Loading...

Potensi Pengembangan Produk Dari Daging Buah Kelapa

Potensi Pengembangan Produk Dari Daging Buah Kelapa
Daging buah merupakan lapisan tebal yang berwarna putih. Pada bagian terluar daging buah terdapat lapisan tipis berwarna coklat (testa). Kandungan gizi daging buah kelapa bervariasi sesuai dengan tingkat kematangan buah. Daging buah tua merupakan bahan sumber minyak nabati (kandungan minyak 35%). Komposisi kimia daging buah kelapa setiap 100 gram Komposisi Buah Muda (6-8 bulan) Setengah tua (9-10 bulan) Tua (11-13 bulan) Kalori (kal) 68,0 180,0 359,0 Protein (g) 1,0 4,0 3,4 Lemak (g) 0,9 13,0 34,7 Karbohidrat (g) 14,0 10,0 14,0 Kalsium (mg) 17,0 8,0 21,0 Fosfor (mg) 30,0 35,0 21,0 Besi (mg) 1,0 1,3 2,0 Vitamin A (Sl) 0,0 10,0 0,0 Vitamin B-1 (mg) 0,0 0,5 0,1 Vitamin C (mg) 4,0 4,0 2,0 Air (g) 83,3 70,0 46,9 Daging buah adalah komponen kelapa yang paling luas penggunaannya, baik untuk produk pangan maupun non pangan. Daging buah kelapa dapat diolah menjadi kopra dengan cara mengeringkan daging buah kelapa segar baik dengan dijemur maupun panas buatan atau kombinasinya. Selain dibuat kopra, daging buah kelapa juga dapat diproses antara lain menjadi kelapa parut kering dan santan kelapa. Daging buah kelapa segar atau kopra dapat diproses menjadi minyak kelapa, yang selanjutnya dari produk ini dapat diturunkan beberapa produk hilir. Umur panen buah kelapa yang paling baik untuk produk-produk tersebut yaitu 11-13 bulan. Kelapa dalam sangat sesuai digunakan sebagai bahan baku pengolahan kelapa parut kering karena menghasilkan karakteristik mutu produk yang berwarna putih kecoklatan, dan agak menggumpal karena kadar galaktomanan dan posfolipid daging kelapa yang relative tinggi. Kelapa hibrida memungkinkan digunakan sebagai bahan baku pengolahan kelapa parut kering jika dalam pengolahannya dicampurkan dengan kelapa dalam perbandingan 1:4 (satu bagian kelapa hibrida dan empat bagian kelapa dalam). Untuk pembuatan produk santan dengan emulsi yang cukup stabil, dapat digunakan baik kelapa genjah, kelapa dalam, dan kelapa hibrida pada umur panen 11 bulan. Namun demikian, kelapa genjah kurang disukai konsumen terutama oleh industri kelapa karena berukuran kecil sehingga biaya pengupasan dan pencungkilan relatif mahal. Perkembangan teknologi dan preferensi konsumen yang mengakomodasi isu lingkungan dan kesehatan, telah mendorong industri kelapa berkembang makin beragam. Sebagian besar minyak kelapa dibutuhkan dalam industri oleokimia terutama untuk menghasilkan asam lemak, metil ester, gliserol, dan fatty alcohol. Minyak kelapa, sekalipun jumlahnya kecil dalam perdagangan minyak nabati, minyak ini memiliki pasar yang spesifik, terutama karena kandungan asam laurat dan rantai menengah dari trigliserida (medium chain trygliceride), serta diidentifikasi tanpa pesaing kecuali minyak inti sawit (Palm Kernel Oil). Karakter tersebut memiliki banyak penggunaan pada industry kosmetika, nutrisi, dan farmasi. Sebagai anti virus, anti bakteri, dan anti protozoa, monolaurin yang dapat dihasilkan dari minyak kelapa merupakan komponen yang berkhasiat untuk menanggulangi serangan virus HIV/Aids. Selain itu minyak kelapa murni tumbuh sebagai bahan (ingredient) yang berkhasiat untuk kesehatan dan nutrisi, serta memiliki spectrum pemanfaatan yang luas di bidang farmasi, gizi, dan kosmetika, serta tepung kelapa diperkenalkan sebagai sumber terbaik diet makanan sehat berserat tinggi. Sumber : Agro Inovasi