Loading...

PRODUKSI BENIH DURIAN (Durio spp.) SECARA SAMBUNG DINI

PRODUKSI BENIH DURIAN (Durio spp.) SECARA SAMBUNG DINI
Justifikasi : Membantu tercapainya produksi benih durian berkualitas Produksi benih dalam jumlah yang banyak dengan waktu yang relatif singkat Mampu memenuhi keinginan produsen dan melindungi kepentingan konsumen secara konsisten di Indonesia. Mendukung ketersediaan buah Durian yang berkualitas di pasaran dalam negeri dan internasional. Tahapan Produksi: 1. Penyiapan Batang Bawah 2. Penyediaan entres 3. Penyambungan 4. Pemeliharaan 1. Penyiapan Batang Bawah: Berasal dari biji yang buahnya telah masak fisiologis dan sehat secara visual Biji dipisahkan dari sisa daging buah yang masih menempel, dicuci sampai bersih, direndam di dalam larutan fungisida sesuai dengan rekomendasi selama minimum 5 (lima) menit. Seleksi dilakukan untuk mendapatkan biji utuh. Lokasi penyiapan batang bawah harus mendapatkan naungan dan drainase yang baik. Biji ditanam pada media tanam dalam polybag (untuk kelas benih BD, BP dan BR) dan atau pada bedengan (hanya untuk kelas BR). Penyiraman dilakukan dengan memperhatikan kelembapan media tanam. Pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dilakukan dengan mengikuti prinsip pengendalian hama terpadu (PHT). Kriteria batang bawah siap disambung adalah sehat, pertumbuhan normal dan umur maksimum 2 (dua) bulan setelah tanam 2. Penyediaan Enteres : Berasal dari varietas yang sudah dilepas atau terdaftar untuk peredaran; Berasal dari PIT, DPIT, BF, dan BPMT, sehat secara visual, dari cabang yang produktif, diameter setara dengan batang bawah, mata tunas sedikit menonjol (Gambar A.1) dan dalam kondisi dorman; Pengambilan entres dilakukan pada pagi hari atau sore hari dengan menggunakan alat potong yang tajam dan bersih maksimum 4 (empat) mata tunas. Daun entres dibuang; Entres dibungkus dengan bahan yang menyerap air, dilembapkan, dikemas dalam wadah plastik, diikat dan diberi label identitas pohon induk. 3. Penyambungan : Untuk penyambungan pada epikotil, batang bawah durian dipotong maksimum 20 cm dari leher akar dan dibelah menjadi 2 (dua) bagian yang sama sedalam 1 cm sampai 2 cm. Untuk penyambungan pada hipokotil dibelah menjadi 2 (dua) bagian pada ketinggian maksimum 10 cm.; Sayat pangkal entres membentuk mata baji; Sayatan entres disisipkan ke belahan batang bawah dan dilakukan pengikatan bidang sambung dengan bahan pengikat; Dilakukan penyungkupan pada hasil sambungan dengan plastik transparan; Plastik sungkup dibuka setelah mata tunas pecah; Pengikat sambungan dibuka setelah pertautan antara batang bawah dengan batang atas menyatu secara sempurna; Proses produksi dilakukan oleh tenaga yang kompeten. 4. Pemeliharaan Penyiraman dilakukan dengan memperhatikan kelembapan media tanam. Pembuangan tunas yang berasal dari batang bawah (untuk penyambungan epikotil) dan tunas air dilakukan secara berkala. Pemindahan dilakukan untuk hasil sambungan yang ditanam di bedengan atau polybag ke wadah benih siap distribusi. Pengendalian gulma dilakukan dengan mencabut gulma secara manual dan berkala. Pemupukan dilakukan secara berkala menggunakan pupuk yang minimal mengandung NPK dengan frekuensi dan dosis anjuran sesuai pertumbuhan tanaman. Pengendalian OPT dilakukan dengan mengikuti prinsip PHT. Sumber : Yunimar, dkk / Tim Konseptor dari BPSI Tanaman Buah Tropika Diseminator/Penyuluh Pertanian, Dr.Ir. M.Saleh Mokhtar, M.P BSIP NTB