Sampai saat ini bulu ayam sebagai hasil sampingan dari pemotongan ayam belum banyak dimanfaatkan, bahkan dibuang di sekitar tempat pemotongan ayam sehingga mengakibatkan gangguan pencemaran di lingkungan sekitarnya. Padahal potensi bulu ayam sebagai salah satu komponen bahan pakan sangat dimungkinkan, mengingat perkembangan industri perunggasan di Indonesia berkembang pesat. Dari hasil penelitian dilaporkan bahwa dari hasil pemotongan setiap ekor ternak unggas akan diperoleh bulu sebanyak + 6 % dari bobot hidup ayam potong. Melihat potensi populasi unggas di Indonesia menurut statistik peternakan 2011, populasi ayam pedaging sebanyak 1042.000 ekor, ayam petelur 1.103.000 ekor dan ayam buras 275.000 ekor, maka diperkirakan potensi bulu ayam yang dihasilkan sebesar 83.000 ton setiap tahun. Dalam rangka mengembangkan bahan pakan lokal, mengingat bulu ayam mempunyai kandungan protein sangat tinggi ( 80%) sehingga berpeluang untuk bisa diolah dan digunakan sebagai bahan pakan Tepung bulu yang merupakan produk olahan bulu ayam termasuk salah satu bahan pakan sumber protein, yang selama ini masih diimpor setiap tahunnya seperti bahan pakan lainnya. Dalam tahun 2011, dilaporkan sebanyak 51.000 ton tepung bulu ayam diimpor dari berbagai negara. Diperkirakan dengan peningkatan produksi ayam, maka potensi tepung bulu juga akan terus meningkat setiap tahunnya . Berdasarkan laporan tahun 2012, produksi ayam pedaging (broiler) diperkirakan mencapai 1,8 miliar ekor sehingga potensi produk olahan tepung bulu ini bisa lebih 110.000 ton. Kualitas tepung bulu Tepung bulu mengandung protein cukup tinggi yaitu sebesar 75% - 80% dengan nilai kecernaan protein 32 % - 75 %. Bila proses pembuatan baik ,maka kecernaan protein kasarnya dapat maksimum (75 %), lemak 5%, serat kasar 4%. Dari segi fisik, warna tepung bulu dipengaruhi bahan bakunya. Jika bahan baku berasal dari bulu yang warnanya putih maka tepung bulu berwarna coklat muda cerah. Tetapi jika dihasilkan dari warna bulu yang berwarna gelap maka diperolah tepung bulu yang berwarna coklat gelap. Tepung bulu yang baik, segar baunya, tidak busuk atau gosong. Bentuk tepung bulu berubah serbuk sehingga mudah dicampur dengan bahan baku lain untuk menghasilkan ransum. Tepung bulu mengandung energi yang lebih tinggi dibanding dengan Meat Bone Meal atau tepung ikan lokal. Oleh karena itu tepung bulu bisa merupakan sumber energi untuk unggas. Teknologi pengolahan tepung bulu Pengolahan tepung bulu ayam dapat dilakukan dengan empat cara yaitu perlakuan fisik dengan tekanan dan temperatur suhu tinggi, perlakuan kimia dengan asam dan basa (NaOH, HCL), perlakuan enzim dan fermentasi dengan mikroorganisme. Dalam pengolahan tepung bulu perlu dilakukan teknik hidrolisis pada bulu ayam karena bulu ayam yang belum diolah tidak bisa dicerna ternak, mengingat protein bulu mengandung keratin yang ikatan asam aminonya sangat kuat sehingga enzim pencernaan tidak mampu mencerna. Bulu yang baru dikumpulkan biasanya mengandung kadar air yang tinggi (70%).Oleh karena itu sebelum diolah bulu ayamperlu dilakukan pengurangan kadar air dengan alat dewatering atau diperas sehingga mempunyai kadar air sekitar 50 %. Pengolahan bulu dengan pemanasan tekanan tinggi/ suhu tinggi, bulu yang basah dicincang atau dipotong kemudian dihidrolisis dengan pemanasan suhu tinggi atau menggunakan pemanas uap ( steam) bertekanan tinggi untuk menghasilkan tepung bulu terhirolisa. Selanjutnya bulu dimasak kemudian dikeringkan dengan disc drying menggunakan uap atau flash drying menggunakan api langsung dan digiling, kemudian dimasukkan dalam karung plastik untuk dijual. Untuk memperbaiki proses hidrolisis maka sebelum dipanaskan, beberapa bahan kimia ditambahkan yaitu kaustik soda ( NaOH) 0,4 % dari total berat bulu, agar dicapai suasana basa atau penambahan Natrium Sulfit atau Dimetil Sulfoksida untuk membantu memecahkan ikat disulfide dalam bulu. Selain itu bisa juga ditambahkan 5 % air kapur sirih untuk mengurangi bau dan meningkatkan pH menjadi 8,5 - 9,0. Pengolahan bulu juga bisa dilakukan dengan penambahan enzim keratinase atau protease sebelum dilakukan pemanasan agar keratinase bisa menghidrolisis ikatan asam amino terutama ikatan disulfide sehingga dapat dicerna ternak. Jika ingin diperoleh tepung bulu yang kering dengan kadar air 10 % dengan kecernaan yang maksimal maka bubur bulu dimasak dengan uap/ stem untuk menghentikan kerja enzim dan dilanjutkan dengan pengeringan. Penggunaan dalam pakan Tepung bulu tidak disukai (kurang palatable) oleh ternak, sehingga penggunaannya dalam ransum harus dibatasi. Pemakaian yang berlebihan akan mengurangi konsumsi ransum , mengkibatkan kandungan asam amino yang tidak berubah Pemakaian dalam ransum unggas dan babi disarankan maksimum 5 - 7 %. Untuk broiler (ayam potong ) disarankan < 5%, untuk ayam petelur 7%. Di lapangan , pabrik pakan hanya menggunakan tepung bulu sekitar 1- 2 % saja dalam ransum pakan komplit. Untuk ternak ruminansia, tepung bisa digunakan sebagai sumber nitrogen dan juga energi. Apabila dicampur dengan tetes tebu bisa dipakai sebagai pakan supplemen cair dengan kandungan protein mencapai > 70%. Tepung bulu bisa diberikan kepada ternak ruminansia sebanyak 6 - 8 % didalam ransum. Prakiraan ekonomi tepung bulu untuk pakan Untuk menjalankan usaha tepung bulu diperlukan biaya investasi antara lain ketersediaan mesin pemasak dengan tekanan tinggi, mesin giling,serta biaya operasional seperti biaya bahan baku, pengangkutan dan biaya listrik dan lain-lain. Keuntungan usaha tepung bulu akan ditentukan oleh harga jual produk akhirnya. Harga produk akan sangat ditentukan kualitas tepung bulu yang dihasilkan dan juga oleh persaingan dari produk sejenis baik dari lokal maupun impor. Harga tepung bulu ayam impor saat ini sebesar Rp. 8000 per kg loco gudang pemasok. Harga patokan terendah dan tertinggi untuk suatu bahan pakan akan ditentukanoleh kualitas bahan pakan dan harga ransum. Mengingat Limbah bulu ayam merupakan salah satu bahan pakan ternak alternatif yang mempunyai potensi untuk dikembangkan dalam mengurangi impor, maka Informasi ini diharapkan dapat bermanfaat untuk mengembangkan usaha pengolahan tepung bulu sehingga secara bertahap dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan pakan impor . + Asia ( Penyuluh BPPSDMP) Sumber Informasi :Direktorat Pakan Ternak. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2012. Buku Pengolahan Bahan Pakan . Potensi Tepung Bulu untuk Bahan Pakan.