Stunting yaitu kondisi gangguan pertumbuhan pada anak sehingga memiliki ukuran tinggi badan lebih rendah (kerdil) dari standar usianya. Hal tersebut merupakan akibat kekurangan gizi yang kronis terutama pada 1.000 hari pertama hingga usia batita (usia di bawah tiga tahun). Badan Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Indonesia pada di urutan kelima jumlah anak dengan kondisi stunting di dunia. anak-anak stunted tidak hanya hanya terganggu pertumbuhan fisiknya saja, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya. Salah satu penyebab stunting adalah kurangnya asupan zinc (Zn) ke dalam tubuh, terutama bagi ibu hamil dan anak dalam masa pertumbuhan (balita). Kementerian Pertanian dinilai memiliki peran penting karena upaya penanggulangan kekurangan gizi Zn dapat dilakukan dengan suplementasi, fortifikasi (pengayaan pangan), dan biofortifikasi (meningkatkan kandungan gizi pangan). Saat ini upaya pencegahan stunting menjadi salah satu fokus pemerintah termasuk Kementerian Pertanian. Pada tahun 2018 yang lalu, Kementerian Pertanian melepas varietas padi yang diberi nama Inpari IR Nutri Zinc. Varietas Inpari IR Nutri Zinc memiliki kandungan Zn rata-rata sebesar 34,51 ppm atau sekitar 8 ppm lebih tinggi daripada umumnya kandungan Zn varietas yang umum dibudidayakan petani, seperti misalnya Ciherang (24,06 ppm). BPTP Bengkulu dalam rangka mendukungn penyebaran varietas Inpari IR Nutri Zinc, pada kegiatan Produksi Benih Sebar, melakukan penanaman padi Varietas Inpari IR Nutri Zinc yang bekerjasama dengan petani penangkar guna mendapatkan benih sebar yang selanjutnya akan disebarkan pada anggota kelompok tani lainnya kemudian. Banyaknya beredar varietas Inpari IR Nutri Zinc di Indonesia menyebabkan banyak pula pengkajian yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana pertumbuhannya di lapangan. Salah satu pengkajian untuk mengetahui pertumbuhan dan produksi padi Varietas Inpari IR Nutri Zinc, dilakukan oleh Pebriandi dkk (2021) yang membandingkan pertumbuhan dan produksi padi varietas Inpari IR Nutri Zinc dengan Inpari 32 HDB dan Bioni 63 Ciherang Agritan. Penanaman yang dilakukan di lahan sawah tadah hujan Desa Bukit Raya, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Karatanegara dengan sistem tanam jajar legowo 6:1, produktivitas padi Varietas Inpari IR Nutri Zinc menunjukkan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan Inpari 32 HDB dan Bioni 63 Ciherang Agritan dengan masing-masing produksi: 6,9 : 6,4 : 5,7 t/ha. Produksi yang lebih tinggi ini didukung oleh komponen hasil yang lebih tinggi pada: a) jumlah anakan (batang) yang 20,3 : 15,7 : 24,2; b) panjang malai (cm) yaitu: 27,0 : 23,1 : 24,2; c) jumlah gabah isi (bulir) yang: 137,9 : 130,9 : 122,8. Produktivitas yang relatif tinggi dibandingkan dengan varietas lainnya serta keunggulan khusus dari kandungan zinc yang dimiliki, memungkinkan petani berminat untuk menanam padi varietas Inpari IR Nutri Zinc (Ahmad Damiri). Sumber: Asep Pebriandi, Sulhan dan Setyawan. 2021. Keragaan Varietas Unggul Baru Padi Khusus Inpari IR Nutri Zinc di Kutai Kartanagera Provinsi Kalimantan Timur. Jurnal Daun. 8: (2) hal 74 – 81.