas nutrisi kulit kopi dihasilkan menjadi lebih baik, sehingga pemanfaatannya untuk pakan ternak juga akan lebih baik dan efisiensi. Teknologi fermentasi adalah proses pemecahan senyawa organik kompleks menjadi senyawa sederhana, atau proses perombakan dari struktur keras secara fisik, kimia dan biologis dengan melibatkan mikroorganisme yang pada akhirnya mendorong daya cerna ternak menjadi lebih efisien terhadap asupan pakan berbahan kulit kopi. Melalui teknologi fermentasi nilai nutrisi kulit kopi dapat di perbaiki, terutama ketersediaan protein kasarnya dapat ditingkatkan dari 9,94% menjadi 17,81% dan penurunan serat kasar dari 18,74% menjadi 13,05% (Budiari, 2009). Berdasarkan berbagai hasil kajian dan diseminasi yang dilakukan BPTP Balitbangtan Bengkulu, pemanfaatan limbah kulit kopi untuk pakan ternak berpotensi untuk diterapkan dan dikembangkan masyarakat peternak sapi. Seperti halnya kajian: 1) pemberian pakan konsentrat hasil fermentasi bahan kulit kopi 2,4 kg dicampur dedak padi 1,6 kg perhari pada indukan sapi Bali bunting 8 bulan, menghasilkan bobot lahir pedet sapi Bali mencapai 18 kg/ekor; 2) diseminasi demplot percontohan pemberian pakan tambahan pada ternak sapi potong berbahan baku utama kulit kopi setelah difermentasi sebanyak 2 - 4 kg/ekor/hari sesuai kebutuhan yang diaplikasikan pada sapi Bali dan sapi Simenthal, memperlihatkan PBBH sebesar 0,604 kg/ekor/hr (sapi Bali) dan 0,792 kg/ekor/hr (sapi Simenthal); dan 3) hasil analisis proksimat (Lab. Nutrisi Ternak UNIB, 2019) pakan tambahan sapi potong difermentasi, berasal dari campuran kulit kopi dengan solid serta kulit kopi dengan dedak padi memperlihatkan kandungan PK (13,92% dan 13,46%); SK (16,37% dan 18,71%); BK (97,99% dan 98,76%). Kondisi ini telah menggambarkan, bahwa pemberian pakan tambahan memanfaatkan limbah kulit kopi tidak memberikan pengaruh negatif. Sehingga pemanfatan limbah kulit kopi ini setelah melalui proses fermentasi, sangat berpotensi diterapkan dan dikembangkan untuk diberikan sebagai pakan tambahan atau penganti hijauan pada ternak sapi (Ruswendi).