Loading...

PRODUKTIVITAS JAGUNG KOMPOSIT DIBANDINGKAN DENGAN JAGUNG HIBRIDA

PRODUKTIVITAS JAGUNG KOMPOSIT DIBANDINGKAN DENGAN JAGUNG HIBRIDA
Jagung merupakan sumber utama karbohidrat yang sangat penting setelah padi dan gandum, digunakan sebagai bahan pangan pokok, pakan, bioetanol, dan bahan baku industri, sehingga jagung merupakan salah satu komoditas strategis dalam pembangunan pertanian dan perekonomian Indonesia. Beberapa tahun kebelakang, rata-rata produktivitas jagung nasional baru mencapai sekitar 3,4 ton/ha padahal hasil pengkajian ada yang mencapai 10,0 ton/ha, ini disebabkan masih tingginya kesenjangan aplikasi teknologi bercocok tanam jagung petani dengan hasil-hasil Penelitian. Saat ini paket-paket teknologi seperti : Waktu dan Pola tanam, Penyiapan lahan, Cara Tanam, Pemupukan (Waktu dan Cara pemberian pupuk), Sistem pengairan yang baik, Pengendalian gulma, Pengendalian Hama dan Penyakit, Varietas komposit dan hibrida terbaru, serta Cara panen yang tepat telah banyak dirumuskan dari hasil-hasil Penelitian. Kenyataan di lapangan para petani masih banyak menemui kendala dalam mengaplikannya, baik berkait terbatasnya modal, kelangsungan/ketersediaan bibit, mahalnya harga pupuk, Iklim yang tidak menentu dan yang lain. Terkait dengan varietas, Strategi untuk mengatasi masalah rendahnya produksi jagung, yang dianjurkan oleh pemerintah kepada petani agar menggunakan benih jagung yang berasal dari varietas unggul (improved varieties) dalam kegiatan usaha taninya, baik benih dari varietas jagung hibrida maupun varietas jagung komposit. Varietas jagung komposit mudah berkembang dari satu tempat ke tempat lain karena perbanyakan benihnya tidak terlalu susah. Sasaran pengembangan jagung varietas bersari bebas meliputi lahan tegalan, sawah tadah hujan, sawah irigasi, dan lahan bukaan baru. Karakter lain yang merupakan kelebihan dari varietas-varietas unggul yang telah dilepas adalah kesesuaiannya dengan lingkungan (tanah dan iklim) setempat, misalnya tersedia varietas toleran kekeringan, toleran tanah masam, dan sesuai dengan preperensi petani terhadap kararkter lainnya seperti umur dan warna biji. Jagung komposit, benihnya dapat diambil dari pertanaman sebelumnya, atau dapat digunakan secara terus-menerus untuk setiap penanamannya. sehingga dapat ditanam secara berulang-ulang dan tidak menyebabkan ketergantungan petani. Pertumbuhan tanaman merupakan salah satu indikator pengukuran tingkat kesesuaian varietas dengan karakteristik spesifik lokasi suatu wilayah, pertumbuhan tanaman yang baik serta sesuai dengan sifat dan karakter dari suatu varietas menunjukkan indikasi bahwa varietas tersebut mampu beradaptasi dengan karakteristik suatu wilayah tertentu, demikian juga sebaliknya jika pertumbuhan tanaman terhambat dan tidak sesuai dengan sifat dan karakter dari varietas tersebut mengindikasikan bahwa varietas tersebut kurang memiliki daya adptasi yang baik sehingga varietas tersebut kurang sesuai untuk dikembangkan di wilayah tersebut. Sebagai alternatif pilihan bagi petani untukmengganti jagung lokal dan jagung komposit dengan produktivitas rendah, maka perlu diperkenalkan jagung komposit varietas Lamuru dan Sukamaraga. Varietas Lamuru cocok untuk kondisi lingkungan spesifik kering, sedangkan Sukmaraga pada kondisi masam. Varietas Sukamaraga mempunyai umur masak fisiologis 105 – 110 hari, cukup tahan terhadap penyakit bulai, penyakit bercak daun, dan mempunyai potensi hasil 8,50 ton/ha pipilan kering. Sedangkan varietas Lamuru mempunyai sifat cukup tahan terhadap penyakit bulai dan karat, mempunyai umur masak fisiologis 90-95 hari, rata-rata hasil 5,6 ton/ha pipilan kering sedangkan potensi hasilnya 7,6 ton/ha pipilan kering Pengkajian yang dilakukan oleh Sukma (2018) di desa Pagendingan Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan, membandingkan pertumbuhan varietas tanaman jagung komposit (Sukmaraga dan Lamuru) dengan jagung hibrida (Bisi 816 dan Pioneer 21). Pada pelaksanaannya, semua tanaman diberi pupuk NPK, Urea, dan pupuk organik. Jarak tanam yang digunakan yaitu 75 x 25 cm dan setiap lubang diisi dengan 1 benh. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa terhadap varietas jagung hibrida Bisi 816, varietas jagung Sukmaraga dan Lamuru menunjukkan hasil yang lebih tinggi. Terhadap varietas jagung hibrida Pioneer 21, varietas jagung Sukmaraga dan Lamuru menunjukkan hasil yang lebih rendah. Berikut perbandingan produktivtas masing-masing varietas jagung sukmaraga : Lamuru : Bisi 816 : dan Pioneer 21 yaitu: 9,77 t/ha : 8,11 t/ha : 7,70 t/ha : 10,78 t/ha (Ahmad Damiri). Sumber: Sukma KPW. 2018. Pertumbuhan Dan Produksi Jagung Lokal, Hibrida dan Komposit di Pamekasan Madura. AGROSAINS. 4(2): 34 – 38.