Secara umum, teknik budi daya produksi benih semangka sama seperti teknik budi daya produksi buahnya. Bedanya, di dalam produksi benih semangka, diusahakan agar buah yang dihasilkan mempunyai biji yang bernas (biji mampu tumbuh normal) dan berkualitas tinggi sebagai benih. Benih yang dihasilkan harus dapat memberi jaminan bahwa benih itu: - dipercaya dan dibutuhkan serta akan dibeli oleh petani, - memberi keuntungan bagi penangkar benih. Rencana pembenihan sebaiknya disusun rapi dan pasti. Varietas yang akan diproduksi, biaya, tenaga, serta alat dan bahan (terutama menyangkut areal dan benih pokok) harus telah tersedia untuk memperoleh benih sebar yang ditargetkan. Penetapan jumlah benih pokok yang dibutuhkan sangat diperlukan agar perencanaan perbanyakannya sejak benih penjenis dan benih dasar dapat diatur oleh pihak-pihak bersangkutan atau oleh penangkar benih itu sendiri. Beberapa prinsip pembenihan berikut ini perlu diperhatikan oleh para penangkar benih. 1. Lokasi pembenihan hams bebas dari penyakit berbahaya, misalnya penyakit layu fusarium, busuk buah phytophthora, bercak bakteri pseudomonas, penyakit kudis, dan virus mosaik. 2. Musim tanam diusahakan tepat agar diperoleh benih bemas berkualitas tinggi. Selama masa pemasakan buah, musim panen, maupun pada saat pemrosesan biji tidak boleh ada hujan dan kelembapan udara harus rendah (cuaca harus panas dan kering). Apabila kelembapan atau suhu terlalu tinggi, maka jumlah biji yang dihasilkan akan menurun. Apabila suasana mendung dan matahari bersinar kurang terik, maka pertumbuhan bunga jantan maupun betina mengalami kemunduran, kesuburan bunga pun akan menurun dan mudah gugur. Perkembangan dan kemasakan buah yang terbentuk menjadi kurang sempuma. 3. Pertumbuhan tanaman harus dapat diatur ke arah pertumbuhan generatif (produksi biji) saja. Pada saat ini, daging dan besar buah dapat diabaikan. Meskipun demikian perlu diperhatikan bahwa buah yang terlalu kecil akan menghasilkan biji yang lemah dan hampa. Untuk tujuan tersebut, pemakaian pupuk nitrogen (N) perlu dikurangi, sedangkan pupuk fosfor (P) dan kalium (K) diberikan dalam jumlah lebih banyak. 4. Isolasi tanaman harus dapat dilakukan dengan cermat agar pencemaran (kontaminasi) terhadap benih semangka dapat dihindari sepenuhnya. Tanaman semangka merupakan tanaman yang menyerbuk silang (penyerbukannya dilakukan oleh lebah). Isolasi tanaman juga dapat mencegah penularan penyakit. Ada tiga cara yang biasa dilakukan untuk isolasi tanaman, yaitu isolasi bunga, isolasi jarak, dan isolasi waktu. a. Isolasi bunga: pembungkusan setiap bunga dengan kantong kertas minyak. Cara ini digunakan untuk menghasilkan benih penjenis dan benih pohon-pohon induk semangka hibrida agar kemurnianjenisnya terjamin penuh. b. Isolasi jarak: pengaturan jarak antartanaman. Standar umum isolasi jarak yang biasa digunakan untuk tanaman semangka adalah 1.000 m. Beberapa negara penghasil benih masing-masing membuat standar sendiri. Standar ini masih bisa berubah, tergantung pada adanya pembatas atau penghalang lain {barrier), seperti adanya gunung, hutan, sungai, atau padang pasir di antara pertanaman tersebut. c. Isolasi waktu: pengaturan waktu tanam. Bentuk isolasi ini agak sulit dilakukan pada tanaman semangka sebab waktu pembungaan dan mekamya bunga sangat terbatas. 5. Penyeleksian atau pembuangan (roguing) tanaman yang menyimpang (off types). Hal ini perlu dilakukan karena turunan dari tanaman yang menyerbuk silang tidak akan pernah seragam. Atau, kemungkinan ada biji dari varietas lain yang ikut tumbuh. Dengan demikian, penyeleksian ini bertujuan untuk mempertahankan kemurnian benih. Sumber : Mochd Baga Kalie, Bertanam Semangka, 1993, Depok