Loading...

PROBLEMATIKA PENERAPAN JAJAR LEGOWO

PROBLEMATIKA PENERAPAN JAJAR LEGOWO
Di kalangan petani, siapa yang tidak pernah mendengar istilah Jajar Legowo? Semua petani pasti sudah pernah mendengar istilah tersebut, bahkan setiap awal musim tanam, para penyuluh tidak pernah bosan-bosannya untuk menyuluhkan materi ini. Sistem tanam jajar legowo, yang diperkenalkan sejak tahun 1996, adalah pola bertanam yang berselang-seling antara dua atau lebih (biasanya dua atau empat) baris tanaman padi dan satu baris kosong. Istilah Legowo di ambil dari bahasa jawa, yaitu berasal dari kata "lego" berarti luas dan "dowo" berarti memanjang. Bila terdapat dua baris tanam per unit legowo maka disebut legowo 2:1, sementara jika empat baris tanam per unit legowo disebut legowo 4:1, dan seterusnya. Pada awalnya tanam jajar legowo umum diterapkan untuk daerah yang banyak serangan hama dan penyakit, atau kemungkinan terjadinya keracunan besi. Pada baris kosong, di antara unit legowo, dapat dibuat parit dangkal. Parit dapat berfungsi untuk mengumpulkan keong mas, menekan tingkat keracunan besi pada tanaman padi atau untuk pemeliharaan ikan kecil (muda). Sistem Jajar Legowo diklaim memliki banyak manfaat, di antaranya adalah:1. Populasi/rumpun (anakan) tanaman akan bertambah sekitar 30%.2. Seluruh barisan padi seolah-olah berada di pinggir, maka penyinaran matahari optimal.3. Sirkulasi udara akan lebih lancar dan optimal, sehingga mengurangi resiko penyakit akibat jamur dan bakteri yang menghedaki kelembaban tinggi seperti Kresek (Hawar Daun Bakteri).4. Mudah dalam pemeliharaan khususnya pemupukan, penyiangan, dan perawatan.5. Menekan resiko serangan tikus, karena tikus tidak suka kondisi terang.6. Meningkatkan produktivitas 10 - 15%. Meskipun sistem tanam jajar legowo terbukti mampu meningkatkan jumlah anakan hingga berkisar 30% persen, namun faktanya di lapangan sistem tanam seperti ini belum bisa dimanfaatkan dengan baik oleh petani. Setiap program pemerintah yang diberikan selama ini, mengharuskan petani penerimanya menerapkan sistem tanam jajar legowo sebagai satu kesatuan paket teknologi PTT (Pengeloaan Tanaman Terpadu). Ironisnya, setelah program berakhir, petani tidak jarang yang kembali pada kebiasaan semula yaitu menanam dengan sistem tanam acak atau di beberapa daerah dikenal dengan sebutan 'labrakan", atau ada juga yang menyebut 'tabur bintang". Petani menilai bahwa sistem jajar legowo cukup sulit, memakan waktu lebih lama dan membutuhkan biaya lebih besar. Sedangkan produktivitas yang dihasilkan, tidak selalu sesuai dengan yang diharapkan seperti yang diklaimkan sebelumnya. Itulah sebabnya mengapa metode tanam ini sulit diterima petani. Tetapi adakalanya, kendala umum yang dihadapi tentang penerapan jajar legowo ini, sebenarnya pola pikir/ mindset petani yang kurang memahami prinsip jajar legowo. Lebih jelasnya, berikut kendala-kendala yang menyebabkan metode jajar legowo sulit diterapkan, disesuaikan dengan cara pandang petani:1. Mahalnya biaya tanam jika dibanding metode konvensionalSebagai gambaran, di Nganjuk, biaya tanam dengan menggunakan metode konvensional mencapai Rp. 850.000 per hektar, ditambah dengan biaya makan pasti per hektar mencapai Rp. 1.000.000. Sementara jika dengan metode jajar legowo, biaya tanam mencapai Rp. 1.400.000,- per hektar. Padahal, bisa jadi selisih biaya yang dikeluarkan lebih kecil daripada hasil panen yang didapat. 2. Hasil panen yang belum pastiDari segi hitungan, baik jika menghitung populasi tanam dan pola tanam yang memungkinkan semua tanaman mendapat pasokan udara dan sinar matahari yang cukup, maka metode ini diyakini bisa meningkatkan hasil panen padi hingga 15 persen. hanya saja dari beberapa kali demplot, metode jajar legowo di beberapa daerah ternyata tidak bisa memperoleh hasil sesuai yang diharapkan. Kalaupun ada peningkatan, peningkatannya tidak signifikan dibanding dengan metode tanam biasa. Kalau mau ditelusuri kembali, produktivitas hasil panen disebabkan banyak faktor. Mulai dari cuaca, serangan opt, pengairan, dan lain sebagainya. Bisa jadi, penerapan jajar legowo tidak memberikan hasil yang berbeda karena disebabkan faktor lain, misalnya serangan opt yang lebih intens dibandingkan dengan sistem tanam sebelumnya.3. Sistem tanam jajar legowo 2 : 1 akan mengurangi jumlah rumpun, padahal sebaliknya. Dengan jarak yang lebih lebar, akan meningkatkan pertumbuhan anakan produktif. Semakin banyak anakan produktif, semakin tinggi pula produktivitas hasilnya. 4. Jarak terlalu rapat antar tanaman dapat menurunkan anakan. Hal ini terjadi karena petani sayang akan baris kosong pada jajar legowo, sehingga baris tanaman yang sudah ada disisipi rumpun bibit lagi, sehingga jarak tanaman dalam satu baris akan sangat rapat sekali. Hal ini bisa memicu serangan opt karena kelembaban udara yang tinggi, dan juga akan menyebabkan anakan yang tumbuh kurang optimal.5. Tenaga tanam yang belum berpengalaman, hal ini terjadi karena belum terbiasanya para tenaga tanam. Solusinya dapat dilakukan dengan cara menggunakan caplak khusus legowo, sehingga mempermudah tenaga tanam.6. Musim tanam mempengaruhi cara tanam. Jika musim hujan, jajar legowo diterapkan dengan sistem 2:1 atau 4:1, tetapi jika musim kemarau, sistem tanam yang diterapkan bisa 9:1 atau lebih, ada juga yang hanya dilarik bahkan ada yang kembali ke sistem awal yaitu acak. Penerapan suatu inovasi yang telah teruji keberhasilnnay tidak dapat langsung bisa diterima oleh petani dan memerlukan waktu bahkan mungkin sangat lama. Oleh karena itu perlu dilakukan pendampingan secara terus-menerus serta evaluasi dalam penerapan inovasi agar jika terjadi kekurang-sesuaian dalam penerapannya bisa segera dibenarkan sehingga inovasi dapat diterapkan dengan lebih mudah, lebih murah dan lebih memberikan manfaat daripada teknologi sebelumnya Sumber: https://debbyeka.blogspot.co.idhttp://www.medanbisnisdaily.comhttp://tlogotani.blogspot.co.id *) Penulis adalah Koordinator Penyuluh Pertanian di UPTD Bangsalsari Dinas TPHP Kab. Jember Email: aboknanda@yahoo.co.id